Jumat, 22 Nov 2019
radarbojonegoro
icon featured
Lamongan
Perahu Kuno Segera Diangkat

Pastikan Bernilai Sejarah

11 Oktober 2019, 12: 00: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

MASIH KESULITAN MENGANGKAT: Anggota tim dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan, Mojokerto, mencoba melakukan penyelamatan untuk melihat detail perahu kuno.

MASIH KESULITAN MENGANGKAT: Anggota tim dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan, Mojokerto, mencoba melakukan penyelamatan untuk melihat detail perahu kuno. (ANJAR DWI PRADIPTA/JAWA POS RADAR LAMONGAN)

Share this      

LAMONGAN, Radar Lamongan – Moncong perahu yang terlihat di Bengawan Solo wilayah Desa Mertani, Kecamatan Karanggeneng dipastikan bernilai sejarah. Perahu selebar 1,5 meter dengan ketinggian 78 cm itu layak untuk diangkat, kemudian dilakukan penelitian lebih lanjut.

“Penemuan ini termasuk sejarah sesuai identifikasi sementara tim. Sehingga layak untuk diteliti lebih lanjut dengan mengangkatnya ke daratan,” ujar Arkeolog Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan, Mojokerto, Wicaksono Dwi Nugroho.

Identifikasi awal, lanjut dia, jenisnya perahu penumpang. Hal itu diperkuat dengan adanya pegangan yang masih baik di bagian dalam perahu.

Menurut dia, perahu tersebut diduga sebagai mobilisasi tentara masa penjajahan. Indikasinya, ada beberapa lubang bekas senjata mirip mortar, bukan peluru. Lubangnya berdiameter 15 - 20 cm dan jumlahnya juga banyak.

Berdasarkan hasil penyelaman, ada tiga perahu baja. Posisinya tumpang tindih. Satunya datar, sisanya miring.

Bentuknya segitiga, guritan lurus rata dan dibagian ujung meruncing. Panjangnya sekitar 4 meter.

Selain bentuk kapalnya berbeda dengan armada yang digunakan sekarang, perahu itu diperkirakan berusia ratusan tahun, masa penjajahan Belanda atau Jepang.

Ada beberapa dugaan terkait tenggelamnya perahu tersebut. Dugaan awal karena berlubang. Dugaan lainnya, sengaja ditenggelamkan karena posisinya di pinggir. “Kalau temuan lain belum ada, karena perlu ada kajian lagi,” ujarnya.

Moh. Amam, warga desa setempat, menuturkan, awalnya ada salah satu penambang pasir kesulitan sandar. Mereka kesulitan ke tepi karena merasakan ganjalan. Tujuh orang kemudian mengeruk wilayah pinggir bengawan itu. Ternyata ada moncong berbahan baja. Untuk memastikan, dilakukan penyelaman. Ternyata perahu kuno. Semula, dia mengira pomton. Namun, bentuknya segitiga, bukan kotak.

Sehingga selama sepuluh hari ditemukan, warga kesulitan evakuasi karena ukurannya cukup besar.

(bj/rka/yan/jar/min/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia