Kamis, 23 Jan 2020
radarbojonegoro
icon featured
Lamongan
Disperindag Tahun Depan Batasi Peredaran

Minyak Curah Tidak Mudah Susut

10 Oktober 2019, 13: 30: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

LEBIH MURAH: Pedagang di Pasar Sidoharjo, Lamongan, memasukkan minyak curah ke botol kemasan.

LEBIH MURAH: Pedagang di Pasar Sidoharjo, Lamongan, memasukkan minyak curah ke botol kemasan. (RIKA RATMAWATI/JAWA POS RADAR LAMONGAN)

Share this      

LAMONGAN, Radar Lamongan - Peredaran minyak curah di Lamongan dibatasi. Pertimbangannya, memberikan perlindungan konsumen.

“Bukan ditarik sepenuhnya, kita batasi supaya perlahan konsumen beralih ke kemasan,” ujar Kepala Disperindag Lamongan, M. Zamroni.

Menurut dia, aturan wajib menggunakan minyak kemasan sudah ada di Permendag Tahun 2014. Namun, penerapannya tidak mutlak karena konsumen minyak curah masih banyak. Mulai tahun depan, penggunaan minyak curah dibatasi dan dipantau peredarannya.

Zamroni menjelaskan, minyak goreng curah diproduksi produsen turunan dari crude palm oil (CPO) yang melewati proses refining, bleaching, dan deodorizing (RBD) di pabrikan. Namun, proses pendistribusiannya menggunakan tangki yang dituangkan ke drum-drum pasar. Higienitasnya dan kandungan gizinya dinilai berkurang. 

Selain itu, ada oknum yang bertindak curang dengan mencampur minyak jelantah. Karena itu, pemerintah menyarankan untuk menggunakan minyak kemasan. Aturannya, harga ecer tertinggi (HET) minyak ukuran satu liter Rp 11 ribu. Namun, ada penjual yang menjual Rp 900 ml dengan harga sama. “Kalau ditemukan seperti itu, konsumen harus cerdas sebab harga ditawarkan juga bermacam, meski ada HET nya,” ujarnya.

Salah satu pedagang di Pasar Sidoharjo, Zumaroh, mengatakan, sebagian besar konsumen minyak goreng curah pedagang makanan. Mereka memilih jenis tersebut karena murah, Rp 10 ribu satu liter. Selain itu, takarannya sesuai karena ditimbang di depan pembeli.

Dia bisa menjual sekitar 100 liter selama sepekan. Menurut Zumaroh, minyak curah ada nomornya. Kalau nomor satu, kualitas super warnanya cerah dan tidak meletus saat dipanasi. Berbeda dengan nomor dua atau tiga. Perbedaan nomor itu diketahui melalui warna.

Dia hanya menerima jadi, tidak tahu proses pengolahannya. Jika dibatasi, maka Zumaroh menilai tidak berdampak. Alasannya, pedagang pasar sudah menyediakan minyak kemasan. “Kemungkinan yang merasa dampaknya pedagang yang jual  makanan matang,” tuturnya.

Salah satu penjual gorengan, Sumirah, mengaku masih menggunakan minyak goreng curah. Alasannya, harganya terjangkau dan tidak mudah susut saat digunakan menggoreng.

Menurut dia, minyak kemasan itu mudah susut. Misalnya untuk satu kali jual, hanya butuh 1,5 liter minyak curah. Kalau menggunakan minyak kemasan bisa 2 liter.  Karena itu, dia masih mengoplos minyak kemasan dan curah. “Biasanya saya oplos, karena harga minyak kemasan juga mahal. Kadang takarannya juga tidak sesuai,” katanya.

(bj/rka/yan/min/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia