Minggu, 20 Oct 2019
radarbojonegoro
icon featured
Tuban
Diatur Perda, Tak Mempan

Kos Campur Masih Bebas di Tuban

09 Oktober 2019, 14: 00: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

RAZIA: Petugas saat mengobok-obok sejumlah rumah kos dan menjaring belasan penghuni kos dengan pasangan tak resminya.

RAZIA: Petugas saat mengobok-obok sejumlah rumah kos dan menjaring belasan penghuni kos dengan pasangan tak resminya. (YUDHA SATRIA ADITAMA/JAWA POS RADAR TUBAN)

Share this      

TUBAN, Radar Tuban - Kasus video mesum pelajar di sebuah rumah kos di Kelurahan Latsari, Kecamatan Tuban seharusnya jadi pelajaran untuk memperketat aturan rumah kos. Selama ini, penindakan baru sebatas pembinaan pasangan bukan suami-istri yang tepergok sekamar. Belum menyentuh pemilik kosnya. Padahal, sudah ada payung hukum yang mengatur.

Larangan kos campur antara pria dan wanita sebenarnya sudah diatur dalam Peraturan Daerah (Perda) Tuban Nomor 21 Tahun 2016. Pada pasal 10 ayat 1 perda tersebut disebutkan, pemilik kos dilarang menerima tamu lawan jenis yang bukan keluarga di dalam kamar. Jika terbukti melanggar, pemilik kos bisa dijatuhi sanksi berupa pencabutan izin dan larangan menjadikan bangunan tersebut sebagai rumah kos sampai kembali diberikan izin.

Dalam pasal yang sama, pemberian sanksi dilaksanakan oleh bupati atau pejabat yang ditunjuk. Namun, aturan tersebut seperti angin lalu. Terbukti, pelanggaran rumah kos campur di Tuban masih banyak. Longgarnya aturan tersebut  seringkali dimanfaatkan pasangan bukan suami istri, termasuk pelajar.

Salah satunya kasus video mesum pelajar berinsial AF yang dicabuli ED dan EK. Rumah kos tersebut merupakan milik CA, yang merupakan teman ED dan EK. Minimnya pengawasan pemilik rumah membuat kos tersebut bebas keluar masuk pasangan bukan suami-istri. Rata-rata kondisi yang sama juga terjadi di kos lain yang tanpa pengawasan pemilik kos. Diduga pemilik kos sengaja membebaskan aturan untuk mendongkrak nilai sewa kos.

Kepala Satpol PP Tuban Hery Muharwanti kepada Jawa Pos Radar Tuban mengatakan, rumah kos sudah diatur ketat dalam perda. Namun, diakuinya masih sering dilanggar pemilik kos untuk mendongkrak nilai tawar sewa kos. Sebagian bahkan terang-terangan ‘'menjual'’ fasilitas kamar kos campur dan bebas. ‘’Ketika (pemilik kos) dipanggil, mereka selalu beralasan tidak tahu kalau ada tamu lawan jenis dimasukkan ke kamar,'' ujar Hery.

Terkait masih banyaknya rumah kos campur antara pria dan wanita, Hery mengaku sudah memberi teguran kepada sejumlah pemilik kos tersebut. Jika masih terjadi pelanggaran di lapangan, dia meminta peran masyarakat untuk melaporkan. ‘’Selalu kami ingatkan, sudah ditegaskan satu kompleks kos dilarang campur laki-laki dan perempuan yang bukan suami istri,” tuturnya mengacu perda.

Catatan Jawa Pos Radar Tuban menyebut meski razia kos yang dilakukan petugas gabungan sering menjaring pasangan mesum bukan suami-istri, selama ini belum satu pun rumah kos di Tuban yang izin operasinya dicabut. Kos bebas minim pengawasan tersebut tersebar merata di kawasan kota. Mulai Kelurahan Latsari, Sidorejo, Karang, Gedongombo, Perbon, dan lainnya.

Bahkan, usai viral kasus video mesum siswa-siswi dua SMK di Tuban, tak membuat pelajar lain kapok. Tebukti, pada razia gabungan petugas Minggu (8/10) berhasil menjaring delapan pasangan diduga mesum. Salah satu di antaranya merupakan pelajar salah satu SMK di Tuban. Mereka tepergok berduaan dengan kekasihnya di rumah kos Kelurahan Mondokan, Kecamatan Tuban.

Menanggapi hal tersebut, mantan sekretaris Satpol PP Tuban itu berjanji lebih intens menggawasi rumah kos minim pengawasan tersebut. Bahkan beberapa kali razia, pihaknya menggandeng Polres Tuban. Tujuannya agar menindak tegas para pelanggar. Termasuk jika ada temuan pasangan selingkuh, pemakai narkoba, atau pembawa senjata tajam. ‘’Belajar dari kasus (video mesum pelajar) kemarin, rumah kos akan lebih kami perketat,” tegasnya.

(bj/yud/ds/yan/min/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia