Rabu, 11 Dec 2019
radarbojonegoro
icon featured
Features
Rendi.E.C, Atlet Petanque Andalan Bojonegoro

Jalani Keras dan Padatnya Jam Latihan

Oleh: MUHDANY Y. LAKSONO

06 Oktober 2019, 10: 30: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

ANDALAN: Rendi Eko Cahyono berpose dengan medali emas usai event Pra PON XX 2020 di Jakarta Agustus lalu.

ANDALAN: Rendi Eko Cahyono berpose dengan medali emas usai event Pra PON XX 2020 di Jakarta Agustus lalu. (Istimewa)

Share this      

SUDAH empat tahun Rendi Eko Cahyono berkecimpung di olahraga petanque. Belasan medali telah dikoleksinya. Kini,  Rendi berusaha mendapatkan tiket membela Jatim pada PON XX 2020.

Jumat (4/10) lalu, Jawa Pos Radar Bojonegoro mencoba menghubungi Rendi Eko Cahyono. Namun, pembicaraan tidak bisa dilakukan lama. Kemarin (5/10) siang,  dia bersedia diwawancarai. 

Rendi harus berlatih pagi. Dia menjalani pemusatan latihan daerah (puslatda) bersama tim petanque Jawa Timur di Gresik. Rendi merupakan satu-satunya atlet asal Kota Ledre ini yang menjalani seleksi.

Di puslatda, Rendi disiapkan untuk menghadapi PON XX 2020. Namun dia tidak otomatis terpilih.  Rendi  harus bersaing dengan tujuh atlet putra lainnya. Kuota atlet yang akan dikirimkan hanya empat putra dan empat putri.

Rendi dipanggil puslatda setelah berhasil menyabet medali emas pada nomor triple men saat Pra PON 2020 di Jakarta, Agustus lalu. Saat ini,  seleksinya  tahap akhir.

" Jadi ini sedang pemusatan latihan tahap lanjutan seleksi untuk PON 2020 mendatang," kata pria asal Desa Prambatan, Kecamatan Balen itu.

Mengikuti seleksi dalam tim petanque puslatda cukup ketat dan tak mudah. Dalam sebulan hanya ada dua hari waktu libur.  Itupun tidak sehari penuh. Masih ada jadwal latihan satu kali tatap muka.

Pada hari - hari biasa,  ada tiga kali tatap muka. Yakni pukul 07.00-11.00, 15.30-17.30, dan 19.30-22.00. Meski kerap dilanda kecapekan dan jenuh, Rendi tetap bersemangat. 

"Jadi sudah terbiasa dan harus dijalani. Sebab, ini penting bagi kesiapan kita," imbuh pria berusia 23 tahun itu.

Menurut Rendi, jadwal latihan yang padat patut dimaklumi. Sebab, petanque berbeda dengan olahraga lain. Setiap hari harus selalu latihan agar feeling dan akurasi melempar bola tetap optimal. 

"Libur latihan sehari saja feeling dan akurasinya bisa berkurang atau berbeda," tutur pria bergelar Sarjana Pendidikan Kepelatihan dan Olahraga Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu.

Saat puslatda awal,  Juni lalu, Rendi sempat menjalani latihan di Malaysia selama sebulan. Dia pun merasa beruntung dapat menimba ilmu. Kesempatan untuk meningkatkan kualitas diri bersama atlet internasional.

"Kebetulan sampai sekarang (di Gresik) kita masih join dengan tim petanque Malaysia SEA Games 2020," ujar pria kelahiran Mei 1996 itu.

Rendi berharap jerih payahnya ini membuahkan hasil. Yakni bisa lolos seleksi dan menjadi satu-satunya wakil atlet petanque Bojonegoro di PON XX 2020 mendatang. Tak hanya itu, dia pun menargetkan medali emas.

"Semoga bisa lolos, meraih medali dan membanggakan kota kelahiran," tutur alumni SMAN 4 Bojonegoro itu.

Tak lupa dia juga berharap juniornya di Kota Ledre tetap giat berlatih dan menempa diri. Sebab, kesempatan untuk menjadi atlet dan mendulang prestasi pada cabang olahraga ini masih terbuka lebar.

"Maka dari itu, saya memilih untuk terjun ke petanque. Sebelumnya saya tekun di bola voli," imbuhnya.

Rendi masih akan terus menjadi atlet petanque dan mengoleksi prestasi. Dia ingin menghabiskan masa muda produktifnya untuk kegiatan yang positif.

(bj/dny/yan/min/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia