Minggu, 20 Oct 2019
radarbojonegoro
icon featured
Features
Wasit Sepak Bola Berlisensi C1 Asal Babat

Kejar Lisensi sejak Sepuluh Tahun Lalu

Oleh: INDRA GUNAWAN

03 Oktober 2019, 14: 00: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

PERANGKAT PERTANDINGAN: Eko Nurcahyo (kanan) saat menjadi asisten wasit pada laga uji coba Persatu Tuban menjamu Madura United.

PERANGKAT PERTANDINGAN: Eko Nurcahyo (kanan) saat menjadi asisten wasit pada laga uji coba Persatu Tuban menjamu Madura United. (DOKUMENTASI EKO NURCAHYO FOR JAWA POS RADAR LAMONGAN)

Share this      

WASIT sepak bola berlisensi C nasional jumlahnya hanya hitungan jari di Lamongan. Salah satunya, Eko Nurcahyo. Wasit 30 tahun itu kini dipercaya memimpin sejumlah laga di kompetisi Liga 3.

Cuaca panas menyelimuti Desa Kebalanpelang, Kecamatan Babat, kemarin siang (2/10). Eko Nurcahyo berada di rumahnya. Wasit berlisensi C nasional itu meluangkan waktu bersama keluarga, di tengah jadwal padatnya memimpin pertandingan di kompetisi Liga 3.

‘’Awalnya diajak teman mengikuti kursus wasit. Dari situ saya merasakan kenyamanan menjadi wasit hingga sekarang,’’ tutur Eko kepada Jawa Pos Radar Lamongan.

Dia mengawali karir tidak sebagai pemain sepak bola. Jenjang pendidikannya di jurusan pendidikan olahraga UNESA Surabaya, membuat Eko memahami aturan dan regulasi sepak bola. Bapak dua anak itu mulai meraih lisensi wasit C3 di Malang pada 2009. Lisensi itu menjadi pijakan bagi Eko untuk memimpin pertandingan sepak bola di tingkat kabupaten.

‘’Sejak saat itu makin tertarik untuk mempelajari dunia perwasitan sepak bola,’’ tutur Eko.

Setelah matang memimpin pertandingan di tingkat kabupaten, Eko mendapatkan kesempatan untuk meng-upgrade ilmunya. Dia mengikuti kursus wasit C2 pada 2014. Eko lulus. Lisensi wasit C2 membuatnya mendapatkan jalan memimpin pertandingan di tingkat Provinsi Jatim.

‘’Dulu waktu pertama kali mengambil lisensi wasit masih mengajar di sekolah. Tapi sekarang lebih fokus kepada wasit saja,’’ imbuh wasit berpostur 168 sentimeter (cm) tersebut.

Ketekunan dan fokus terus ditanamkan pada diri Eko. Dirinya tak pernah pesimistis pada dunia yang digelutinya tersebut. Meski risiko sebagai pengadil lapangan tak kecil. Di Indonesia, wasit sering menjadi incaran kemarahan sebuah tim maupun suporter. Itu juga pernah dialami Eko. Dia menjadi bulan-bulanan kemarahan pada sejumlah pertandingan.

‘’Kalau mengalami hal itu ya sering Mas,’’ ujar alumnus MAN Lamongan tersebut.

Yang paling diingat Eko, ketika memimpin laga di Liga 3 antara PSSS Situbondo versus Persid Jember. Dia merasakan bagaimana besarnya tekanan pada laga tersebut. Terpenting baginya, bagaimana menyelamatkan diri ketika menghadapi situasi yang tak terkontrol dalam satu pertandingan.

Luapan emosi di satu pertandingan tak membuatnya kapok. Justru itu menjadi tantangan bagi Eko agar bisa memimpin seadil-adilnya dalam suatu pertandingan.

‘’Sampai sekarang masih menjadi wasit di Liga 3, terakhir kemarin menjadi perangkat pertandingan di Blitar,’’ jelasnya.

Tahun ini, Eko naik level satu strip. Januari lalu, Eko lulus kursus wasit dan mendapatkan lisensi wasit C1. Sama seperti harapan wasit pada umumnya, Eko memiliki keinginan untuk bisa memimpin pertandingan di kompetisi teratas Liga 1. Serta meng-upgrade lisensi di tingkat yang lebih tinggi.

(bj/ind/yan/min/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia