Rabu, 11 Dec 2019
radarbojonegoro
icon featured
Features
Mamadou-Mohamed, Duo Pemain Naturalisasi

Sadar Beban Mempertahankan Tim di Liga 2 Sangat Berat

Oleh: ZAKKI TAMAMI

02 Oktober 2019, 15: 00: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

NATURALISASI: Mamadou Lamarana Diallo (Kiri) dan Mohamed Lamina Fofana.

NATURALISASI: Mamadou Lamarana Diallo (Kiri) dan Mohamed Lamina Fofana. (ZAKKI TAMAMI/JAWA POS RADAR TUBAN)

Share this      

DIREKRUT paling terakhir dan langsung jadi andalan tim Persatu Tuban  untuk tetap bertahan di Liga 2 musim depan. Begitulah posisi striker Mamadou Lamarana Diallo, 28 dan center bek Mohamed Lamine Fofana, 34, di Laskar Ronggolawe.

Tak Sulit berkomunikasi dengan Mamadou Lamarana Diallo dan Mohamed Lamina Fofana. Dua pemain naturalisasi asal Republik Guinea, Afrika Barat itu bisa berkomunikasi dengan bahasa Indonesia. Hanya saja, aksen masih cedal. ''Silakan,'' kata  Mamadou, panggilan akrab  Mamadou Lamarana Diallo ketika ditemui Jawa Pos Radar Tuban di kosnya  Jalan Sunan Kudus kemarin (1/10) siang.

Siang itu,  Mamadou ditemui wartawan koran ini di teras kamar kosnya. Ikut nimbrung Mohamed, panggilan akrab Mohamed Lamina Fofana.

Setelah bergabung dengan Persatu, kedua pemain istimewa tersebut dipisahkan dengan pemain lain yang tinggal di mes Wisma Atlet, kompleks GOR Ranggajaya Anoraga Tuban.  Mamadou teken kontrak dengan Persatu 26 Agustus lalu. Sementara  Mohamed Lamina Fofana selang sebulan kemudian. Keduanya direkrut untuk mengamankan posisi Persatu pada putaran kedua Liga 2.

Sembari menyantap kudapan, Mamadou memulai obrolan seputar detik-detik menjelang dirinya mengeksekusi penalti saat timnya menjamu Persik Kediri di Stadion Bumi Wali, Senin (30/9).

Dituturkan dia, awalnya gelandang Obet Yulius yang berniat menendang dari titik putih. Namun, dia akhirnya memutuskan mengambil alih. Keputusan tersebut tidak lepas dari tanggung jawabnya sebagai pemegang ban kapten. ‘’Ya tegang, berdebar,’’ ucap dia dengan aksen bahasa Prancis.

Sebelum menendang,  pemain kelahiran 28 Agustus 1991 ini berusaha tetap tenang dan tak terpengaruh dengan protes dari tim tamu. Ketika pemain lawan mengerubungi wasit,  Mamadou memilih tetap berada di sekitar kotak penalti. Tatapan matanya fokus pada gawang. ''Saya yakin bisa mencetak gol,’’ ujarnya menggambarkan situasi batinnya ketika timnya belum leading gol.

Ya, beban Mamadou dan pemain lain cukup berat. Manajemen menarget harus meraih tiga poin agar peluang bertahan di Liga 2 musim depan tetap terjaga. Keyakinannya terbukti, tendangan penalti yang dilesakkan di kanan gawang berbuah gol.

Tiga kali dipercaya memegang ban kapten, Mamadou berusaha tampil maksimal dan memberikan kemampuan terbaiknya untuk tim kebanggaan masyarakat Tuban itu.

Mamadou masuk ke Indonesia dengan status pemain asing sejak 2010. Tim pertama yang merekrutnya PSS Sleman. Selain itu, dia berlabuh di PSM Makassar, Persela Lamongan, dan sejumlah tim lain di Indonesia. ‘’Saya baru naturalisasi sejak awal tahun ini,’’ ujar dia. Setelah berkewarganegaraan Indonesia, ber-KTP warga Depok, Jawa Barat. Dia memutuskan menjadi warga negara Indonesia (WNI) karena cinta dengan Indonesia. Terlebih, kekasihnya yang dinikahi pada 2014 adalah warga Semarang.

Ketika Persatu berjuang melawan Persik, Mohamed Lamine Fofana berada di bangku cadangan. Dia tidak masuk dalam starting eleven cedera otot paha kanannya belum sembuh total.

''Dari tepi lapangan, saya hanya bisa berdoa dan memberikan semangat,'' ujar dia. 

Pria kelahiran 34 tahun silam itu masuk ke Indonesia pada 2004  dan  langsung bergabung dengan PSDS Deli Serdang. Tim berikutnya yang pernah dibela PSMP Mojokerto. Pemain bertubuh jangkung itu juga pernah bermain di Bangladesh dan Thailand. ‘’Saya keluar-masuk Indonesia. Setelah naturalisasi, baru menetap di sini,’’ ujar dia. Dalam KTP, dia tercatat tinggal di Pasar Minggu, Jakarta Selatan setelah mempersunting wanita asal Jakarta.

(bj/zak/ds/yan/min/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia