Jumat, 22 Nov 2019
radarbojonegoro
icon featured
Hukum & Kriminal

Baru Kali Ini Ada Anak Jadi Pengedar Narkotika

02 Oktober 2019, 11: 00: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

Ilustrasi

Ilustrasi (AINUR OCHIEM/JAWA POS RADAR BOJONEGORO)

Share this      

LAMONGAN, Radar Lamongan – Hakim Pengadilan Negeri (PN) Lamongan, M Aunur Rofiq, tak henti-hentinya menasihati Dn, 16, setelah membacakan vonis hukuman kemarin (10/1). Dia mengaku baru kali ini di PN Lamongan menyidangkan anak yang tersandung perkara narkotika.

Biasanya, anak berhadapan dengan hukum karena pidana biasa seperti mencuri, penganiayaan, atau pelecehan. Anak yatim asal wilayah selatan Lamongan itu akhirnya divonis pidana penjara selama satu tahun di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Blitar.

Selain itu, hakim membebankan Dn mengikuti pelatihan kerja di Balai Latihan Kerja (BLK) Dinas Sosial Lamongan selama tiga bulan setelah bebas dari LPKA.

Vonis tersebut lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU), Dwi Darra Agustina, yakni pidana penjara selama satu tahun tiga bulan.

‘’Menyatakan anak Dn terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana pemufakatan jahat tanpa hak atau melawan hukum menjadi perantara dalam jual beli narkotika golongan I,’’ kata hakim.

Rofiq menjelaskan, putusan tersebut berdasarkan pertimbangan dari pihak Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas II Bojonegoro. Dengan harapan, setelah keluar dari penjara Dn insyaf. Di LPKA Blitar nanti, hakim juga meminta agar tamatan SD itu belajar berbagai macam keterampilan kerja. Supaya bisa membantu ibunya yang kini menjadi tulang punggung keluarga.

‘’Keluar dari sana kamu insyaf, tidak begini lagi. Sebentar lagi kamu dewasa, kalau main-main lagi dengan narkotika ancaman hukumannya minimal lima tahun dan maksimal hukuman mati. Narkotika musuh nomor satu negara,’’ jelasnya.

Rofiq menyayangkan Dn yang terjerumus dalam pusaran narkotika akibat salah pergaulan. Dia berkali-kali memperingatkan Dn untuk hati-hati dalam memilih teman agar tidak terpengaruh hal yang negatif. Hal itu terlihat dari pengakuannya yang pernah mengkonsumsi sabu sebanyak empat kali dan lengan kirinya yang penuh tato.

‘’Sejak kapan pakai tato ?,’’ tanya hakim.

‘’Lulus SD Pak,’’ jawab Dn sembari membetulkan kancing lengan bajunya.

Usai membacakan putusan itu, hakim memberi kesempatan bagi Dn untuk menanggapi. Dengan mantap, Dn menyatakan menerima. Meskipun proses hukum bagi Dn sudah berakhir, beberapa waktu ke depan dia akan dihadirkan lagi di PN Lamongan untuk menjadi saksi perkara narkotika rekannya Abdullah alias Ambon dan Iwan Pranoto alias Nawi.

Seperti diberitakan, Abdullah, 25, dan Dn, 16, diamankan di salah satu tempat pemakaman umum  (TPU) di Kecamatan Tikung. Dari pengembangan dua tersangka ini, diketahui sabu didapatkan dari Iwan Pranoto, 33, asal Desa Deket Agung, Kecamatan Sugio.

Kasatnarkoba Polres Lamongan, Iptu Khusen, menjelaskan, Abdullah bersama Dn ditangkap saat keduanya ingin menggunakan sabu - sabu bersama di TPU. Tempat tersebut sering digunakan transaksi dan pesta sabu. Tersangka mendapatkan upah Rp 100 ribu hingga Rp 300 ribu setiap penjualan sabu. 

‘’Selain mendapatkan upah, tersangka juga mengambil barang untuk digunakan sendiri sebelum diberikan kepada pemesan,'' jelasnya.

Barang bukti dari penangkapan Abdullah dan Dn berupa 0,43 gram sabu.

Abdullah di hadapan petugas mengatakan, dirinya sepuluh kali membeli sabu – sabu dari Iwan. Sekali pembelian, Rp 500 ribu hingga Rp 1,4 juta. Uangnya urunan bersama temannya.

‘’Setiap membeli patungan dengan Dn karena dipakai bersama – sama setelah bekerja. Biar semangat,’’ alasan pemilik odong – odong ini.

(bj/din/yan/ai/min/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia