Sabtu, 25 Jan 2020
radarbojonegoro
icon featured
Features
Elza Amelia F., yang Berkunjung ke Bangladesh

Melihat Minimnya Hak Perempuan di Camp Pengungsian Etnis Rohingya

Oleh: INDRA GUNAWAN

01 Oktober 2019, 13: 30: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

DAPAT PENGALAMAN: Elza Amelia Firdaus (kanan) saat bertemu banyak orang di Bangladesh.

DAPAT PENGALAMAN: Elza Amelia Firdaus (kanan) saat bertemu banyak orang di Bangladesh. (DOKUMENTASI ELZA AMELIA FIRDAUS FOR JAWA POS RADAR LAMONGAN)

Share this      

ELZA AMELIA Firdaus tertarik bergabung dengan non government organization (NGO) Girl Ambassador for Peace (GA4P) Regional Lamongan. Dirinya mendapatkan kesempatan berkunjung ke camp pengungsian etnis Rohingya di Bangladesh.

Elza Amelia Firdaus merasa beruntung menjadi bagian dari perjalanan singkat ke Bangladesh di awal bulan lalu. Bagi dia, menjadi perempuan tetaplah sebuah tantangan meski di zaman yang marak dengan tagline kesetaraan gender.

Elza merasakan banyaknya aturan dan birokasi. Bagi dia, terasa lebih ringan mengurus perizinan visa, dibandingkan melompat dari pagar aturan keluarganya. ‘’Saya harus menjelaskan dengan siapa saya pergi, berapa lama, untuk keperluan apa, dan lainnya. Untuk mengantongi izin ibunda karena saya seorang perempuan,’’ tutur perempuan asal Desa Kendal Kemlagi, Kecamatan Karanggeneng, tersebut.

Dia bersama rekan aktivis di Girl Ambassador for Peace (GA4P) Regional Lamongan terbang dari Surabaya (3/9). Elza transit di Jakarta dan bergabung bersama rekan sesama aktivis perempuan dan Poso. Dokter muda yang bekerja di salah satu rumah sakit swasta di Paciran itu kemudian berangkat menuju Singapura.

 ‘’Dari Singapura menuju Dhaka, ibukota Bangladesh malam harinya,’’ tutur perempuan berjilbab tersebut.

Pada hari pertama tiba, dia dan rekan-rekannya berkesempatan duduk bersama perempuan berpendidikan selevel dari mancanegara. Mereka menyuarakan youth/women peace and security.

Elza merasa kagum melihat akademisi, NGO, perwakilan PBB, dan aktivis hak perempuan berkumpul demi implementasi hak-hak perempuan yang tidak seberuntung mereka. ‘’Mungkin butuh beberapa dekade lagi agar implemetasi ini benar-benar membantu semua perempuan di desa saya,’’ ujarnya.

Diskusi penuh inspirasi tidak berhenti di situ. Elza kemudian mengejar penerbangan menuju sebuah daerah terpencil di Bangladesh, Cox’s Bazaar. Butuh waktu perjalanan satu jam dari Dhaka menuju kawasan konvervasi alam di sebuah pesisir Bangladesh tersebut.

Elza merasakan sensasi alam di kawasan yang terkenal dengan sebutan The Longest Beach in the world tersebut. Terhampar pantai yang sangat panjang dengan ombak yang besar bergulung-gulung. Sayangnya, hujan turun sepanjang hari. Akibatnya, Elza melakukan semua kegiatannya di indoor. ‘’Di Cox’s Bazaar saya serasa kembali merasakan wilayah perkampungan,’’ ceritanya.

Aktivitas di kawasan tersebut didominasi pria. Elza menuturkan, penduduk asli yang mayoritas 95 persen, muslim yang banyak memakai sarung, memanjangkan jenggot, dan berkopiah putih. Mayoritas masjid yang ada dipenuhi pria. Setelah bercengkerama dengan masyarakat sekitar, dia mengetahui bahwa budaya di sana tidak melazimkan perempuan datang ke masjid.

‘’Batasan-batasan terkait gender kembali saya temukan, bahkan mungkin sedikit lebih mengisolir pergerakan perempuan,’’ ujarnya.

Cerita lain dari Cox’s Bazaar yang membuat Elza lebih banyak belajar terkair kunjungannya ke camp pengungsi etnis Rohingya. Dia tidak bisa membayangkan bila berada pada posisi perempuan di sana. Di negara asalnya, Myanmar, mereka ditolak. Di negara tempat mengungsi pun serba kekurangan.

Dalam dua tahun, jumlah pengungsi bertambah akibat jumlah kelahiran bayi yang meningkat 100 bayi per tahun. Sementara banyak anak yang jatuh dalam kondisi gizi buruk karena suplai makanan tidak seimbang.

Enam ratus ribu warga etnis Rohingya mengungsi ke Bangladesh pada 2017. Kini jumlahnya sekitar 1,3 juta jiwa. Jumlah tersebut lebih tinggi dibanding jumlah warga asli di Cox’s Bazaar.

‘’Saya melihat perempuan tidak mendapat akses sedikitpun untuk berpendapat tentang perencanaan keluarga. Perempuan juga tidak punya akses di bidang perekonomian di sana,’’ ujarnya.

Elza menemukan fakta bahwa hak-hak perempuan lain pun terancam keamanannya. Banyak terjadi pemerkosaan akibat pintu-pintu tenda pengungsian yang tidak layak. Sehingga, para orang tua menganggap lebih aman menikahkan anak gadisnya di usia dini. Hal ini juga menyumbang peningkatan kelahiran bayi per hari.

Perempuan dianggap tidak punya hak menentukan kapan dia menikah. Di saat yang sama, kompetensi mereka dipertanyakan jika ingin terlibat dalam pengambilan keputusan yang besar dalam keluarga.

‘’Saya di sini melihat sendiri, bahkan di lingkungan muslim, perempuan dianggap lebih inferior dalam segala hal,’’ tukasnya.

Meski hanya enam hari di Bangladesh, Elza mendapatkan banyak pelajaran tentang hak - hak dasar perempuan yang masih dicederai. Hingga segala upaya untuk implementasi hukum-hukum PBB tentang perlindungan perempuan dan perempuan muda melalui UNSCR 1325 dan UNSCR 2250.

Elza pulang dari Bangladesh, 9 September lalu. Dia menyadari bahwa semua upaya ini upaya seumur hidup. Bahkan, upaya lintas generasi yang tidak pernah ada batasnya. Dirinya percaya upaya tentang kesetaraan gender beberapa dekade silamlah yang memudahkan dirinya dan teman-teman perempuannya bisa mengakses pendidikan hingga perguruan tinggi.

‘’Dan hal itulah yang akan terus kita perjuangkan bersama organisasi pemuda dengan misi yang sama untuk generasi mendatang,’’ tuturnya. (*/yan)

(bj/ind/yan/min/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia