Senin, 09 Dec 2019
radarbojonegoro
icon featured
Features
Eko Tarkinandar, Perajin Jati Belanda

Resign Kerja Migas, Pernah Rugi Puluhan Juta karena Kebakaran

Oleh: BHAGAS DANI PURWOKO

01 Oktober 2019, 11: 30: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

GIGIH: Jatuh bangun Eko Tarkinandar berbisnis bisa dijadikan inspirasi. Ia gigih meski sempat tertimpa musibah kebakaran.

GIGIH: Jatuh bangun Eko Tarkinandar berbisnis bisa dijadikan inspirasi. Ia gigih meski sempat tertimpa musibah kebakaran. (BHAGAS DANI PURWOKO/JAWA POS RADAR BOJONEGORO)

Share this      

TERJUN di dunia bisnis butuh keuletan dan niat kukuh. Eko Tarkinandar berani keluar dari pekerjaannya di dunia migas yang tergolong mapan. Tetapi, berbisnis adalah cita-citanya sejak kecil.

Tepat turun dari mobil di depan rumahnya, pria berambut lurus itu kaget ketika ada yang mengajaknya bersalaman. Ia menyambut hangat di teras kafenya di Jalan HOS Cokroaminoto.

Selain merintis kafe, Eko Tarkinandar menggeluti perajin jati belanda pada 2016. Bisa dibilang, Eko, sapaan akrabnya, merupakan pionir perajin jati belanda di Bojonegoro. “Dulu saya cari (jati belanda) di Bojonegoro nggak ada. Nganjuk maupun Kediri juga enggak ada, akhirnya menemukan di Sidoarjo,” jelasnya.

Eko menerangkan, bahwa jati belanda bukan kayu jati. Tapi, kayu pinus impor dari negara-negara empat musim. Karena berasal dari luar negeri, banyak orang selalu mengasosiasikan luar negeri itu belanda. Sehingga banyak orang mengenal dan menyebutnya jati belanda.

“Jati belanda itu lebih murah dibanding kayu jati asli atau kayu Kalimantan. Namun dari segi tampilan, serat kayunya juga bagus. Tidak murahan,” kata bapak dua anak itu.

Dibanding kekuatannya, jati belanda tentu kalah dengan kayu jati dan kayu Kalimantan. Sehingga, jati belanda lebih dijadikan furnitur interior rumah, kantor, toko, maupun kafe. Eko menggeluti dunia kayu belanda, hingga akhirnya memilih resign bekerja di sektor minyak dan gas bumi (migas) ke luar Jawa pada 2009-2015.

“Sekaligus kondisinya saat itu istri sedang hamil dan bapak ibu sedang sakit,” tuturnya,

Ia sempat didera masa-masa sulit. Pihak keluarga kurang mendukungnya. Pesimistis muncul karena bisnis kafe maupun kayu sering merugi. Tetapi Eko tetap bertahan dan optimistis. Menjadi perajin jati belanda hanya modal Rp 500 ribu dan lahan samping rumah mertuanya.

Karena saat itu uangnya tersedot modal buka kafe. Akhirnya, ia menggandeng salah satu temannya. Modalnya ditambah Rp 3 juta. Jadi, berawal dari total modal Rp 3,5 juta itu, kini omzetnya bisa ratusan juta per bulan.

Perjalanan merintis bisnis tak ada yang mudah. Ia awalnya garap sendiri tiap ada pesanan masuk. Bisnisnya makin berkembang dan merekrut 18 karyawan. Dia mengembangkan usahanya dengan mengombinasikan besi dan triplek HPL (high pressure laminate).

Saat bisnisnya mulai stabil, Eko pernah tertimpa musibah pada medio 2017. Gudang kayunya dilahap si jago merah. Kerugian diperkirakan Rp 70 juta. Banyak pesanan akhirnya tertunda karena hangus terbakar. Ia bangkit dengan meminta tolong para pemesannya mengirim uang dulu untuk beli alat dan bahan.

Nahasnya, selang empat bulan gudangnya hampir saja kebakaran lagi. Untungnya sebelum api membesar, ia mencium bau kayu terbakar. Ia tak ingin mengusut lebih jauh penyebab kebakaran. Hanya, menegaskan seluruh karyawannya lebih hati-hati apabila membuang puntung rokok.

Pesanan datang dari berbagai kota seputaran Jawa Timur seperti Malang dan Kediri. Lalu, Pati, Jawa Tengah; Padang, Sumatera Barat; bahkan hingga Papua. Paling banyak pesan meja kursi untuk interior. Tetapi kadang juga bikin kitchen set, meja bar, pigura.

Menurutnya, ketika hendak memulai bisnis harus pandai membaca peluang. Ia menyarankan tidak ikut-ikutan bisnis yang sudah ada. Lebih baik cari bisnis beda dan dicoba. Di dunia bisnis butuh keberanian dan terus belajar. Sehingga bisa beradaptasi dengan perkembangan zaman sekaligus pasar.

(bj/msu/rij/yan/min/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia