Senin, 27 Jan 2020
radarbojonegoro
icon featured
Lamongan
Debit Air Hanya Sampai Oktober

Bengawan Solo Mengering

30 September 2019, 11: 30: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

MENYUSUT TAJAM: Air Bengawan Solo menyusut tajam. Bahkan ada di beberapa lokasi bisa dilewati dengan jalan kaki karena dangkal.

MENYUSUT TAJAM: Air Bengawan Solo menyusut tajam. Bahkan ada di beberapa lokasi bisa dilewati dengan jalan kaki karena dangkal. (ANJAR DWI PRADIPTA/JAWA POS RADAR LAMONGAN)

Share this      

LAMONGAN, Radar Lamongan – Kondisi Bengawan Solo di Lamongan memprihatinkan. Airnya semakin mengering. Sungai yang menakutkan itu, karena sering menenggelamkan orang, kini bisa dilewati dengan jalan kaki saking dangkalnya. Bahkan diperkirakan hanya mampu menyuplai air irigasi sampai bulan depan saja. 

‘’Jika tidak segera hujan, dipastikan musim tanam pertama akan mundur dari prediksi. Berdasarkan prediksi BMKG musim hujan terjadi awal November. “Kalau awal sudah hujan, maka pertengahan petani sudah bisa melakukan tanam karena ketersediaan air cukup,” ujar Kabid Pemeliharaan dan Operasional Dinas PU Sumber Daya Air Lamongan Djadi.

Dia mengungkapkan, pantauan terakhirnya, persediaan air di bendung gerak (BG) Sembayat hanya tersisa 3 Juta meter kubek (M3). Kemudian BG Babat 16 juta M3, dan BG Bojonegoro 11 juta M3. Debit air tersebut hanya bisa digunakan sampai akhir Oktober mendatang. Sehingga, jika tidak segera hujan, kekeringan di Lamongan bisa meluas. ‘’Selama ini air Bengawan Solo sangat dibutuhkan saat kemarau. Khususnya wilayah di sekitarnya. Kalau sampai habis, tentu wilayah itu akan mengalami kekeringan (untuk kebutuhan sehari hari). Apalagi kondisi embung dan waduk juga sudah kering,’’ terangnya.

Meski begitu Djadi mengklaim, untuk pertanian sementara tidak terpengaruh. Sebab sebagian petani di wilayah bantaran Bengawan Solo sudah panen. Sehingga kebutuhan air untuk musim tanam sudah selesai.

Djadi mengatakan, kawasan yang selama ini bergantung pada air Bengawan Solo cukup banyak. Yakni wilayah Kecamatan Babat, Sekaran, Maduran, Laren, Karanggeneng, Kalitengah, Karangbinangun, Turi, Glagah, dan Deket. “Semuanya sudah memasuki musim panen. Sehingga menurunnya debit tidak terlalu berdampak,” klaimnya.

Menurut dia, sesuai prediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), awal hujan di Lamongan pada awal November. Sehingga petani bisa  memasuki musim tanam pertama pada pertengahan bulan itu. Dia berharap petani memperhatikan rencana tata tanam global (RTTG) yang diberikan Dinas PU Sumberdaya Air Lamongan. ‘’Supaya kebutuhan air di lapangan bisa dicukupi sesuai dengan permintaan,’’ tukasnya.

Sementara Sekretaris Dinas Tanaman Pangan Holtikultura dan Perkebunan Lamongan, Anton Sujarwo menambahkan, sesuai dengan RTTG, seharusnya petani hanya bisa melakukan tanam sebanyak dua kali. Sisanya palawija. Karena ketersediaan air memang kurang saat kemarau. “Dua kali tanam padi sudah cukup untuk persediaan beras di Lamongan karena selalu surplus hasilnya,” terang dia.

(bj/rka/yan/jar/feb/min/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia