Senin, 09 Dec 2019
radarbojonegoro
icon featured
Features
Puguh Agung D. P. Utomo, Peduli Anak Difabel

Angkat Tiga Anak, Dirikan Rumah Belajar Khusus Anak Difabel

Oleh: M. MAHFUDZ MUNTAHA

30 September 2019, 11: 00: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

SUKA ANAK-ANAK: Puguh (berbaju merah) bersama anak-anak didiknya.

SUKA ANAK-ANAK: Puguh (berbaju merah) bersama anak-anak didiknya. (M. MAHFUDZ MUNTAHA/JAWA POS RADAR BLORA)

Share this      

ANAK difabel Blora bagian selatan banyak tak mendapatkan akses pendidikan memadai. Puguh Agung Dwi Pambudi Utomo merasa terpanggil. Anggota polisi ini bersama rekannya mendirikan rumah belajar khusus anak difabel.

Wajah semringah terpancar dari wajah Puguh Agung Dwi Pambudi Utomo. Pria berambut cepak ini duduk santai usai mendapat penghargaan dari Kapolres Blora AKBP Antonius Anang saat tasyakuran HUT ke-64 Korps Lalu Lintas.  

Kepeduliannya pada anak difabel membuatnya dikagumi. Memiliki rumah belajar khusus anak difabel di tempat asalnya Kecamatan Randublatung. Ada 30 anak didik. Ada tunarungu, tunanetra, tunawicara, dan tunanetra.

’’Itu berdiri sudah sejak satu setengah tahun lalu,’’ ujar pehobi burung berkicau ini.

Menurut dia, rumah belajar didirikan bersama salah satu rekannya sesama pecinta burung. Kebetulan rekannya itu memiliki anak keterbatasan mental. Dari situ, sepakatlah membuka rumah belajar khusus anak difabel. Terutama masih dijumpai banyak anak difabel di wilayah Randublantung. Selain mental juga keterbatasan fisik. ’’Meski anak-anak ini sekolah, tapi tidak sesuai dengan kebutuhan mereka,’’ jelasnya.

Apalagi, di Randublatung tidak ada sekolah luar biasa (SLB). Sebaliknya, lokasinya jauh, di Kecamatan Jepon. Dan butuh biaya tambahan mengantar ke sekolah. ’’Anak-anak tidak mungkin dong sampai ke sana,’’ imbuhnya.

Rumah khusus anak difabel ini, kata Puguh, juga masih seadanya. Berada di rumah temannya. Jadi masih menggunakan rumah pribadi.

Di rumah itu, anak-anak belajar keterampilan. Sebab, sebagian anak-anak ini sudah belajar di sekolah formal di Randublatung. Tetapi ada yang tidak sekolah. ’’Saya mengajar seni rupa dan gambar. Kalau berinteraksi harus pakai gerakan-gerakan,’’ ucap pria tinggal di Kelurahan Jepon ini.

Puguh tidak sendiri. Dia dibantu teman dan guru yang siap menjadi relawan mengajar. Terkadang juga mendatangkan guru ajar dari Blora. ’’Karena anak-anak itu kan tidak dipungut biaya,’’ ucap pria bertugas di pelayanan SIM Satlantas Polres Blora.

Dia selalu menyempatkan ke rumah belajarnya. Setiap Sabtu dan Minggu. Puguh rela menempuh jarak 45 kilometer dari Blora sampai Randublatung untuk menyambangi rumah belajar ini. Meski begitu, dengan keterbatasan bukan berarti anak didiknya yang memiliki keterbatasan fisik itu hanya biasa-biasa saja. Baru-baru ini ada yang mendapat juara menggambar.

Puguh menceritakan, bukan tanpa halangan memulai mendirikan rumah belajar ini. Banyak tetangganya di Radublatung yang mengejeknya karena mengurusi pendirian rumah belajar untuk anak difabel.

Puguh begitu menyenangi dunia anak-anak. Bahkan sejak lama, dia sudah mengasuh anak-anak tidak mampu. Selain punya dua anak kandung, dia juga punya tiga anak angkat. ’’Dulu saya yang menyekolahkan dan mencarikan kerja,’’ imbuhnya.

Kini, Puguh hanya memiliki satu anak angkat. ’’Memang sejak dulu saya suka anak-anak,’’ ucapnya dengan santai. (*/rij)

(bj/fud/rij/yan/min/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia