alexametrics
Sabtu, 04 Apr 2020
radarbojonegoro
Home > Lamongan
icon featured
Lamongan

Puncak Pembelian Tembakau Berakhir

29 September 2019, 14: 00: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

HARGA MULAI TURUN: Petani mengeringkan tembakau hasil panennya.

HARGA MULAI TURUN: Petani mengeringkan tembakau hasil panennya. (ANJAR DWI PRADIPTA/JAWA POS RADAR LAMONGAN)

Share this      

LAMONGAN, Radar Lamongan - Harga tembakau rajangan di tingkat petani anjlok. Awal Agustus, harga tembakau Virginia mencapai Rp 23 ribu per kilogram (kg). Sekarang, harganya turun menjadi maksimal Rp 20 ribu per kg.

‘’Padahal penerapan kenaikan cukai masih tahun depan, tapi pabrik sudah grogi membeli tembakau petani,” ujar Mudi, petani tembakau asal Kecamatan Modo.

Seperti diberitakan, ada isu  kenaikan cukai dari 23 persen menjadi 35 persen tahun depan. Menurut Mudi, tidak semua petani merasakan manisnya harga tembakau Agustus lalu. Sebab, sebagian petani terlambat tanam. Akibatnya, mereka baru melakukan petik pertama awal September ini.

Apesnya, dalam satu minggu ini harga tembakau terus turun. Jika menunda panen, maka tidak mungkin. Sebab, usia tembakau sudah layak petik. Mudi berharap ada perhatian pemerintah untuk mengomunikasikan dengan pabrik. “Kebutuhan pabrik sebenarnya tinggi, dan produksi petani juga tumbuh,” tuturnya.

Menurut Mudi, secara kebutuhan sudah disampaikan di awal oleh pabrik. Djarum membutuhkan sekitar 5 ribu ton dan  Bentoel 1.500 ton. Sedangkan mitra pabrikan Sampoerna tidak secara ditel mengatakan kebutuhannya. Biasanya, pabrik membeli sesuai dengan kualitas tembakau petani.

Mudi menjelaskan, saat ini petani wilayah Modo dan Bluluk memasuki petikan tengah. Tahun lalu, petikan itu harganya tinggi.

Kasi Perkebunan Dinas Tanaman Pangan Holtikultura dan Perkebunan Lamongan, Suryo, menuturkan, serapan pabrik dimulai sejak awal Agustus. Jika harga sekarang turun, maka itu karena pembelian pabrik sudah cukup. Dia mengklaim harga masih sesuai kualitas tembakau petani. BEP petani Rp 15 ribu.

Menurut Suryo, jika ada petani yang belum panen, maka dia memastikan hanya sedikit jumlahnya. Mereka terlambat karena sebelumnya melakukan tanam padi. “Puncak pembelian pertengahan September, setelah itu pasti turun,” ujarnya.

(bj/rka/yan/jar/min/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia