Selasa, 10 Dec 2019
radarbojonegoro
icon featured
Bojonegoro

Batasi Gawai, Utamakan Sosialisasi

29 September 2019, 12: 00: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

TAK PEDULI LINGKUNGAN: Kondisi antarpersonal di sebuah warung di Desa Ngadirejo, Kecamatan Rengel (28/9). Meski saling kenal, mereka sibuk dengan ponselnya sendiri.

TAK PEDULI LINGKUNGAN: Kondisi antarpersonal di sebuah warung di Desa Ngadirejo, Kecamatan Rengel (28/9). Meski saling kenal, mereka sibuk dengan ponselnya sendiri. (M. NURCHOLISH/JAWA POS RADAR BOJONEGORO)

Share this      

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Penggunaan gawai secara umum berdampak serius pada lingkungan sosial, khususnya lingkup keluarga. Dalam banyak kasus, kecanggihan teknologi informasi tersebut mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat.

Kepala Seksi (Kasi) Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) Bojonegoro Suharto mengatakan, saat ini keluarga dihadapkan pada perubahan lingkungan yang sangat cepat dan beragam. Mengacu Keputusan Presiden RI Nomor 39 Tahun 2014 tentang Hari Keluarga Nasional, keluarga memiliki peran penting membangun bangsa.

‘’Karena keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama dalam menanamkan karakter dan membentuk kepribadian anak,’’ kata dia.

Suharto menerangkan, dampak revolusi industri 4.0 dan kecanggihan teknologi informasi menyebabkan kualitas berkumpulnya antaranggota keluarga terabaikan. Bukan hanya itu. Kesenjangan komunikasi orang tua dan anak semakin meningkat karena terbatasnya waktu. Apalagi, dapat membuat keluarga kurang peduli terhadap kejadian di lingkungan sekitar.

Menurutnya, tidak bisa dimungkiri budaya gotong royong di lingkungan masyarakat mulai luntur. Karena itu, keluarga dituntut cepat beradaptasi terhadap perubahan global yang sangat cepat.

Terpisah, Widiastuti salah satu ibu rumah tangga asal Desa Ledok Kulon, Kecamatan Kota ini mengatakan, miris melihat adab bertamu saat ini. Dia mengaku sering mendapati tamu yang berkunjung ke rumah teman atau kerabatnya, tetap fokus pada gawai.

Menurutnya, adab bertamu berbeda jauh sebelum teknologi canggih itu merajalela. ‘’Dulu, orang bertamu pasti konsentrasi berbicara dengan lawan. Tidak seperti sekarang. Kadang mulut berbicara, namun mata dan tangan sibuk menatap layar ponsel,’’ kata ibu dua anak itu.

Alumni SMA 1 Bojonegoro itu mengatakan, tidak berbeda dengan anaknya yang kerja di Surabaya. Ketika mengunjunginya, bukannya menghabiskan waktu bersama keluarga, namun sibuk dengan gawainya.

‘’Kadang ya ikut kumpul, tapi masih sibuk sendiri,’’ ucap perempuan berjilbab itu.

Menurutnya, pembatasan penggunaan gawai tergantung kebijakan setiap keluarga. Jika orang tua menerapkan disiplin, bisa menambah kualitas berkumpul dengan keluarga. Diakuinya,  perlu pembiasaan dari kecil jika ingin menerapkan perilaku disiplin. Karena semakin bertambah umur, anak lebih sering bergaul dengan lingkungan dan membawa kebiasaan luar ke dalam rumah.

(bj/cs /ds/yan/cho/min/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia