Sabtu, 25 Jan 2020
radarbojonegoro
icon featured
Features
Lulusan Terbaik Penelitian Orang dengan HIV

Sebelumnya Dikirim ke Filipina, Kini Bersiap ke Jepang

Oleh: BHAGAS DANI PURWOKO

27 September 2019, 13: 30: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

SERIUS: Shinta mampu menunjukkan kualitas akademiknya. Dia magang di berbagai kampus internasional.

SERIUS: Shinta mampu menunjukkan kualitas akademiknya. Dia magang di berbagai kampus internasional. (DOKUMENTASI PRIBADI FOR JAWA POS RADAR BOJONEGORO)

Share this      

PENUH kesederhanaan. Namun semangat belajar tak pernah berhenti. Shinta Adi Septianingrum meraih lulusan terbaik, dan mempersiapkan magang di Jepang.

Sosok yang fokus dan konsisten ketika mendengar perjalanan hidup Shinta Adi Septianingrum. Meski usianya baru 22 tahun, namun semangat belajarnya menjadi inspirasi pemuda lainnya hingga menjadi lulusan terbaik D-3 keperawatan.

Dara disapa Shinta itu dilahirkan bukan dari keluarga kaya. Hanya, keluarga sangat sederhana. Ayahnya buruh mebel dan ibunya hanyalah ibu rumah tangga (IRT). Ditemui di kampusnya Akademi Kesehatan (Akes) Rajekwesi Bojonegoro, Shinta kemarin (26/9) siang mengurus beberapa administrasi.

Wisudawan dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3.50 itu bersyukur memiliki orang tua yang mendukung semua kegiatannya meski dengan biaya kuliah tak murah. Belum lagi jarak rumahnya dengan kampus lumayan jauh. Sekitar 45 kilometer. Atau jarak tempuhnya sekitar 1,5 jam. Sehingga mengharuskan Shinta ngekos di dekat kampus.

Shinta mengungkapkan, segala prestasi yang ia dapat semasa kuliah selalu jadi kejutan bagi bapak ibunya. Tidak cerita terlebih dahulu kepada orang tuanya. Bahkan, saat Shinta dipanggil ke depan sebagai lulusan terbaik, tangis bahagia bapak ibunya langsung pecah.

Sebelumnya, saat Shinta terpilih menjadi perwakilan pertukaran mahasiswa di Filipina pada 2017 lalu pun bapak ibunya tahu belakangan. “Ketika sudah terpilih jadi perwakilan pertukaran mahasiswa itu saya pulang ke rumah tiba-tiba minta akta kelahiran untuk buat paspor. Ibu kaget ketika saya akan pergi ke Filipina,” ucapnya dengan senyum.

Kejutan-kejutan kecil itulah yang ingin selalu ia berikan kepada orang tuanya. Tak elok rasanya kalau hanya bisa jadi anak yang merepotkan. Bahkan, sejak duduk di bangku sekolah, ia tak pernah neko-neko minta hadiah ketika berhasil meraih juara satu.

Dia hanya minta hadiah berupa diajak pergi main ke rumah kakek-neneknya. “Kalau SD minta diajak main, terus kalau SMP minta dibelikan pulsa Rp 10 ribu, udah itu aja,” ujar anak sulung dari dua bersaudara pasangan Gunadi dan Harlik itu.

Perjalanan Shinta tak semulus yang dibayangkan. Pas semester awal kuliah, ia terkena musibah kecelakaan motor. Paha kanannya fraktur sehingga mengharuskannya bed rest selama tiga bulan. Akhirnya ia belajar di rumah karena takut ketinggalan banyak mata kuliah. Semester satu masa-masa sulitnya. Namun semester dua hingga enam (akhir) IPK-nya selalu tertinggi.

Selama dua minggu di Filipina, Shinta mendapat banyak pengalaman dan wawasan baru. Di antaranya basic life support, stroke management, dan wound care and infection management. Shinta menerima pelatihan di Centro Escolar University (CEU) dan Manila Central University (MCU). Ia tak sendirian, ia bersama 40 mahasiswa keperawatan lainnya se-Indonesia.

“Di Filipina juga didampingi oleh Institute for Continuing Career Advancement (ICCA) dan Community Health Education Emergency Rescue Service (CHEERS), lalu praktik juga di San Lazaro Hospital,” terangnya.

Sepulangnya dari Filipina, Shinta mulai disibukkan berbagai magang di rumah sakit. Selama magang, Shinta sering menemui orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Sehingga, tugas akhirnya pun mengupas seputar hubungan dukungan keluarga dengan kualitas hidup ODHA.

Penelitiannya memperoleh 72 responden. Banyak cerita yang ia dapat. Juga merasa sedih stigma terhadap ODHA hingga kini tak kunjung luntur. “Padahal dukungan dari keluarga dan teman dekatlah yang membuat para ODHA itu memiliki semangat hidup,” kata dara yang sebelumnya bercita-cita menjadi dokter.

Karena itu, ketika ia menjadi perawat juga akan selalu memberikan dukungan penuh kepada para ODHA agar tetap rutin minum obat antiretroviral (ARV). Ia kabarkan hal-hal optimistis kepada orang-orang terdekatnya agar jangan lagi mengucilkan ODHA.

Sementara itu, Shinta juga proses pelatihan bahasa Jepang. Karena sejak semester empat lalu, ia masuk kelas internasional Jepang di kampusnya. Pelatihannya sekitar tiga bulan di Tulungagung. Ia dikirim magang di salah satu rumah sakit di Jepang selama tiga tahun.

“Targetnya sekarang magang di Jepang. Setelah itu kalau ada kesempatan tentu lanjut kuliah S-1 dan S-2,” ujar mahasiswi menekuni ilmu keperawatan itu.

(bj/gas/rij/yan/min/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia