Jumat, 22 Nov 2019
radarbojonegoro
icon featured
Peristiwa
Kejadian Meningkat Cuaca Ekstrem, Suhu 32-36

Wow, Sudah Terjadi 122 Kebakaran

23 September 2019, 11: 00: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

WASPADA: Petugas damkar menyemprotkan air saat pemadaman kebakaran di Desa Deru, Kecamatan Sumberrejo.

WASPADA: Petugas damkar menyemprotkan air saat pemadaman kebakaran di Desa Deru, Kecamatan Sumberrejo. (BHAGAS DANI PURWOKO/JAWA POS RADAR BOJONEGORO)

Share this      

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro - Armada pemadam kebakaran harus siaga penuh selama kemarau ini. Hingga September 2019, terjadi peristiwa kebakaran 122 kali. Jumlah tersebut meningkat jika dibanding 2018, sebanyak 116 kebakaran.

Cuaca ekstrem dan suhu sehari-hari di Bojonegoro rerata 32-36 derajat Celsius harus diantisipasi agar tidak terjadi kebakaran. “Kenaikan jumlah kejadian kebakaran tahun ini dibanding tahun lalu karena dipengaruhi cuaca kemarau cukup ekstrem,” tutur Kepala Bidang (Kabid) Pemadaman Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Bojonegoro Sukirno.

Ia menerangkan, peningkatan kejadian kebakaran saat musim kemarau dimulai sejak Juli lalu. Selama Juli, telah terjadi 24 kali kebakaran. Lalu Agustus 26 kali, dan per 19 September, sebanyak 30 kali.

Kali terakhir kebakaran terjadi di Dusun Deru Timur, Desa Deru, Kecamatan Sumberrejo, Sabtu (21/9) pagi. Kebakaran menghanguskan dapur rumah milik Sarji, 54. Diduga kebakaran berasal dari regulator elpiji bocor. Sehingga apinya membesar dan membakar dapur milik korban.

“Tidak ada korban jiwa maupun korban luka-luka. Namun akibat kebakaran, korban diperkirakan menderita kerugian material mencapai Rp 32 juta,” beber dia.

Sukirno mengimbau agar masyarakat tetap waspada selama musim kemarau. Ketika ada sumber api, rambatannya lebih cepat. Selain itu, apabila mengetahui ada elpiji bocor, sebaiknya segera dibawa keluar rumah. Kewaspadaan juga perlu ditingkatkan ketika membakar sampah. Pastikan sampah yang dibakar benar-benar mati agar tidak merambat lebih parah lagi.

Sementara itu, Kepala Seksi (Kasi) Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro Eko Susanto juga membenarkan, bahwa cuaca kemarau tahun ini lebih ekstrem dibanding tahun lalu. Suhu sehari-hari di Bojonegoro rata-rata 32-36 derajat Celsius.

Karena itu, pihaknya terus berkoordinasi dengan seluruh stakeholder untuk pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). “Sejauh ini terpantau aman. Kami terus lakukan pencegahan karhutla bersama polres, Perhutani, damkar, dan stakeholder lainnya,” jelasnya.

Ia menambahkan, bahwa prediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), musim hujan di wilayah Bojonegoro sekitar minggu kedua Oktober. Tetapi, diperkirakan musim hujannya belum merata, sekitar 62 persen. “Kemungkinan musim hujan merata akhir Oktober,” katanya.

Kapolres Bojonegoro AKBP Ary Fadli telah melakukan rapat koordinasi (rakor) pencegahan dan penanggulangan karhutla bersama dengan instansi. Rakor ini menyamakan persepsi dan langkah penanganan dan pengendalian karhutla.

“Penanggulangan karhutla merupakan tanggung jawab bersama dari seluruh stakeholder,” ujar perwira kelahiran Kupang, Nusa Tenggara Timur itu.

(bj/gas/rij/yan/min/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia