Rabu, 29 Jan 2020
radarbojonegoro
icon featured
Bojonegoro

Air Bengawan Solo Keruh, Lebihi Baku Mutu

19 September 2019, 10: 30: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

MENGHITAM: Kondisi air Bengawan Solo di Bojonegoro tampak keruh menghitam akibat pencemaran.

MENGHITAM: Kondisi air Bengawan Solo di Bojonegoro tampak keruh menghitam akibat pencemaran. (M. NURCHOLISH/JAWA POS RADAR BOJONEGORO)

Share this      

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro - Kualitas air Sungai Bengawan Solo akhir-akhir ini mengalami penurunan. Hasil uji laboratorium yang dilakukan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bojonegoro, menunjukkan kualitas air yang melebihi baku mutu.

’’Kandungan BOD (biological oxygen demand/ oksigen terlarut untuk organisme), COD (chemical oxygen demand), dan minyaknya cukup tinggi,’’ ungkap Kepala DLH Nurul Azizah kemarin (19/8).

Hasil uji laboratorium terakhir adalah Mei lalu. Sedangkan, uji laboratorium yang dilakukan bulan ini masih belum keluar. Hasilnya diperkirakan lebih parah. Sebab, Mei lalu saja sudah melebihi. Saat ini dengan kondisi kemarau panjang kualitas air akan semakin menurun.

’’Bisa jadi memang lebih tinggi kandungan COD dan BOD-nya,’’ ujar perempuan yang sebelumnya menjabat Camat Kalitidu itu.

Nurul menjelaskan, kondisi itu karena pencemaran di bantaran sungai. Berdasarkan uji laboratorium, pencemaran itu terjadi akibat limbah tekstil. Limbah itu tidak berasal dari Bojonegoro. Tapi, luar daerah. ’’Dari hulu. Kalau Bojonegoro tidak ada limbah tekstil yang dibuang ke bengawan,’’ terangnya.

Hal itu membuat kondisi air Bengawan Solo menjadi keruh dan kehitaman. Sehingga, tidak layak untuk dikonsumsi. ’’Air bengawan ini masuk kategori kelas tiga. Yakni, untuk pertanian, peternakan, dan perikanan. Bukan untuk konsumsi langsung,’’ tegas kepala dinas tinggal di Desa Ngumpakdalem itu.

DLH, menurut Nurul, tidak merekomendasikan air Sungai Bengawan Solo untuk konsumsi. Sebab, kadar baku mutunya sudah melebihi ambang batas. Jika ingin dikonsumsi, harus dinetralisir terlebih dulu.

Saat kemarau, aliran Bengawan Solo sangat rendah. Bahkan, cenderung tenang. Hal itu membuat sampah mengendap di air.  Kondisi air juga selalu keruh saat musim kemarau. Selama ini belum ada penanganan. Penanganan tidak bisa dilakukan di Bojonegoro. Itu karena masalahnya ada di hulu.

’’Ke depan kami akan melakukan kerja sama penanganan masalah ini. Pengawasan bersama dengan kabupaten lain,’’ terang Nurul.

Kerja sama itu diperlukan segera. Sebab, masalah keruhnya air bengawan saat kemarau sudah berlangsung setiap tahun. Padahal, sungai lain jarang terjadi. ’’Sungai Brantas selalu jernih meskipun kemarau,’’ ujar dia.

(bj/zim/rij/yan/cho/min/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia