Kamis, 19 Sep 2019
radarbojonegoro
icon featured
Features
Merintis Budi Daya Jamur Tiram di Gayam

Keluar dari Perusahaan Otomotif, Pasarkan Jamur ke Pasar

Oleh: M. NURKOZIM

11 September 2019, 12: 00: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

BERWIRAUSAHA: Mifatahul Huda saat presentasi budi daya jamurnya di acara IPA Convex Jakarta Minggu lalu.

BERWIRAUSAHA: Mifatahul Huda saat presentasi budi daya jamurnya di acara IPA Convex Jakarta Minggu lalu. (MOCHAMAD NURKOZIM/JAWA POS RADAR BOJONEGORO)

Share this      

BUDI daya jamur tiram masih memiliki pangsa pasar yang bagus. Pemuda asal Kecamatan Gayam ini bisa meraup omzet hingga Rp 6 juta per bulan dari usaha itu.

Tampilannya necis. Memakai jas hitam. Rambutnya berminyak klimis. Gaya bicaranya meyakinkan. Puluhan orang di hadapannya antusias mendengarkan paparannya mengenai budi daya jamur. Mereka juga antusias bertanya seputar pembibitan.

Itulah Mifatahul Huda. Pemuda asal Desa Ngraho, Kecamatan Gayam, yang sukses usaha budi daya jamur tiram. Minggu lalu dia diundang di Jakarta di sebuah pameran perusahaan migas yang dilaksanakan Indonesian Petroleum Association (IPA).

’’Cara budi daya jamur ini cukup mudah. Yang penting telaten,’’ ujarnya saat presentasi.

Budi daya jamur tiram Huda ini berjalan. Sebulan dia bisa meraup omzet kisaran Rp 5 juta sampai Rp 6 juta. Jauh lebih besar dibanding gaji karyawan pabrik swasta di Bojonegoro.

Huda mengawali usaha budi daya jamur tiram pada 2016. Itu dia lakukan karena belum mendapatkan pekerjaan lagi. Sebab, kontrak kerjanya dengan perusahaan tempatnya bekeja sudah habis. ’’Tepat tiga bulan setelah kontrak kerja habis saya memulai usaha ini,’’ ujarnya dengan gaya santai.

Huda sebelumnya bekerja di sebuah perusahaan otomotif ternama di Jakarta. Gajinya cukup besar. Setelah tidak ada perpanjangan kontrak, Huda memutuskan berwirausaha. Pilihannya budi daya jamur. Sebab, pangsa pasar jamur masih luas. Pelakunya juga tidak banyak.

Dia melakukan otodidak. Tidak ada pengetahuan tentang budi daya jamur. Namun, dia banyak mencari informasi di internet. Itu banyak memberinya pengetahuan awal dalam memulai budi daya.

Dia mulai eksperimen. Awalnya, membeli 100 media tanam jamur atau yang biasa disebut baglog. Jamur mulai dia tanam. Ternyata uji coba berhasil. Jamur-jamur yang dia tanam itu tumbuh subur.

Huda memasarkan jamur-jamur itu sendiri. Ke toko, ke pasar, dan warung-warung. Itu dia lakukan selama enam bulan hingga 1 tahun pertama. ’’Cukup melelahkan. Tapi harus dijalani,’’ ujarnya.

Huda bergabung dengan salah satu komunitas bisnis. Yakni, Pusat Inkubasi Bisnis. Komunitas bisnis di wilayah Gayam ini dilatih mengembangkan usaha. Memproduksi hingga memasarkan produknya. ’’Dari situlah usaha budi daya ini mulai berkembang pesat,’’ ujar pria 24 tahun.

Dari pelatihan itu, Huda mendapatkan banyak pasar. Bahkan, dia juga tergabung dalam komunitas petani jamur. Kini, Huda bisa menghasilkan 20 kilogram (kg) jamur tiram per harinya. Huda kini juga tidak lagi memasarkan jamurnya sendiri. Sudah ada tengkulak yang mengambilnya. ’’Tengkulak sudah banyak yang mengambil. Kadang sampai kewalahan,’’ ujar pria asal Desa Ngraho ini.

Budi daya jamur bukan tidak ada risikonya. Huda kerap kali mengalami berbagai kendala. Musim kemarau seperti ini, produksi jamur tiram menurun drastis. Bahkan, hingga 50 persen. Kondisi itu hingga kini masih belum bisa diatasi. ’’Jamur itu butuh udara lembap. Kalau panas tidak jadi,’’ ungkap dia.

(bj/zim/rij/yan/min/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia