Kamis, 19 Sep 2019
radarbojonegoro
icon featured
Bojonegoro

UMKM Perlu Manajemen Keuangan

11 September 2019, 11: 31: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

USAHA MIKRO: Pekerja UMKM mengerjakan proses pembuatan rokok kretek di Desa Cangaan, Kecamatan Kanor.

USAHA MIKRO: Pekerja UMKM mengerjakan proses pembuatan rokok kretek di Desa Cangaan, Kecamatan Kanor. (M. NURCHOLISH/JAWA POS RADAR BOJONEGORO)

Share this      

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro - Manajemen keuangan ternyata diperlukan agar usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) mampu bertahan dan tumbuh. Sebab, modal yang tidak terkontrol bisa menyebabkan modal terhenti dan matinya pelaku UMKM.  

Desakan ini penting mengingat tahun ini berdasar data Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Bojonegoro, ada 290 UMKM baru. Perinciannya, 280 orang usaha menengah dan 10 orang usaha kecil.

Tahun lalu (2018) ada 78.506 UMKM di Kota Ledre. Sementara pada 2017 ada 78.114 UMKM. Meski pertumbuhan UMKM antara 2018 dan 2019 terbilang pesat, harus diimbangi sistem pemasaran agar tidak telantar.

Eny Fuji Lestari, salah satu pelaku UMKM pembuatan tas mengatakan, manajemen keuangan diperlukan agar pelaku UMKM terus ada dan produk berkelanjutan. Karena modal yang tidak terkontrol bisa menyebabkan produksi terhenti.

’’Matinya pelaku UMKM bukan hanya pada pemasaran saja. Kalau pemasaran mungkin sudah lebih mudah di era digital. Bisa secara online ataupun penjualan via pameran. Manajemen keuangan sangat diperlukan,’’ katanya kemarin (10/9).

Menurut dia, agar usaha terus bertumbuh, strategi pemasaran harus diikutsertakan. Dampak luar biasa ia rasakan karena mampu memunculkan ibu-ibu kreatif yang bisa berinovasi memenuhi kebutuhan pasar.

Hanya, ia berharap adanya campur tangan dari dinas terkait. ’’Saya sebagai pendatang, meski sudah tergabung dalam UMKM daerah merasa kurang tersentuh. Karena sering diajak kegiatan pameran atau sejenisnya adalah orang-orang yang sudah ada link atau mengenal baik dengan salah satu pengurus,’’ kata perempuan tinggal di Jalan Brigjen Sutoyo ini.

Terpisah, Adib Nurdiyanto, salah satu pengurus Forum IKM Jawa Timur mengatakan, bertambahnya perkembangan UMKM bisa disimpulkan adanya signifikasi antara kreativitas pelaku usaha dengan kebutuhan konsumen. ’’Jika semakin banyak UMKM lahir, bisa diindikasikan perkembangan teknologi pesat dan berdampak positif pada UMKM. Serta daya beli masyarakat semakin baik. Karena tidak mungkin UMKM terus bertambah jika daya beli semakin menurun,’’ ucap pria tinggal di Desa Mojodeso, Kecamatan Kapas ini.

Selain itu, bertambahnya UMKM dari adanya upaya para pelaku untuk mendapatkan penghasilan tambahan dengan usaha sendiri. Atau tanpa tergantung tersedianya lowongan kerja. ’’Atau sebaliknya. Menandakan lowongan kerja di perusahaan tidak banyak tersedia,’’ ungkap Adib, sapaan akrabnya.

Agar UMKM tetap stabil, menurut Adib, perlu memperhatikan legalitas usaha, penjaminan mutu produk oleh pelaku usaha, serta jenis produk dan desain kemasan unik. Tidak lepas dari branding kuat, dan pemanfaatan teknologi dalam pemasaran produk.

’’Poin penting, yaitu komunikasi, baik dengan konsumen, termasuk mau menerima saran dari konsumen,’’ jelasnya.

(bj/cs /rij/yan/min/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia