Kamis, 19 Sep 2019
radarbojonegoro
icon-featured
Features
Menggali Konsep DIY Jual Sandal Jepit 2-Habis

Bekas Lahan Tambang pun Menghidupi Masyarakat

Oleh: DWI SETIAWAN

10 September 2019, 19: 00: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

EKSOTIS: Pahatan tokoh pewayangan Werkudara  yang bertarung dengan buto ijo menghias salah satu dinding Tebing Breksi, Sleman, Jogjakarta.

EKSOTIS: Pahatan tokoh pewayangan Werkudara yang bertarung dengan buto ijo menghias salah satu dinding Tebing Breksi, Sleman, Jogjakarta. (DWI SETIAWAN/ JAWA POS RADAR TUBAN)

Share this      

TEBING Breksi yang dikunjungi pada hari terakhir Gathering Semen Indonesia (SI) di Jogjakarta, Jumat (6/9), secara geografis memiliki kesamaan dengan lahan tambang di Tuban.

Tempat wisata di selatan Candi Prambanan, Kabupaten Sleman ini sebelumnya adalah lahan tambang. Penambangnya adalah masyarakat sekitar. Bekas aktivitas tambang tersebut terlihat dari potongan batuan hingga ceruk di dinding dan dasar pegunungan.

Tantri, pramuwisata yang mendampingi Gathering SI mengatakan, pada 2014, kegiatan penambangan ditutup pemerintah. Pertimbangannya, berdasarkan hasil kajian ilmiah diketahui batuan yang ditambang merupakan batuan yang berasal dari aktivitas vulkanis gunung berapi purba Nglanggeran. Gunung yang pernah aktif sekitar ratusan tahun silam tersebut berada Gunung Kidul.

Bebatuan ini pun diputuskan harus dijaga karena memiliki nilai historis vulkanologis dan merupakan bagian dari geo heritage. Karena alasan itulah, maka penambangan di pegunungan ini dihentikan total. ''Pemberian nama Breksi mengacu kepada jenis struktur batuan di tebing ini,'' terang Tantri. Setelah ditutup, lanjut dia, area tambang ditetapkan sebagai kawasan yang dilindungi.
Jangan sebut Daerah Istimewa Yogjakarta (DIY) kalau tak mampu menjual setiap jengkal lahan di wilayahnya untuk wisata.

Di lahan eks tambang yang tandus tersebut, kelompok sadar wisata (pokdarwis) Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Sleman mencoba mencari konsep yang menjual. Karena sekarang ini era swafoto, pengelola eks tambang ini mendesain eksotis tebingnya. Salah satu sisi dinding tertinggi dipahat relief tokoh pewayangan Arjuna yang bertarung dengan buto ijo. Di sisi tebing lain dipahat memanjang binatang legenda naga. Selain pahatan di dinding, dibangun pula sebuah panggung terbuka lengkap dengan tempat duduk tribun yang mengelilingi. Panggung tersebut diberi nama Tlatar Seneng.

Bagian ceruk tebing didesain menjadi kolam. Untuk menaiki tebing setinggi kurang lebih 30 meter, pengunjung melewati tangga batu yang didesain indah.

Dari prasasti yang menempel di pintu masuk tertulis geowisata Breksi diresmikan Sri Sultan Hamengku Buwono X pada Mei 2015. Hanya terpaut setahun dari penutupan tambang.

Ketika masih menjadi area tambang, tebing Breksi hanya menghidup puluhan warga sekitar. Jumlah tersebut tak sebanding dengan kerusakan alam dan hancurnya geo heritage itu.

Setelah menjadi tempat wisata Tebing Breksi, kini ratusan keluarga bergantung dari tempat wisata ini. Mereka tidak hanya membuka usaha rumah makan, tapi juga menjual suvenir, pemandu wisata, sewa jeep, mengelola lahan parkir hingga sektor informal lain. ''Setelah menjadi tempat wisata, nilai lahan sepanjang menuju tempat wisata ini juga naik berlipat,'' ujar Tantri mengurai pemberdayaan masyarakat dari berdirinya tempat wisata di desanya. 

Tuban memiliki lahan tambang dan eks lahan tambang yang tersebar di wilayah Kecamatan Semanding, Grabagan, Merakurak, Palang, Rengel, dan Soko.

Tak hanya berbentuk bukit, namun juga  membentuk gua dan lorong. Kalau dikonsep serius menjadi tempat wisata, lahan tambang dan eks tambang tersebut tak kalah dengan Breksi. Karena pemerintah desa dan Perhutani di Tuban tidak memiliki teste wisata, lahan-lahan tersebut tak memiliki nilai lebih. Bahkan, sebagian besar ditelantarkan begitu juga tanpa reklamasi dan pemberdayaan.

Sampai kini baru satu titik eks tambang yang diberdayakan untuk destinasi wisata. Lokasinya di Desa Tuwiri Wetan, Kecamatan Merakurak. Destinasi wisata ini diberi nama Tebing Pelangi. Meski namanya tak setenar Tebing Breksi, tempat wisata ini mulai dikenal. Pengunjungnya juga lumayan banyak. Seharusnya, pemangku kepentingan di lahan tambang maupun eks lahan tambang bisa mengikuti jejak pengelola Tebing Breksi dan tidak sekadar jadi penonton.

Kabiro Humas & CSR Semen Indonesia Setiawan Prasetyo mengatakan, gathering yang digelar perusahaannya dengan mengunjungi sejumlah destinasi wisata di Jogjakarta yang memiliki geografis yang sama dengan Tuban, diharapkan memberikan nilai plus. Termasuk mengembangkan eks lahan tambang Semen Gresik di Tuban seluas kurang lebih 180 hektare (ha).

Belajar dari kesuksesan DIY dan daerah lain mengelola eks lahan tambang, kata Iwan, panggilan akrabnya, Semen Indonesia menjadikan sebagian lahan bekas tambangnya di Desa Tlogowaru, Kecamatan Merakurak sebagai Ecopark Kambangsemi.

Di Eco Park tersebut selain ditanami pohon pisang cavendish, juga akan ditanami pohon Alpukat plus didirikan kandang kambing. Nantinya lahan tersebut dijadikan ladang ekonomi masyarakat sekitar perusahaan. Teknisnya, masyarakat yang mengelola dan menikmati hasilnya. Sementara perusahaan hanya inisiasi dan melakukan pendampingan saja.

''Kita sesuaikan blue print,'' tegas dia. (ds)

(bj/ds/yan/min/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia