Kamis, 19 Sep 2019
radarbojonegoro
icon featured
Features
Agus Salim, Salah Satu Petani Organik

Pernah Panen Hanya Sembilan Sak Padi

Oleh: BHAGAS DANI PURWOKO

10 September 2019, 13: 00: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

LINGKUNGAN: Agus Salim menunjukkan areal tanaman padi dengan pupuk organik.

LINGKUNGAN: Agus Salim menunjukkan areal tanaman padi dengan pupuk organik. (BHAGAS DANI PURWOKO/JAWA POS RADAR BOJONEGORO)

Share this      

DILAHIRKAN dari keluarga petani tak lantas menggerakkan Agus Salim terjun di pertanian organik. Dia bersama lima temannya baru empat tahun belajar pertanian organik dan satu tahun geluti pemurnian benih.

Berkaus oblong dan mengenakan sarung motif kotak, seorang pria duduk santai sambil sesekali menyesap wedang kopinya. Pria itu tidak menunaikan ritual pagi, melainkan rutinitas tiap saat. Sebab, pria bernama Agus Salim itu tinggal bersama keluarganya di warung kopi berada di Jalan Pondok Pinang, Kecamatan Kota.

Jadi, kopi baginya sudah seperti separo hidupnya. Ternyata lelaki ramah ini menaman seorang anak petani. Sejak lahir sudah bergelut dengan terik matahari dan tanah liat. Pria asal Desa Gampeng Apus, Kecamatan Sumberrejo, itu menganggap dunia pertanian masih bisa dikembangkan.

Tentunya, pertanian yang subur, sehat, dan berkelanjutan. Karena sulit menampik, kalau pertanian masa kini penuh dengan bahan kimia yang kurang ramah bagi lingkungan maupun konsumen.

Dari situlah, Agus, sapaan akrabnya, menekuni pertanian organik. Titik awalnya sejak empat tahun lalu, 2015. Ketika Agus dan lima temannya kerap mengisi seminar terkait pertanian organik di desa-desa. Unik, pembicara belum terjun namun sudah berani mengajari para petani bercocok tanam dengan organik.

’’Memang lucu dulu itu, bermodal pengetahuan teori seputar pertanian organik, padahal kita sama sekali belum pernah praktik sendiri hehehe,’’ ujar bapak dua anak itu.

Akhirnya, rasa sungkan dan penasaran datang. Agus dan lima temannya serius menekuni dunia pertanian organik dengan berbasis komunitas. Semua anggota bersemangat. Ada salah satu teman Agus nekat menjual dump truck untuk menekuni pertanian organik.

Meski sudah matang secara teori, komunitas yang terbentuk itu menyempatkan belajar ke Jawa Tengah. Komunitas tersebut memperoleh lahan sawah seluas satu serempat hektare di Desa Tlogohaji, Kecamatan Sumberrejo, dan setengah hektare di Desa Luwihaji, Kecamatan Ngraho.

’’Awal mulai tentu mengalami gagal panen. Pernah panen hanya peroleh sembilan sak padi,’’ ujar pria juga menyukai sastra ini.

Menyinggung nama komunitas, ternyata belum namanya. Namun kalau menyinggung terkait kesulitan menggeluti pertanian organik, Agus mengatakan ihwal pengolahan lahan. Sebab, ia berani mengklaim bahwa sawah-sawah yang digarap bersama komunitasnya itu 100 persen organik.

Bahkan ia merasa pertanian organik dengan nonorganik tak jauh beda dari segi penggarapannya. Panen dalam kurun waktu tiga bulan. ’’Namun hasil panennya memang masih sedikit sekitar lima ton sekali panen,’’ jelas dia.

Selain hasil panen belum banyak, permintaan pasar juga masih rendah. Karena harga jualnya Rp 13 ribu per kilogram. Tentu masih perlu mencari celah pasar yang memperhatikan kemasan dan metode pemasarannya. Sejauh ini masih metode pemasaran konvensional alias dari mulut ke mulut. Mereka belum mengarah secara penuh menggunakan metode digital. Tapi tujuan mandiri secara pasar tentu jadi targetnya seiring proses yang dijalani.

’’Selain mandiri pasar, kami ingin lebih dulu mandiri benih dan pupuk. Jadi semuanya bisa berjalan secara mandiri,’’ tuturnya.

Bicara mandiri benih, Agus selama setahun ini sudah menggarap pemurnian benih di dekat warung kopinya. Agus mengajak melihat demonstration plot (demplot) pemurnian benih padi miliknya berada di kawasan Desa Sukorejo itu. Demplot seluas sekitar 10x10 meter itu mampu menghasilkan 3 kilogram benih. Jumlah itu sangat mencukupi untuk luas lahan dimiliki Agus dan lima temannya itu.

’’Kalau dulu kan benihnya beli. Kini sudah bisa punya benih sendiri, bahkan kami bagi-bagikan kepada para petani ingin terjun pertanian organik,’’ tambahnya.

Sedangkan urusan mandiri pupuk tentu mengikuti mandiri benih. Karena saat pengolahan lahan demplot tentu sudah menggunakan pupuk-pupuk organik. Bahan-bahannya seperti gerajen (serbuk) kayu, sisa damen (jerami), kotoran hewan, dan siapkan dekomposer atau pengurai.

Sehingga kondisi tanah mampu subur secara alami. Karena sebenarnya lahir dan tinggal di Indonesia sudah berkah tersendiri. Karena tanahnya memang sudah subur, bisa ditanami tanaman apapun.

Jadi tak bisa dipungkiri pertanian organik penting untuk perbaikan ekosistem pertanian yang kian rusak terpapar bahan sintetik atau kimiawi seperti pestisida. Lalu terkait serangan hama, tentu Agus sudah membuat pestisida organik yang berbahan alami seperti tumbuh-tumbuhan atau mikroorganisme.

Selain itu, pola tanam juga diatur. Jadi bisa dibilang menggarap lahan pertanian organik butuh kesabaran ekstra. Tapi tak menutup kemungkinan kelak tren pertanian organik bisa naik.

’’Karena petani masa kini butuh serba instan, padahal kalau mau sabar menggarap pertanian organik, nilai ekonomisnya juga lebih tinggi,’’ terangnya.

(bj/gas/rij/yan/min/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia