Selasa, 10 Dec 2019
radarbojonegoro
icon-featured
Features
Menggali Konsep DIY Jual Sandal Jepit (1)

Gelorakan Semangat Pokdarwis pun Levelnya Dukuhan

09 September 2019, 15: 30: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

MEJENG DI KETINGGIAN: Dua peserta Gathering Semen Indonesia berfoto pada spot lima tangan di Wisata Hutan Pinus Pengger, Bantul, Jogjakarta.

MEJENG DI KETINGGIAN: Dua peserta Gathering Semen Indonesia berfoto pada spot lima tangan di Wisata Hutan Pinus Pengger, Bantul, Jogjakarta. (DWI SETIAWAN/ JAWA POS RADAR TUBAN)

Share this      

TAK salah menjuluki Daerah Istimewa Yogjakarta (DIY) sebagai tempat tujuan wisata andalan kedua setelah Bali. Untuk mempertahankan titel tersebut, DIY tak kehabisan konsep. Apa pun yang laku dijual. Ibaratnya, di tlatah kasultanan ini sandal jepit dilumuri oli pun bisa bernilai. Berikut laporan wartawan koran ini sepulang mengikuti Gathering Semen Indonesia (SI) di Jogjakarta, 3-6 September.

Dua orang pemanggul tumpukan batang tanaman merambat berjalan tertatih menaiki perbukitan Dlingo di Desa Terong, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, DIY. Kamis (5/9) siang itu,  sinar matahari di Bantul cukup terik. 

Hanya embusan angin dari punggung perbukitan di selatan DIY itu yang mampu menyejukkan suhu udara.

Setelah menurunkan tumpukan batang pada spot foto rumah indian yang berada di salah satu puncak bukit, kedua pekerja tersebut langsung menganyam batang tanaman yang belakangan diketahui dari tanaman trembelekan tersebut. Pekerjaan menyempurnakan rumah indian itu pun dilanjutkan.

Meski belum selesai dan masih dikerjakan, sejumlah wisatawan tetap memaksa mengambil spot foto di sini. Inilah salah satu spot foto yang dijual di wisata Hutan Pinus Pengger. Dulu, hutan pinus di RPH Mangunan seluas 43 hektare ini adalah hutan produksi. Getah pinusnya disadap sebagai bahan baku industri.

Kondisi berubah setelah penyadapan pohon dihentikan dan tempat tersebut dijadikan destinasi wisata pada awal April 2016.

Tantri, pemandu wisata gathering SI  begitu bersemangat menjelaskan beralihnya fungsi hutan tersebut. Dikatakan dia, beralihnya haluan tersebut disemangati kebijakan pemerintah DIY. Di bawah kepemimpinan Sri Sultan Hamengkubuwana X, kelompok sadar wisata (pokdarwis) tidak hanya digelorakan di tingkat desa/kelurahan, seperti halnya di kabupaten/kota lain termasuk Tuban. Namun, lebih rendah lagi di tingkat dusun atau pedukuhan. Tataran pemerintahan terbawah.

Wisata Hutan Pinus Pengger dikelola masyarakat Dusun Mangun, Desa Terong, Kecamatan Dlingo. ''Pertimbangan kesultanan menggelorakan pokdarwis di tingkat dusun karena masyarakatnya yang lebih tahu potensi wilayahnya,'' terang Tantri seolah tahu betul kebijakan DIY.

Selama menjadi hutan produksi, tanaman hutan tersebut hanya memberikan kontribusi pada Perhutani. Nyaris tak menetes ke masyarakat Mangunan yang daerahnya dikenal sebagai salah satu kawasan kars yang minus. Melengkapi predikat daerah kering dan sulit air.

Begitu Pokdarwis Notowono dukuhan ini dipasrahi mengelola hutan pinus Pengger, masyarakatnya langsung bergerak. Mereka yang semula tak mengerti cara mengelola tempat wisata berusaha belajar. Termasuk mengonsep wisata hutan pinus tersebut. ''Untuk memberdayakan potensi alam, kita banyak belajar dari Bali,'' ujar perempuan 34 tahun itu.

Kurang dari tiga tahun wisata ini beroperasi, masyarakat sekitar sudah menikmati berkahnya. Sekarang ini, sepanjang jalan menuju tempat wisata ini berdiri tempat jajanan sekelas rumah makan hingga warung. Usaha lain yang dibuka, swalayan mini hingga ponten. Seluruh tempat usaha tersebut dikelola warga Mangun.

Penjual tiket, tukang foto amatir, tenaga kebersihan, tukang parkir, petugas keamanan, hingga pekerja lain di dalam obyek wisata ini adalah warga dusun setempat. Tak satu pun mereka dari luar desa.

Masyarakat Mangun tahu begitu konsep menjual dari hutan pinus. Karena berada di atas perbukitan Dlingo, mereka menjual view spot foto di atas pegunungan dengan latar Jogjakarta. Terutama pada malam hari. Kelip lampu wilayah peleburan Negara Kesultanan Jogyakarta dan Negara Kadipaten Paku Alaman terlihat indah dilihat di atas ketinggian.

Sejumlah titik spot foto pun dibuat. Propertinya sangat natural. Yakni, batang tanaman perdu trembelekan. Di Tuban, tumbuhan semak ini banyak dijumpai. Meski berbahan alami, desainnya pun dibuat kekinian. Dua di antaranya gardu pandang berbentuk pancawara atau lima tangan dan rumah indian. Kerapatan tanaman pinus di hutan ini tak kalah menariknya menjadi spot foto.

Tarman, penjaga loket spot foto pancawara mengatakan, keberadaan Wisata Hutan Pinus Pengger benar-benar memberdayakan masyarakat di dusunnya. Itu karena 70 persen pendapatan retribusi karcis masuk milik pokdarwis selaku pengelola. Hanya 30 persen pendapatan yang masuk dinas pariwisata setempat. ''Sekarang, sebagian masyarakat mengandalkan pendapatan dari sini,'' ujar dia tanpa menyebut kontribusi yang masuk pokdarwis setiap bulannya.

Wilayah selatan Tuban yang merupakan kawasan kars juga memiliki perbukitan  yang view-nya tak kalah dengan Mangun. Tengoklah perbukitan Bogor, Ngendut, Secang, dan Medokan, ketiganya di Desa Bektiharjo, Kecamatan Semanding. Begitu juga di Ngandong, Kecamatan Grabagan dan perbukitan Boto, Kecamatan Semanding.

Berada di dataran di atas awan ini, landscape perkotaan Bumi Wali lebih indah. Apalagi dengan latar Laut Jawa.

Upaya memanfaatkan potensi alam ini pun baru dimulai dari Bogor. Infrastruktur yang dibangun pun baru pagar di atas tebing dan pemasangan paving. Kalau diseriusi, potensi Bogor tak kalah dengan hutan pinus Pengger. Kawasan kars Bogor lebih khas. Satu lagi, dusun ini memiliki Watu Ondo. Watu Ondok adalah akses   tranportasi terdekat dari  Bogor   dan   Secang menuju    Ngendut   dan Medokan.

Sebelumnya, perbukitan Boto, Kecamatan Semanding juga berusaha dijadikan paket wisata. Selain view perkotaan, wisata tersebut dikemas dalam satu paket dengan sumber air Banyulangse. Tempat wisata yang dikelola pokdarwis desa setempat ini pun jalan di tempat.

Kepala Dinas Pariwisata Budaya Pemuda  dan Olahraga (Disparbudpora) Tuban Sulitiyadi mengatakan, sulitnya mengembangkan problem wisata di kawasan kars Tuban dipengaruhi banyak hal. Salah satunya terkait sulitnya mengakses lokasi destinasi wisata di atas perbukitan tersebut. Problem berikutnya pengemasan obyek wisata.

Untuk mendorong obyek-obyek wisata tersebut, Didit, panggilan akrabnya menegaskan, institusinya sudah melakukan sejumlah upaya. Salah membantu membuatkan brosur road map atau peta panduan menuju tempat wisata tersebut pada awal 2029. Bantuan lain, proyek paving pada tempat wisata Bogor dan peralatan rafting untuk tempat wisata Banyulangse, Boto. ''Pembinaan terhadap pokdarwis juga terus kita lakukan,'' tegas dia. (bersambung) 

(bj/ds/yan/min/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia