Kamis, 19 Sep 2019
radarbojonegoro
icon featured
Features
Anang D., Peternak Lebah Memanfaatkan Hutan

Bermula Mencarikan Madu Asli untuk Mertuanya Sakit

Oleh: M. MAHFUDZ MUNTAHA

09 September 2019, 11: 30: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

MADU BLORA: Anang menunjukkan kotak lebah miliknya yang baru saja selesai panen Selasa lalu di hutan Sambong.

MADU BLORA: Anang menunjukkan kotak lebah miliknya yang baru saja selesai panen Selasa lalu di hutan Sambong. (M. MAHFUDZ MUNTAHA/JAWA POS RADAR BLORA)

Share this      

BETERNAK Lebah belum banyak digeluti di Blora. Anang Dwiyanto memulai ternak lebah di kawasan hutan di Kecamatan Sambong. Setiap panen, menghasilkan 2.000 botol madu.

Pohon jati terlihat meranggas. Tak banyak dedaunan hijau di batang. Langit-langit pun terlihat karena tak tertutup dedaunan pohon jati. Kawasan hutan di Desa/Kecamatan Sambong ini terdampak kemarau.

Namun, di bawah pepohonan jati itu, terdapat kayu kotak berjajar. Jumlahnya banyak. Kotak tersebut berbagai warna dan hampir menyebar di kawasan hutan tak jauh dari jalan arah menuju Desa Ledok.

Di antara kotak-kotak bercat itu terlihat beberapa orang sibuk membuka satu per satu. Sesekali terlihat lebah kecil beterbangan dari dalam kotak itu. Kotak-kotak ini merupakan sarang lebah yang nantinya menghasilkan madu.

’’Ini baru saja selesai panen, Selasa (5/9) lalu,’’ kata Anang Dwiyanto, pemilik petenakan lebah ini kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.

Anang, sapaannya, mengatakan, saat itu bersama rekan-rekannya sibuk proses pindahan. Setelah proses panen, tentu bunga yang ada di Sambong sudah tidak bisa mencukupi kebutuhan madu miliknya.

Sebab, dia memiliki 500 kotak lebah. Itu membutuhkan lahan paling tidak 75 hekare lahan bunga. Tapi, saat ini bunganya semakin berkurang membuat produksi madu miliknya yang panen Selasa lalu berkurang.

’’Padahal dua kali panen sebelumnya di Sambong, bisa menghasilkan hampir 2.000 botol. Tapi kali ini tidak tembus itu,’’ imbuh pria asal Karangboyo, Kecamatan Cepu ini.

Karena itu, Anang dan teman-teman lainnya akan membawa kotak lebah ke daerah lain untuk mencari bunga segar agar madunya melimpah. Rencananya, Anang akan memindah kotak-kotak itu ke Kabupaten Jepara. Karena di kabupaten tersebut terdapat pohon untuk perkebunan karet yang sedang proses berbunga.

’’Memang petani lebah harus pindah-pindah untuk mencari bunga,’’ ujar pria yang rambutnya sedikit memutih.

Bapak tiga anak ini mengatakan, saat pindahan nanti bukan berarti akan membawa semua kotak lebah miliknya. Dia meninggalkan 6 sampai 10 kotak lebah. Sebenarnya ternak lebah miliknya ini sudah berjalan selama satu tahun.

Tetapi, baru mulai masif dan produksi dengan jumlah besar pada Maret 2019. Dulu, dirinya baru memiliki 20 kotak lebah. Sama halnya dengan peternak lainnya. Kotak lebahnya selalu berpindah-pindah ke kota lain, seperti, Pati, Purwodadi, Jepara, dan lainnya untuk mencari bunga.

’’Ketika ada bunga segar, ya di sana kita bawa lebahnya. Jadi cari yang gratis,’’ ujarnya dengan senyum.

Seiring waktu berjalan, bisnis ternak madunya itu terus berkembang. Bersama rekan-rekannya, hingga memiliki 500 kotak.

Anang memilih kawasan hutan di Kecamatan Sambong, karena dekat dengan hutan. Juga, banyak jambu hutan, trembesi, ploso, kacang hijau, jagung, dan beberapa bunga dari pohon lainnya. Sekaligus ingin menunjukkan ke warga Blora bahwa di kota berbatasan dengan Bojonegoro ini ada madu murni.

Sebab selama ini masyarakat banyak yang tidak percaya terhadap madu produksi asal Blora sendiri. Hampir 90 persen madu yang beredar menurutnya pasti ada campurannya. ’’Makanya saya beranikan membuka ternak, menunjukkan kalau di Blora ada madu asli,’’ tegas alumnus jurusan kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta ini.

Dia mengatakan, awalnya dia tidak sengaja beternak lebah. Awalnya dia diminta mertuanya mencarikan madu asli yang belum ada campurannya. Karena mertuanya terkena diabetes. ’’Setelah mencari-cari madu kok saya melihat ada peluang ini (ternak madu, Red),’’ imbuhnya.

Saat itu dia ikut pelatihan dan bertanya kepada peternak madu. Akhirnya dia memulai. Risikonya, menurutnya, juga tidak terlalu tinggi. Dari sejak awal dia memulai ternak. Sudah bisa berhasil. Hanya, kendalanya hama menyerang larva lebah yang menyebabkan lebah tidak memiliki sayap.

’’Saya beri obat dari Cina, bisa membuat hamanya hilang,’’ jelasnya.

(bj/fud/rij/yan/min/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia