Senin, 17 Feb 2020
radarbojonegoro
icon-featured
Hukum & Kriminal

Jadi Kurir, Sabu Diselipkan di Sarung

27 Agustus 2019, 11: 30: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

Ilustrasi

Ilustrasi (AINUR OCHIEM/JAWA POS RADAR BOJONEGORO)

Share this      

LAMONGAN, Radar Lamongan – Sehari-hari melakoni dua pekerjaan sekaligus membuat Fatchur Rachman mencari cara supaya dirinya tetap berstamina. Namun, cara yang ditempuh pria asal Desa Tangguprigel, Kecamatan Glagah ini salah.

Fatchur mengonsumsi sabu sekaligus menjadi kurir barang haram tersebut. Dalam sidang di Pengadilan Negeri (PN) Lamongan kemarin (26/8) beragenda pemeriksaan saksi dan terdakwa, dia mengaku sudah dua kali mengonsumsi sabu.

‘’Biar kuat melek Pak,’’ ujarnya lirih.

‘’Bukannya minum kopi juga bisa bikin melek semalaman? Apa pekerjaanmu?,’’ tanya hakim.

‘’Kalau siang di sawah jadi buruh tani, malamnya kerja di pabrik,’’ jawab Fatchur.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Deti Rostini turut menghadirkan dua saksi dari pihak kepolisian, yakni Abdul Aziz dan Rama Putra. Keduanya menangkap terdakwa pada pukul 23.00 di warung kopi yang tidak jauh dari rumahnya. Mereka mendapat informasi dari masyarakat bahwa ada transaksi narkoba.

Dalam praktiknya, Fatchur diminta rekannya Nurul Huda yang kini berstatus daftar pencarian orang (DPO) untuk mengambil pesanan sabu yang dikemas dalam bungkus rokok di sekitar perempatan PT. Petrokimia Gresik. Dia dibekali Nurul uang Rp 750 ribu yang dimasukkan ke bungkus rokok dan satu unit HP android.

‘’Uang dibungkus rokok tadi, ditukar dengan bungkus rokok yang berisi sabu. HP yang dibawa terdakwa dijadikan alat komunikasi untuk transaksi. Tapi setelah dicek banyak percakapan yang dihapus. Terdakwa sudah menjadi TO (target operasi),’’ ujar saksi.

Selain menggunakan bungkus rokok untuk mengelabui, Fatchur juga menyimpan sabu tersebut di lipatan sarung yang dipakainya.

‘’Orang pasti mengira saudara ini alim karena pakai sarung, seperti orang mau ibadah. Eh malah sarungnya dipakai simpan sabu. Dapat apa kamu kalau disuruh ambil?,’’ cerca hakim.

‘’Gak dapat uang, cuma dikasih sabu kalau mau ambil,’’ jawab Fatchur sembari tertunduk.

Dalam sidang sebelumnya, jaksa mendakwa Fatchur dengan pasal berlapis. Yakni,  pasal 112 dan pasal 114 UURI Nomor 35 Tahun 2009. Ancaman hukumannya, di atas lima tahun. Sehingga majelis hakim Muhammad Sainal, M. Aunur Rofiq, dan Ery Acoka Bharata menunjuk penasihat hukum dari Posbakum untuk mendampingi.  Sidang dilanjutkan minggu depan dengan agenda tuntutan.

(bj/din/yan/min/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia