Rabu, 19 Feb 2020
radarbojonegoro
icon featured
Features
Destri, Seniman Memanfaatkan Limbah Bekas

Kayu dari Pinggir Bengawan Diubah Jadi Topeng

Oleh: CHAHYA SYLVIANITA

24 Agustus 2019, 11: 30: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

SENIMAN: Ratno dan beberapa hasil karyanya dari limbah kayu.

SENIMAN: Ratno dan beberapa hasil karyanya dari limbah kayu. (CHAHYA SYLVIANITA/JAWA POS RADAR BOJONEGORO)

Share this      

SEKITAR 27 tahun Destri Kuratno menjadi seniman berbagai bahan. Berawal dari media semen, lalu tanah liat hingga keramik. Kini, Ratno fokus kayu bekas sebagai media kreasinya. Karena pernah terimbas krisis moneter.

Ditemui di galeri sederhananya tepatnya di Taman Bengawan Solo (TBS) Destri Kuratno bercengkrama dengan tiga anak. Anak-anak itu memesan barongan (seperti topeng). Terlihat beberapa botol kecil cat warna-warni berserakan di bawah kursi bambu.

Cat itu digunakan mewarnai barongan. Beberapa patung kayu dan lukisan mengisi ruang tamunya yang sederhana. Ratno, sapaan akrabnya mengatakan, semua pajangan di rumahnya berbahan dasar limbah atau barang bekas.

Beberapa kayu terkadang dia dapatkan di pinggir Sungai Bengawan Solo. Menepi di pinggir sungai. Lantas ia ambil dan dibuat kerajinan. Saat ini, Ratno fokus pesanan barongan. Dengan hati-hati, dia memperlihatkan hasil ukirannya pada kayu bekas.

’’Yang ini masih setengah jadi,’’ jelasnya sambil menunjukkan barongan berbentuk naga dengan kulit bersisik tajam.

Menurut Ratno, barongan untuk khas Bojonegoro berbentuk naga putih atau ular. ’’Kalau yang sudah diwarnai itu pesanan barongan dengan jenis campuran antara Kediri dan Ponorogo,’’ jelasnya.

Duduk di atas kayu bekas di rumahnya, Ratno menjelaskan, alasan pemilihan penggunaan barang bekas sudah sejak zaman reformasi. Saat itu, bermula dirinya terimbas krisis moneter. ’’Waktu itu apa-apa mahal. Jadi supaya usaha saya tidak mati, saya mulai pakai limbah untuk olahannya. Seperti pelepah pisang atau karung goni bekas. Sekarang fokus kayu bekas. Sampai sekarang jadi lebih memanfaatkan limbah saja,’’ ujar seniman asal Kelurahan Ledok Wetan ini.

Ranto menjelaskan, produk seninya terbatas. Terkadang hanya bisa membuat satu jenis saja karena kayu bekas didapatnya tidak pernah serupa. Selain itu, karya buatannya tidak bisa dibuat kembar karena semua karya hasil tangannya sendiri. Untuk itu, terkadang para pembeli sudah memakluminya.

Ratno mengatakan, pembeli kebanyakan berasal dari komunitas di Jogjakarta. ’’Beberapa juga ada yang dari Semarang,’’ aku pria beruban itu. Pembelinya rata-rata tidak menjual lagi hasil buatannya karena memang khusus dibeli untuk pajangan rumah.

Semenjak 1992, Ratno mulai menggeluti sebagai seniman. Dia meneruskan orang tuanya sebagai seniman wayang dan batik. Putus sekolah ketika kelas dua SMA pun juga menjadi riwayat kehidupannya.

Dia mengaku, waktu itu memang jiwa seniman sudah memanggilnya. ’’Pernah uang SPP saya belikan untuk cat, tapi ini nggak boleh ditiru ya,’’ akunya sambil tersenyum.

Selain membuat ukiran kayu, Ratno ternyata mahir memainkan gitar akustik. Dia mengaku, sampai saat ini sering diajak naik ke panggung. ’’Hanya saya lupa nama band-nya. Anak-anaknya masih muda sekitar umur 21 tahun,’’ jelasnya.

Tak hanya membuat patung dan bermain musik saja, Ratno juga mahir melukis khususnya menggunakan cat air. Terlihat beberapa pajangan lukisan yang dibuatnya terpampang di dinding rumah.

’’Untung saya dapat istri yang pegiat seni juga,’’ tambah Ratno dan istrinya tersenyum di sela merajut di bilik kamar sederhana.

(bj/rij/yan/cs /min/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia