Minggu, 15 Dec 2019
radarbojonegoro
icon-featured
Features
Catatan Perjalanan ke Jogjakarta (2-Habis)

Bekas Jalur Lava Merapi yang Jadi Wisata

Oleh: YUDHA SATRIA ADITAMA

17 Agustus 2019, 14: 30: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

BEKAS BENCANA: Museum Sisa Hartaku yang memanfaatkan rumah salah satu korban erupsi Gunung Merapi. Insert, batu sisa erupsi menyerupai wajah.

BEKAS BENCANA: Museum Sisa Hartaku yang memanfaatkan rumah salah satu korban erupsi Gunung Merapi. Insert, batu sisa erupsi menyerupai wajah. (YUDHA SATRIA ADITAMA/JAWA POS RADAR TUBAN)

Share this      

DI JOGJAKARTA, tempat apa pun bisa jadi wisata yang menghasilkan pundi-pundi rupiah, termasuk bekas jalur lava erupsi Gunung Merapi pada 2010. Berikut tulisan wartawan Jawa Pos Radar Tuban Yudha Satria Aditama yang berkunjung ke salah satu gunung berapi di Jawa Tengah tersebut, Rabu (14/8).

Ada perbedaan signifikan ketika berkunjung ke wisata sekitar Gunung Merapi sebelum dan sesudah erupsi 2010. Sebelum bencana besar gunung meletus pada Oktober – November 2010, para pengelola wisata di sekitar Gunung Merapi menawarkan keindahan alam untuk dijelajahi para wisatawan. Seperti sungai, air terjun, dan destinasi lain di sekitar gunung berapi aktif tersebut.

Pasca erupsi terbesar Merapi yang menewaskan 353 orang termasuk juru kunci Mbah Marijan, para pengelola wisata gunung tak lagi bisa  ''menjual'' pemandangan alam. Pemicunya, bencana nasional tersebut menutup sebagian besar wisata alam yang selama ini menghidupi masyarakat. Air terjun dan sebagian sungai mengering karena sumbernya tertutup lahar sisa letusan yang membeku.

Berdasarkan penuturan tour guide, jalur pendakian ke puncak Merapi dari Sleman sudah tertimbun bekas lahar dan tak bisa dilintasi. Pendakian pun dialihkan ke Kecamatan Selo, Boyolali. Rutinitas wisata warga Magelang di sekitar Gunung Merapi pun sempat mati suri selama dua tahun. Bencana tersebut tak menyurutkan semangat para masyarakat di daerah terdampak.

Lawanto Wibowo, tour guide perjalanan mengatakan, pasca bencana, masyarakat berusaha bangkit. Daerah wisata yang sudah terkubur material erupsi mustahil kembali normal. Para warga pun memutar otak. Mereka akhirnya mendapat ide untuk ''menjual'' bekas daerah bencana. Bekas jalur lahar, tumpukan bebatuan merapi, hingga rumah warga yang tinggal kerangka dijadikan obyek wisata. Perjalanan menjelajah eks jalur lahar menggunakan mobil jeep tersebut diberi nama Lava Tour.

Tujuan pertama Lava Tour adalah Batu Alien. Diambil dari kata batu alihan. Yang berarti batu tersebut hasil peralihan dari puncak gunung ke kawasan pemukiman saat erupsi. Salah satu obyek wisata ini adalah batu raksasa setinggi 2,5 meter (m) membentuk wajah yang menyerupai alien, makhluk luar angka. Wisata tersebut juga menawarkan spot foto tebing bekas jalur lahar panas pasca erupsi. ‘’Kawasan ini dulunya merupakan kawasan pemukiman penduduk, lalu tertimbun longsoran merapi,’’ terang Wawan, panggilan akrab Lawanto Wibowo.

Perjalanan selanjutnya menuju Museum Sisa Hartaku di Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman. Tempat tersebut dulunya rumah Watinem sekeluarga. Saat erupsi pada 5 November 2010, lahar panas menyapu bersih atap rumah dan sebagian besar harta benda. Harta sisa sapuan lava pijar itulah yang dikumpulkan pemilik rumah untuk dipajang. Termasuk kerangka sepeda motor dan hewan ternak yang tinggal belulang.

Tiket masuk museum mini inilah yang menjadi sumber penghidupan Watinem dan keluarganya. Saat kunjungan Rabu (14/8), Watinem tampak menjaga warung oleh-oleh yang didirikan ala kadarnya di halaman museum yang dulu merupakan rumahnya. Karena waktu kunjungan yang sangat terbatas, wartawan koran ini tak sempat mewawancarai wanita paro baya tersebut. Terlebih, saat itu, dia tengah sibuk meladeni pembeli suvenir yang mampir ke warungnya.

Kunjungan selanjutnya Bunker Kaliadem yang terletak di desa yang sama. Tempat yang selesai dibangun 2006 tersebut dulunya dibangun dengan tujuan sebagai tempat pengungsian sementara jika ada erupsi gunung. Namun, faktanya pada tahun yang sama, dua relawan yang mencoba berlindung di bunker saat erupsi merapi justru tewas terkena lava pijar dan timbunan material. Sejak saat itu, bunker tak lagi difungsikan jadi tempat pengungsian.

Perjalanan dilanjutkan ke eks rumah Mbah Marijan, mantan juru kunci yang ikut menjadi korban keganasan Gunung Merapi. Lokasi rumah sang kuncen legendaris tersebut sekitar 10 menit dari bunker. Sebagian rumah Mbah Marijan tersebut difungsikan sebagai museum sisa harta yang dilahap lava pijar. Di halaman kawasan rumah tersebut terdapat beberapa stan pusat oleh-oleh yang dijaga kerabat almarhum Mbah Marijan. Seluruhnya selamat saat erupsi. ‘’Kecuali Mbah Marijan yang menolak dievakuasi dan akhirnya meninggal dunia dengan posisi sujud di pelataran rumahnya,’’ sambung Wawan.

Perjalanan ditutup dengan menjelajahi Kali Kening, bekas sungai yang membentuk kubangan untuk diarungi jeep. Ya, seluruh wisata yang dijual warga setempat merupakan bekas bencana erupsi Merapi. Kreativitas dan kegigihan mereka menjadikan tempat bekas bencana tersebut tak lantas jadi kota mati. Melainkan jadi sebuah desa wisata yang menarik untuk dijelajahi. ‘’Pasca erupsi, warga justru semangat untuk membuat daerahnya lebih maju,’’ imbuh Wawan.

Tuban seharusnya bisa meniru Jogjakarta untuk mengembangkan wisatanya. Jika kota yang sempat mati suri karena suatu bencana bisa menjadi sebuah kawasan wisata yang sangat menjual, seharusnya Tuban bisa berbuat lebih. Sayangnya, hingga saat ini pariwisata Tuban masih belum tertata. Padahal, Dinas pariwisata kebudayaan pemuda dan olahraga (disparbudpora) setempat mencatat 53 destinasi wisata yang terdata dan siap dikembangkan.

Namun, hingga saat ini, wisata tersebut masih belum jelas pengembangannya. Kabid Pariwisata Disparbudpora Tuban Suwanto mengatakan, salah satu problem sulitnya mengembangkan wisata karena belum ada payung hukum yang melindungi. ‘’Tuban masih belum punya perda tentang wisata, ini yang membuat sulit mengatur dan mengawasi wisata yang dikelola desa dan masyarakat,’’ kata dia.

(bj/ds/yud/min/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia