Sabtu, 24 Aug 2019
radarbojonegoro
icon featured
Tuban

Dicek, Keberadaan Sumber Minyak pada Sepuluh Kecamatan

14 Agustus 2019, 11: 25: 59 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

BERI PENJELASAN: Perwakilan tim Pertamina Hulu Energi dan SKK Migas menjelaskan potensi bahan bakar di Tuban.

BERI PENJELASAN: Perwakilan tim Pertamina Hulu Energi dan SKK Migas menjelaskan potensi bahan bakar di Tuban. (YUDHA SATRIA ADITAMA/RDR.TBN)

Share this      

TUBAN, Radar Tuban - Tuban diindikasi memiliki sumber minyak baru yang mampu mencukupi kebutuhan bahan bakar masa depan. Untuk memastikan keberadaan titik-titik sumber minyak tersebut, tim Pertamina Hulu Energi (PHE) Tuban East Java (TEJ) mulai menurunkan pekerja untuk melakukan survei di sejumlah titik tersebut.

Praktiknya, survei yang sudah berjalan dua bulan terakhir tersebut belum sepenuhnya diterima warga. Mereka mengeluhkan ketidakjelasan kompensasi survei yang menempati lahannya. Termasuk kekhawatiran aktivitas pengeboran sumber minyak tersebut dapat merusak lahan dan bangunan warga sekitar.

Field Relation PHE TEJ Eko Broto mengatakan, saat ini tengah dilakukan uji seismik 3D untuk mencari titik sumber minyak pada 53 desa yang tersebar di 10 kecamatan di Tuban. Eko tidak memerinci kecamatan yang masuk pemetaan survei tersebut. Berdasarkan pantauan Jawa Pos Radar Tuban, kecamatan tersebut meliputi Merakurak, Montong, Singgahan, Rengel, Soko, dan sekitarnya.

Eko menerangkan, seismik merupakan studi geologi dengan membuat getaran tanah. Tujuannya, untuk mengetahui keberadaan cekungan minyak dalam perut bumi. Setelah diindikasi terdapat minyak, baru dilakukan pengeboran dan eksplorasi untuk produksi masal. ''Sekarang masih tahap studi geologi (kebumian) dan pendataan sekaligus sosialisasi ke kabupaten, kecamatan, desa, dan masyarakat,'' tegas dia. 

Pria kelahiran Solo, Jawa Tengah ini menjelaskan, meski pada akhirnya ditemukan sumber minyak, hal tersebut tak lantas langsung dieksplorasi secara masif. Sebab, masih akan dikaji nilai keuntungan dari pengeboran tersebut. Jika sumber minyak dinilai tidak ekonomis dan menghasilkan laba yang cukup, eksplorasi tidak dilanjutkan. ''Butuh 15 tahun pengkajian baru bisa memulai dieksplorasi. Jadi tahapnya lama,'' jelas dia.

Terkait keluhan warga dalam pemasangan patok survei, Eko meminta maaf dan memastikan tak akan ada aktivitas pengeboran di sekitar rumah warga. Seluruh proses pengeboran dilakukan di lahan kosong yang jauh dari kawasan padat penduduk. “Dampak seismik, rumah penduduk hanya akan terasa getaran kecil seperti tronton lewat depan rumah,” lanjutnya.

Untuk pengeboran, pejabat Pertamina berkulit sawo matang ini memastikan tak akan merusak lahan dan rumah warga. Dia mengklaim peledak yang digunakan tidak bersifat destruktif. Melainkan hanya bersifat eksplosif untuk membantu proses pengeboran. “Peledak yang digunakan berbeda dengan peledak tambang untuk semen, ini jauh lebih aman,” kata dia meminta tak ada yang perlu dikhwatirkan.

Meski diklaim tak bersifat merusak, PHE siap memberikan kompensasi untuk warga terdampak. Besarnya kompensasi ditentukan pemerintah daerah melalui surat keputusan (SK) bupati Tuban. Meski masih belum resmi diedarkan, kata Eko, bocorannya kompensasi disiapkan minimal Rp 1.000 per meter lahan kosong. ''Lahan kosong jika digunakan survei pun ada kompensasinya, apalagi yang ada tanaman atau bangunannya,” tandasnya.

Lebih lanjut dijelaskan, pemberian kompensasi akan dilakukan setelah seluruh tahap selesai dilakukan. Dalam pemberian kompensasi, akan langsung melibatkan Pemkab Tuban dan masyarakat terdampak. Mak dari itu, untuk memastikan jumlah kerugian tim survey akan mendata jumlah lahan dan bangunan. “Maka dari itu kami meminta izin memoto seluruh kondisi bangunan, jika kelak ada yang rusak bisa kami berikan kompensasi,” tambah dia.

(bj/yud/ds/bet/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia