Kamis, 12 Dec 2019
radarbojonegoro
icon featured
Hukum & Kriminal

Iseng Edit Foto Bugil, Eko Divonis 16 Bulan

14 Agustus 2019, 11: 00: 59 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

KECEWA: Eko Purwanto menutupi wajahnya setelah divonis 16 bulan penjara. Dia terbukti melanggar UU ITE.

KECEWA: Eko Purwanto menutupi wajahnya setelah divonis 16 bulan penjara. Dia terbukti melanggar UU ITE. (M. Nurcholish/Jawa Pos Radar Bojonegoro)

Share this      

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro - Eko Purwanto mendadak sayu. Menundukkan wajahnya saat Ketua Majelis Hakim Eka Prasetya memvonis penjara 16 bulan. Dan pidana denda Rp 60 juta subsider kurungan selama 3 bulan.

Sidang putusan di Pengadilan Negeri (PN) Bojonegoro kemarin (13/8) Eko terbukti melanggar pasal 29 jo pasal 45 UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Eko ditahan setelah iseng mengedit foto bugil di internet. Lalu memasang wajah foto perempuan dari pertemanan di Facebook. Korbannya lima perempuan. 

“Terdakwa Eko Purwanto alias Mblu terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana dengan sengaja dan tanpa hak mengirimkan informatika elektronika dan dokumen elektronik yang berisi menakut-nakuti dan ditujukan secara pribadi, serta dilakukan berlanjut,” ucap Eka Prasetya.

Seusai persidangan, Eko Purwanto tak banyak berkomentar dan kembali ke ruang tahanan PN setempat. 

Nuraini Prihatin, tim jaksa penuntut umum (JPU) mengatakan, vonis yang dijatuhkan pada terdakwa ini lebih rendah dari tuntutannya. Sidang sebelumnya dia menuntut terdakwa selama 2 tahun dan pidana denda Rp 60 juta subsider kurungan 3 bulan. 

“Korban lebih dari lima perempuan. Yang diedit, foto para korban jadi foto telanjang,” imbuhnya.

Namun, motif terdakwa tidak berniat memeras para korban. Hanya iseng. Terdakwa hanya menakuti-nakuti para korbannya akan memviralkan foto hasil editannya di media sosial (medsos) apabila korban enggan diajak mengobrol. 

Tetapi, ancaman itu belum ada yang terlaksana, foto-foto hasil editannya masih tersimpan rapi di dalam smartphone terdakwa. “Tidak ada niat memeras, tetapi hanya menakuti-nakuti akan memviralkan foto-foto hasil editannya tersebut,” jelas dia.

M. Sofyan Andriyama, penasihat hukum terdakwa mengatakan, sikap terdakwa terhadap putusan majelis hakim masih perlu rundingan dengan keluarga. Tetapi menurutnya vonis sudah sesuai, karena lebih rendah dari tuntutan JPU. 

Sebab, selama persidangan berlangsung terdakwa juga kooperatif dan mengakui semua kesalahannya. “Majelis hakim mengatakan tadi bahwa terdakwa sudah menyesali perbuatannya dan tidak ada mengulangi perbuatan itu lagi,” katanya.

Perlu diketahui, perkara menjerat terdakwa asal Desa Beji, Kecamatan Kedewan, itu terjadi Januari-Februari 2019 lalu. Terdakwa saat itu mengunduh belasan foto gadis yang jadi targetnya melalui akun Facebook pribadinya. Foto itu kemudian diedit dengan gambar telanjang menggunakan aplikasi FaceBlender. Berbekal foto editan telanjang para gadis tersebut, pelaku berfantasi dan menebarkan teror ke para korban.

Terdakwa menghubungi nomor WhatsApp korban yang ia dapat dari akun Facebook. Targetnya mengirimkan foto hasil editannya tersebut. Lalu mengancam korban bahwa foto itu akan disebarluaskan ke medsos. Korban yang takut dan teperdaya kemudian dipaksa agar mau melakukan video call dengan terdakwa. Namun, saat melakukan video call terdakwa tak pernah memperlihatkan wajahnya di depan kamera.

(bj/gas/rij/bet/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia