Kamis, 12 Dec 2019
radarbojonegoro
icon featured
Features
Sisi Lain Kapolres Tuban AKBP Nanang Haryono

Setiap Akan Bongkar Kejahatan, Telepon Ibunda

Oleh: YUDHA SATRIA ADITAMA

13 Agustus 2019, 13: 30: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

TEGAS: Kapolres Tuban AKBP Nanang Haryono yang sudah menjabat selama satu tahun empat bulan di Bumi Wali.

TEGAS: Kapolres Tuban AKBP Nanang Haryono yang sudah menjabat selama satu tahun empat bulan di Bumi Wali. (YUDHA SATRIA ADITAMA/JAWA POS RADAR TUBAN)

Share this      

KAPOLRES Tuban AKBP Nanang Haryono yang sudah menjabat hampir satu setengah tahun di Tuban dikenal tegas dalam memberantas berbagai kejahatan. Di balik ketegasannya, Nanang merupakan sosok seorang anak yang sangat mencintai ibundanya.

Sejak dilantik menjadi Kapolres Tuban pada 18 April 2018, sudah tak terhitung berapa timah panas petugas di bawah pimpinan AKBP Nanang Haryono yang sudah melumpuhkan kaki para pelaku kriminal. Tujuh pelaku perampokan sadis diantaranya tewas saat baku tembak dengan petugas. Dengan ketegasan tersebut, pelaku kejahatan harus berpikir dua kali sebelum beraksi di Bumi Wali. Jika masih nekat, nyawa para penjahat menjadi taruhannya.

Nanang mengatakan, pelaku kejahatan yang membahayakan nyawa masyarakat harus dibayar sepadan. Selain dikenal tegas dalam menghukum para pelaku tindak kriminal yang meresahkan, Nanang dikenal merakyat karena kerap turun menyapa masyarakat secara langsung. Baik ketika operasi pasar, lalu lintas, atau sekadar menyapa masyarakat. ‘’Saya latar belakangnya reskrim, jadi harus menguasai lapangan,’’ kata dia mengawali wawancara dengan Jawa Pos Radar Tuban.

Selama bergelut di satuan reserse dan kriminal (Satreskrim), sulung dari enam bersaudara ini sudah kenyang dengan berbagai ancaman yang mengancam jiwa. Bunyi desing peluru sudah kenal melintas di telinganya. Sudah tak terhitung berapa kasus besar yang diungkap Nanang sejak lulus dari Akademi Kepolisian (Akpol) tahun 2000.

‘’Sejak memutuskan gabung polisi, seluruh jiwa raga ini sepenuhnya untuk keamanan negara,’’ tegas anak pertama pasangan (alm) Wibowo – Srie Mulatsih ini.

Sudah tak terhitung berapa kali peluru penjahat yang nyaris menyasar dirinya namun meleset. Dia mengaku, kunci keselamatan dirinya saat bertugas adalah doa dari Srie Mulatsih, sang ibunda. Setiap akan melakukan penangkapan, Nanang tak pernah lupa menghubungi ponsel ibundanya. Tujuannya meminta doa restu untuk keselamatannya selama bertugas. ‘’Kalau tanpa doa restu ibunda, mungkin saya sudah tidak ada di sini,’’ kata dia.

Kecintaannya terhadap ibunda cukup beralasan. Kedua orang tuanya adalah satu-satunya pendorong dan motivator hidupnya sebelum bergabung ke kepolisian. Mantan Kasubdit III Ditreskrimum Polda Jateng ini sejak kecil hidup di lingkungan pelosok pedesaan. Lahir dan besar di Desa Tondomulo, Kecamatan Kedungadem, Bojongoro. Desa tersebut terletak di ujung selatan Kabupaten Bojonegoro, berbatasan langsung dengan Kabupaten Nganjuk.

Wajarnya hidup di pedesaan, informasi apapun yang masuk sangat terbatas. Satu-satunya info tentang tes masuk kepolisian saat itu datang dari selembar kertas poster yang dibawa sang ayah usai dari kota.

Dari situ, Nanang terus dimotivasi kedua orang tuanya agar masuk kepolisian. Hidup serba keterbatasan sejak kecil tak menyurutkan cita-citanya sebagai korps Bhayangkara. ‘’Tanpa dukungan dan doa dari almarhum ayah dan ibunda, saya tidak akan masuk polisi,’’ kenangnya.

Minimnya informasi di pedesaan cukup dimaklumi. Jangankan untuk melihat televisi. Untuk belajar saja, Nanang muda harus menyalakan lampu minyak sebagai satu-satunya sumber penerangan. Saat SMA, dia merupakan angkatan pertama SMAN 1 Kedungadem. Satu-satunya SMA negeri di Kedungadem tersebut terletak sekitar 6 kilometer (km) dari rumahnya. Sepulang sekolah, Nanang harus bekerja membantu ayahnya menjaga toko kelontong, jasa sewa angkutan, dan pekerjaan serabutan lain.

Uang dari hasil kerjanya tersebut selalu disisihkan untuk membeli buku-buku bacaan yang menjadi hobi suami AKBP Nany Nanang Haryono ini hingga sekarang. Sejak dulu hingga sekarang, perwira bertubuh tegap ini tak pernah lepas dari koleksi bukunya. Mulai buku biografi, novel, hingga komik. Yang paling dia gemari adalah novel Sherlock Holmes dan komik Detective Conan. Dua bacaan itu pula yang membuatnya semakin mantap sebagai anggota Satreskrim hingga bertahun-tahun.

(bj/yud/wid/yan/min/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia