Kamis, 12 Dec 2019
radarbojonegoro
icon featured
Hukum & Kriminal

Digaji Rp 1,8 Juta, Beli Sabu Rp 1,4 Juta

13 Agustus 2019, 12: 00: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

Ilustrasi

Ilustrasi (DOKUMENTASI PRIBADI FOR JAWA POS RADAR BOJONEGORO)

Share this      

LAMONGAN, Radar Lamongan – Perilaku Didik Purnomo, 37, tidak sepatutnya ditiru. Pria asal Desa Parengan, Kecamatan Maduran ini setiap harinya bekerja sebagai sales sembako dengan gaji Rp 1,8 juta per bulan. Namun, pendapatannya itu lebih banyak untuk beli narkoba jenis sabu–sabu.

Berdasarkan pengakuannya pada sidang di Pengadilan Negeri (PN) Lamongan kemarin (12/8), Rp 1,4 juta yang digunakan membeli sabu. Sisanya diberikan kepada anaknya yang kini diasuh sang nenek.

Sidang kemarin beragendakan pemeriksaan saksi dan terdakwa. Sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum (JPU), Irfan Mangalle, mendakwa Didik melanggar pasal 112 ayat 1 UU RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang narkotika.

Dalam sidang itu, jaksa menghadirkan dua saksi dari pihak kepolisian, Brigadir Dwi Hendra Aprilia dan Brigadir Abdul Aziz. Keduanya  menuturkan telah melakukan pengintaian terhadap Didik empat hari sebelum penangkapan. Saat ditangkap, terdakwa tengah duduk di ruang tamu.

‘’BB (barang bukti) berupa satu klip sabu seberat 0,08 gram ada di atas meja ruang tamu. Kami juga mengamankan satu unit HP yang diduga untuk komunikasi dengan pengedar,’’ kata Hendra.

Aziz menambahkan, Didik mendapatkan sabu dari pengedar bernama Budi asal Mojokerto yang kini berstatus daftar pencarian orang (DPO).

Didik mengaku mengonsumsi sabu sejak tiga bulan lalu. Saat dia mengirim sembako ke Mojokerto, Didik selalu bertemu dengan Budi untuk membeli sabu 0,5 gram seharga Rp 700 ribu. Dia juga membuat sendiri bong atau alat hisap sabu dari botol air mineral dan sedotan.

‘’Sekali beli bisa dipakai empat sampai lima kali. Saya pakai sendiri Pak, biar gak gampang ngantuk,’’ ujar Didik.

‘’Sebulan beli sabu berapa kali. Apa uangmu gak dikasihkan ke istri? Kok gajimu lebih banyak dipakai buat beli sabu?’’ tanya hakim.

‘’Dua kali Pak. Istri saya sudah almarhum. Anak saya ikut sama neneknya,’’ jawab Didik dengan lirih.

Setelah keterangan saksi dan terdakwa dirasa cukup, majelis hakim M. Aunur Rofiq, Ery Acoka Bharata, dan Agusty Hadi Widarto memutuskan menunda sidang minggu depan. Agendanya, tuntutan dari JPU.

(bj/din/yan/min/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia