Sabtu, 24 Aug 2019
radarbojonegoro
icon featured
Features
Sisi Lain Idul Adha di Masjid Taqwa Mojokampu

Sampai Menolak Hewan Kurban

Oeh: ZAHIDIN

13 Agustus 2019, 11: 00: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

SAPI KEDELAPAN: Ketua Panitia Idul Adha Masjid Taqwa Mojokampung Nur Farid Muttaqin saat menyembelih sapi kedelapan dari 21 sapi dan 17 kambing kurban, Ahad (11/8).

SAPI KEDELAPAN: Ketua Panitia Idul Adha Masjid Taqwa Mojokampung Nur Farid Muttaqin saat menyembelih sapi kedelapan dari 21 sapi dan 17 kambing kurban, Ahad (11/8). (ZAHIDIN/JAWA POS RADAR BOJONEGORO)

Share this      

TAK bermaksud sombong. Di Masjid Taqwa Mojokampung, Kota Bojonegoro, sampai menolak hewan kurban. Kok bisa?

Jam menunjuk 11.00. Pada Hari Raya Idul Adha, Minggu (11/8). Sudah 17 kambing dan 14 sapi disembelih. Dengan cepat semua ditangani. Oleh anak-anak, remaja, dan dewasa warga Kelurahan Mojokampung. Bersatu membagi sesuai bidangnya.

Yang muda dan kuat tenaga bagian menyembelih. Menyeret sembelihan. Sebagian lagi menguliti. Yang lain men-tetel-tetel tulang. Mengiris daging hingga mencacah-cacah bagian kepala.

Yang remaja putri dan ibu-ibu muda membungkusi. Menimbangi. Hingga membagi-bagi. Sebagian ibu-ibu memasak. Hari itu dua masakan. Sayur asem dan pecel. Lawuh-nya tempe dan kerupuk warna-warni.

Mereka bekerja bersama di bawah tenda. Yang dibangun di barat masjid. Yang mulai tahun ini lantainya sudah diplester. Selatan tenda diberi tabir. Di situ tempat sapi-sapi dan kambing. Di bagian barat juga ditabir. Di sini tempat penyembelihan. Sehingga antar hewan tidak melihat penyembelihan.

Juga panitia bagian menguliti, cacah, tetel, iris, timbang, dan pembagi. Yang menempati bagian tengah, utara, dan timur. Sementara bapak-bapak lain sedang asyik membakar kikil. Juga cingur dan kulit kepala. Mereka membakar sambil berteduh di bawah rerimbunan pohon pisang. Di barat tenda.

Semua bagian dari daging dan tulang. Mulai kaki hingga kepala. Juga jeroan-jeroan-nya. Diramut. Dibagikan semua.

Ribuan bungkus dagingnya didistribusikan. Kepada pemilik kurban, fakir, duafa, dan yang berhak.

Mereka bekerja sejak usai salat id. Hingga pukul 11.45 tinggal sedikit pekerjaannya. Tukang lulang (kuliti) sudah usai. Tinggal tukang iris, cacah, tetel, iris, timbang, kresek, pembakar, dan pembagi.

Namun, pukul 12.15, panitia melapor ke ketuanya. Bahwa kurang 200 bungkus lagi. Yang harus dituntaskan hari pertama Idul Adha, Minggu.

Jam 11.00 memang batas akhir penyembelihan hari pertama Idul Adha di Masjid Taqwa Kelurahan Mojokampung. Akan dilanjutkan pada dini hari 00.00 berikutnya. Menyembelih tujuh sapi sisanya.

Maklum. Panitia harus membagi tenaga. Tidak boleh terkuras semua. ’’Seandainya tadi ada yang membantu menyembelih kambing, bisa menyembelih sapi lebih banyak lagi,’’ kata Nur Farid Muttaqin, ketua panitia. Ia sendirian menyembelih hewan sebanyak itu.

Panitia lantas menyembelih satu lagi. Untuk memenuhi 200 bungkus. ’’Karena 90 persen pemilik kurban minta disembelihkan pada hari pertama,’’ katanya.

Tahun ini, Masjid Taqwa Mojokampung menerima 21 sapi dan 17 kambing. Ini sungguh rekor. ’’Biasanya kami batasi maksimal 20 lembu,’’ katanya.

’’Tapi, kami terima satu sapi lagi karena sudah langganan kurban di sini,’’ lanjut dia.

Sesungguhnya, panitia sudah menolak 16 orang yang berkurban sapi di masjid ini. Mereka terbagi dalam dua grup. Masing-masing tujuh orang. Jadi ada dua sapi ditolak. ’’Ndak ngatasi,’’ katanya.

Apalagi semua tenaga yang dikerahkan tidak dibayar. Semuanya sukarela. Partisipasi semua warga. Tak ada anggaran buat meramut hewan. Seperti terjadi di beberapa masjid. Atau beberapa panitia kurban. Ada dana yang ditarik. Mulai Rp 250.000 hingga Rp 500.000. Untuk biaya operasional. Termasuk biaya tukang sembelih. ’’Di sini murni partisipasi warga,’’ katanya.

Menggerakkan anak muda. Juga orang dewasa dan tua. Semua semangat dan kompak. Demi merawat hewan kurban yang sudah dipercayakan kepada mereka.

Ya! Kepercayaan itulah yang mereka pegang. Sehingga, banyak masyarakat berlangganan berkurban di masjid ini.

Kepercayaan itu di antaranya adalah semua panitia tidak boleh mbati (mengambil untung). Dengan meminta jatah sembelihan bagian ini atau itu. Semua yang terlibat harus rela tidak mendapat jatah daging. Bila seandainya habis dibagikan kepada pemilik hak.

Harus rela menerima satu bungkus atau maksimal dua bungkus. Yang isinya sama dengan yang dibagi kepada fakir miskin dan para duafa.

Tidak ada yang istimewa. Baik bagian yang memyembelih. Atau bagian-bagian yang lain. Termasuk ’’pesta’’ makan. Tidak boleh diambilkan dari daging kurban.

Kalau kemudian dapat sebungkus gulai kikil, cingur, usus, dan babat. Semua dapat sama. Seperti yang juga dibagikan kepada warga dan pemilik kurban.

Oh ya. Kikil, kulit kepala, cingur, usus, dan babat memang dimasak. Lantas dibagikan kembali ke warga yang berhak. Juga pemilik kurban. Panitia mungkin dapat. Kalau seandainya masih ada kelebihan.

Menurut Farid, pemilik kurban ikhlas memercayakan pembagian kurban ke panitia. Misalnya, bagi yang kurban kambing rela hanya dapat jatah sekilo daging dan hati utuhnya. ’’Tanpa menerima jatah bungkusan,’’ ungkapnya.

Termasuk bagi yang kurban sapi. Harus ikhlas menerima 2,5 kilogram (kg) sampai 3 kg daging plus 1/7 hati. Itu saja. ’’Bahwa yang bersangkutan kita kasih bungkusan. Itu sekadar kami minta bantuan agar di-tasyarufkan (dibagikan). Mungkin kepada tetangga atau yang berhak di sekitarnya,’’ katanya.

Berapa pemilik yang dapat bungkukan? Bervariasi. Mulai dari 10, 13, 15, dan 17 bungkus. Tergantung kecil dan besarnya sapi. ’’Kepada pemilik pun kami sampaikan bantuan untuk ikut mendistribusikan bungkusan itu,’’ tandasnya.

Yang menarik juga. Peternak sapi juga dapat bagian sebungkus. Biasanya mereka hanya dapat uang dengan cara beli putus. Tapi, panitia masjid ini membagi juga ke peternaknya.

Oh ya. Agar mendapat sapi berkualitas, panitia membeli sapi langsung ke peternak. Tidak lewat belantik atau perantara lain. ’’Sungguh peternak sangat suka. Dapat uang juga dapat daging,’’ katanya.

Maka, kata Farid, tahun berikutnya, sebelum kena belantik, mereka selalu menghubungi panitia lebih dahulu. ’’Bahwa sapinya layak dibeli untuk dijadikan hewan kurban,’’ ungkapnya. (zh)

(bj/*/rij/yan/min/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia