Kamis, 12 Dec 2019
radarbojonegoro
icon featured
Bojonegoro
Per Hari Sampah Plastik 40 Meter Kubik

Serukan Bungkus Daging Pakai Daun Jati

12 Agustus 2019, 10: 55: 59 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

ALAMI: Petugas di masjid polres membagikan daging kurban dengan bungkus daun jati, kemarin (11/8).

ALAMI: Petugas di masjid polres membagikan daging kurban dengan bungkus daun jati, kemarin (11/8). (Bhagas Dani P/Jawa Pos Radar Bojonegoro)

Share this      

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro - Pembagian daging kurban diprediksi akan menambah sampah plastik di Bojonegoro. Sebab, masih banyak ditemukan panitia membagi daging kurban dengan bungkus plastik. 

Sebaliknya, masih sedikit panitia membagikan kurban dengan daun jati atau daun pisang. Selain higienis, penggunaan daun jati, bisa menekan sampah plastik kian menumpuk.

Pantauan Jawa Pos Radar Bojonegoro, pembagian daging di masjid Polres Bojonegoro kemarin siang (11/8) menggunakan bungkus daun jati. Masyarakat yang menerima justru senang dengan bungkus daun. Rata-rata daging dimasukkan ke dalam jok motor atau keranjang sepeda.

“Kami ingin turut serta meminimalisasi penggunaan kantong plastik. Demi lingkungan yang lebih baik,” kata Kapolres Bojonegoro AKBP Ary Fadli.

Berdasar data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bojonegoro, per hari sampah masuk ke tempat pembungan akhir (TPA) Desa Banjarsari, Kecamatan Trucuk sebanyak 260 meter kubik. Dari jumlah itu, perkiraan sampah organik 180 meter kubik. Sedangkan, sampah plastik 40 meter kubik. Dan, sisanya 40 meter kubik merupakan sampah kayu, kertas, dan besi.

Kapolres mangatakan, kampanye diet plastik itu harus dimasifkan. Karena sampah plastik sudah berlebihan mengotori lingkungan. Sehingga, Idul Adha tahun ini membagikan daging kurban dibungkus daun jati. 

Kepala DLH Nurul Azizah mengapresiasi beberapa masjid mengganti kantong plastik dengan daun jati atau daun pisang sebagai bungkus daging kurban. Bahkan, pihaknya pada H-1 Idul Adha memberikan daun jati sekaligus daun pisang kepada takmir Masjid Darussalam Bojonegoro.

Dia mengatakan, sampah plastik butuh waktu lama untuk terurai. Sebaliknya dengan daun jati dan pisang, mudah terurai. ‘’Jika semua pakai bungkus daun, akan menekan sampah plastik,’’ ujar mantan Camat Kalitidu itu.

Desakan diet plastik dilakukan, kata Nurul, karena 

tumpukan sampah plastik di TPS menggunung. ‘’Sampah plastik masih dominan, ini harus terus ditekan,’’ imbuhnya.

Ranitya Nurlita aktivis lingkungan asal Bojonegoro mengatakan, secara perlahan kesadaran mengurangi penggunaan kantong plastik sekali pakai mulai tumbuh. Meskipun belum semuanya, namun kampanye diet plastik terus disebarkan. Karena menjaga keseimbangan alam atau lingkungan merupakan tanggung jawab bersama.

(bj/gas/msu/rij/bet/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia