Kamis, 12 Dec 2019
radarbojonegoro
icon featured
Lamongan
Petani Tebu Dua Tahun Tak Raih Untung

Harga Naik Tetap Merugi

12 Agustus 2019, 10: 43: 29 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

SULIT: Petani tebu di Lamongan ketika panen. Saat ini merasa gundah karena dua tahun terakhir tak meraih untung.

SULIT: Petani tebu di Lamongan ketika panen. Saat ini merasa gundah karena dua tahun terakhir tak meraih untung. (Anjar D. Pradipta/Jawa Pos Radar Lamongan)

Share this      

LAMONGAN, Radar Lamongan - Petani Tebu Lamongan gundah. Sebab, dua tahun terakhir tak meraih untung. Meski harga tebu naik tahun ini, tapi tidak sesuai ekspektasi. Rilis harga tebu dari pabrik gula untuk rendemen 7,5 sekitar Rp 60.500 perkwintal. Harga tersebut naik sekitar Rp 5.000 dari tahun sebelumnya. Namun harga tersebut masih tergolong rendah. Karena biaya produksi semakin besar, sehingga petani tetap tak meraih untung.

Asosiasi Petani Tebu Sambeng Lamongan, Kacung Purwanto menuturkan, meski naik, harga tebu tahun ini masih tergolong rendah. Kenaikannya tidak menggembirakan petani. Karena biaya produksi besar. Apalagi harga pembelian gula tahun ini juga hanya mengalami kenaikan Rp 500 per kg. “Kalau sudah dipotong produksi dan biaya perawatan, petani tidak mendulang untung,” terangnya kemarin (11/8).

Menurut dia, petani tebu tidak bisa berharap banyak dari harga tebu. Mereka hanya mengandalkan laba dari penjualan gula. Sementara pemerintah merilis harga Rp 10.200 per kg, naik disbanding tahun sebelumnya yang sebesar Rp 9.700 per kg. Kenaikan itu dinilai masih kurang. ‘’Idealnya harga gula Rp 11.000 per kg,’’ katanya.

Pria yang juga anggota DPRD Lamongan mengungkapkan, petani tebu sudah dua tahun terakhir tidak untung. Sehingga banyak petani tebu yang beralih tanam palawija. Jika sebelumnya, luas tanam petani tebu di wilayah Sambeng mencapai 700 hektar setiap tahun, tahun ini hanya 500 hektare. ‘’Karena modalnya besar, tapi harga setiap tahun tidak menggembirakan,’’ tukasnya.

Kacung melanjutkan, kondisi itu diperparah tahun lalu penyerapan dan pembayaran gula sempat lambat. Hingga Oktober gula petani masih belum terserap. Akibatnya musim tanam sempat mundur dari jadwal. Jika biasanya, bulan Agustus-September petani sudah mulai tanam. Mundur sekitar satu bulan baru tanam. “Untungnya bulan ini sudah ada yang panen sekitar 50 persen, meski tanamnya tidak bersamaan,” paparnya.

Dia menuturkan, tahun ini diterapkan lelang terbuka untuk pembelian gula petani. Sehingga diharapkan tidak ada penyerapan yang mundur. Sehingga ke depannya petani bisa melakukan tanam sesuai jadwal. Sebab petani tebu banyak yang bermitra. Jika penyerapan gula mundur, mereka kesulitan mencairkan dana. ‘’Apalagi petani tebu hanya panen satu kali. Mereka hanya mengandalkan penghasilan dari tebu untuk kebutuhan sehari-hari,’’ tuturnya.

Kasi Perkebunan Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Lamongan, Suryo menjelaskan, teknis penyerapan gula langsung antara petani dan pembeli. Sehingga pihaknya tidak mengetahui persis. Namun, sesuai kebijakan pemerintah pusat, seluruh gula petani tetap harus dibeli, tapi bertahap. Terkait luas tanam yang berkurang, dia mengklaim ada kemungkinan petani sudah habis masa sewa lahan. ‘’Sehingga tidak bisa melanjutkan sewa,’’ klaimnya.

(bj/rka/feb/bet/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia