Senin, 27 Jan 2020
radarbojonegoro
icon featured
Tuban
Palsukan Dokumen SK PNS hingga E-KTP

Ngaku Pensiunan Guru, Ajukan Pinjaman Taspen Rp 250 Juta

Diduga Jaringan Sindikat Pemalsu Dokumen

09 Agustus 2019, 14: 00: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

Ilustrasi

Ilustrasi (AINUR OCHIEM/JAWA POS RADAR BOJONEGORO)

Share this      

TUBAN, Radar Tuban – Diam-diam Satreskrim Polres Tuban menetapkan tiga tersangka kasus penipuan kredit bank yang diduga bagian dari jaringan sindikat pemalsuan dokumen. Saat ini, kasus pembobolan bank dengan korban Bank Mandiri Taspen itu tengah disidang di Pengadilan Negeri (PN) Tuban.

Kasus tersebut diduga kuat melibatkan jaringan sindikat pemalsu dokumen. Itu karena dokumen yang dipalsukan menggunakan bahan yang hampir mirip dengan aslinya. Bahkan, blangko yang digunakan untuk membuat e-KTP pun seperti aslinya. Lengkap dengan cip identitas yang tertera di dalam blangko. Saking miripnya, e-KTP yang dipalsukan itu hanya bisa dideteksi oleh dinas kependudukan dan pencatatan sipil (disdukcapil) dengan menggunakan sistem.

E-KTP palsu itu baru diketahui kepalsuannya setelah cip di dalam e-KTP itu terdeteksi atas nama orang lain. Di antara dokumen yang dipalsukan, e-KTP, kartu keluarga (KK), buku nikah, kartu pegawai, SK PNS, NPWP, kartu Taspen, SK pengangkatan, SK kenaikan gaji, hingga rekening atas nama korban. Korban yang identitasnya dipalsu adalah seorang pensiunan guru.

Ketiga terdakwa yang sekarang mendekam di balik jeruji besi lembaga pemasyarakat (lapas) kelas IIB Tuban itu, Endang Setyowati, Endang Setiorini, dan Siyamah. Ketiganya warga Desa Sidowareg, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang.

Dalam berita acara pemeriksaan terdakwa, Endang Setyowati berperan sebagai orang yang identitasnya disamarkan dengan identitas korban pemalsuan. Sedangkan Endang Setiorini dan Siyamah berperan sebagai kerabat Endang Setyowati yang tugasnya untuk meyakinkan pihak bank dalam proses pencairan dana kredit. Rencananya, para pelaku ini akan mengajukan pinjaman kredit di Mandiri Taspen Tuban dengan nominal Rp 250 juta.

Jaksa penuntut umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Tuban Ferdinan Cahyadi mengungkapkan, berdasar keterangan terdakwa dalam berita acara pemeriksaan, terungkapnya kasus pemalsuan dokumen ini bermula saat pihak Bank Mandiri Taspen curiga dengan pengajuan kredit yang diajukan pelaku. Pasalnya, sepekan sebelumnya, pemilik identitas yang asli lebih dulu mengajukan kredit Taspen.

Karena curiga kembali mengajukan pinjaman kredit dengan identitas yang sama, pihak bank memutuskan mengonfirmasi langsung kepada yang bersangkutan. ‘’Setelah dihubungi, ternyata yang bersangkutan merasa tidak mengajukan pinjaman,’’ kata dia menjelaskan kronologi kasus yang ditangani.

Setelah terungkap, pihak bank melapor ke polisi. Para terdakwa ditangkap setelah dijebak untuk  proses pencairan.

Apakah ada dugaan ketiga tersangka merupakan komplotan sindikat pemalsu dokumen? Ferdinan belum bisa memastikan. Namun demikian, dengan rentetan kronologi dan bukti-bukti yang ada, dimungkinkan ketiga terdakwa merupakan bagian dari sindikat pemalsu dokumen.

Humas PN Tuban Donovan Akbar Kusumo Bhuwono membenarkan kasus pemalsuan dokumen yang sekarang ditangani lembaganya. ‘’Sudah tiga kali disidangkan,’’ kata dia saat ditemui di ruang kerjanya kemarin (8/8).

Sidang lanjutan rencananya digelar pada Rabu (14/8) depan. Agendanya tuntutan JPU.

(bj/tok/ds/yan/ai/min/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia