Senin, 09 Dec 2019
radarbojonegoro
icon featured
Features
Tenun Ikat Dilirik Jadi Konsep Wisata Edukasi

Tak Bisa dengan Mudah Ditiru

Oleh: INDRA GUNAWAN

09 Agustus 2019, 12: 30: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

LIHAT PROSESNYA: Ketua Badan Penelitian Pengabdian Masyarakat Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya Malang, Mohammad Nuh (pegang kacamata), melihat sarung tenun yang dihasilkan dari proses manual.

LIHAT PROSESNYA: Ketua Badan Penelitian Pengabdian Masyarakat Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya Malang, Mohammad Nuh (pegang kacamata), melihat sarung tenun yang dihasilkan dari proses manual. (INDRA GUNAWAN/JAWA POS RADAR LAMONGAN)

Share this      

BADAN Penelitian Pengabdian Masyarakat Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya Malang melirik potensi tenun ikat Desa Parengan, Kecamatan Maduran. Konsep wisata edukasi tenun ikat digagas dan diharapkan mampu mendongkrak perekonomian warga sekitar.

Baner bertuliskan ‘’Kawasan Industri Tenun Ikat’’ terpampang ketika memasuki Desa Parengan, Kecamatan Maduran kemarin (8/8). Kantor balai desa setempat ramai. Minibus abu-abu terparkir di depan pagar. Sementara belasan motor diparkir di area parkir yang ada.

Di balai itu, sebagian warga desa sekitar berdiskusi. Enam orang berada di depan. Mereka merupakan warga bersama perangkat Desa Parengan dan Desa Pangkatrejo.

‘’Desa Parengan ini identik dengan tenun ikat sejak tahun 70-an hingga sekarang, dan itu secara nasional sudah dipahami,’’ tutur Ketua Badan Penelitian Pengabdian Masyarakat Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya Malang, Mohammad Nuh.

Dari diskusi itulah diketahui bahwa sejumlah akademisi yang datang memiliki gagasan untuk menciptakan konsep wisata edukasi tenun ikat Parengan’’. Konsep tersebut mendapatkan sambutan positif dari perangkat desa dan pengusaha tenun ikat. Sebab, selama ini tenun ikat hanya sebatas pengembangan pemasaran. Padahal, kerajinan tangan itu memiliki potensi lebih luas.

‘’Atas dasar itulah, kenapa tidak dibuat satu kemasan lain. Tidak hanya sekedar produksi tenun ikat. Tapi menjadi satu kegiatan wisata dalam bentuk edukasi,’’ ujar dosen kelahiran Desa Jangkungsomo, Kecamatan Maduran, tersebut.

Setelah tiga jam berdiskusi, tenun ikat yang berada sekitar 200 meter (m) di sebelah kantor balai Desa Parengan disambangi. Bangunannya berdinding kayu dan bercat putih. Di depannya, terdapat beberapa sarung tenun ikat yang dipampang. Di dalam bangunan tersebut, puluhan alat tenun ikat manual berbahan kayu terjajar rapi.

Dari alat tradisional itu, dihasilkan sarung tenun ikat yang harganya bervariatif. Misalnya, sarung botolan balian Rp 225 ribu per sarung. Sedangkan sarung botolan kerep Rp 235 per sarung. Itu hanya sebagian kecil varian dari produk tenun ikat yang lahir dari tangan para perajin.

Mohammad Nuh menilai generasi millenial perlu dikenalkan bahwa Parengan memiliki produk unggulan di Lamongan. Itu bisa terwujud bila wisata edukasi tenun ikat telah direalisasikan.

‘’Setelah ini, kami dari pihak akademik membantu memformulasikan rancangan pembangunan kawasan pedesaan tersebut sebagai usulan,’’ ujar dosen kelahiran 1970  yang bergelar doktor tersebut.

Kebetulan siang kemarin, pekerja di salah satu rumah pembuatan tenun ikat yang ada di depan ritel modern, ini sedang istirahat. Hanya tersisa Ujud, 68, dan satu pekerja lainnya yang sudah berusia paro baya. Ujud menjadi perajin tenun ikat sejak 1969. Dalam sehari, dia dibayar sekitar Rp 40 ribu. Namun, dirinya mendapatkan penghasilan lain dengan berjualan sarung tenun ikat sendiri.

‘’Kalau hanya mengandalkan itu tidak cukup. Tapi alhamdulillah dari berjualan sarung hasilnya lumayan. Saya yakin Allah Maha Kaya,’’ tuturnya sembari tersenyum lebar dengan gigi yang sudah banyak tanggal.

Ujud menjelaskan, proses pembuatan tentun ikat di antaranya gubin, mbentangi, nggambar, ngiket, celup, teteli, strengi, sepul, nyekir, dan grayung. ‘’Dulu alat untuk mengikat menggunakan pandan, kalau sekarang menggunakan tali berbahan plastik,’’ ujarnya.

Miftakhul Khoiri, salah satu pengusaha setempat, memulai bisnis sejak 1991. Awalnya, dia mengerjakan sendiri. Kini, dirinya memiliki 150 karyawan. Alat tenun ikat yang semula hanya 1 unit, kini mencapai 60 unit. Produk tenun ikat sudah merambah beberapa negara. Salah satunya, Somalia. Namun, pengusaha di Parengan melakukan ekspor melalui pihak kedua.

‘’Belum bisa melakukan ekspor sendiri. Tapi nilai ekspor cukup tinggi mencapai 800 kodi atau 16 ribu unit per bulan,’’ imbuhnya.

Dia sudah bekerjasama dengan salah satu pengusaha untuk memasarkan tenun ikat di tiga tempat di Malaysia. Profit yang dihasilkan menggunakan sistem bagi hasil. Pangsa pasar tenun ikat di Malaysia cukup prospektif.  ‘’Baru berjalan hampir satu tahun. Di sana penjualan fashion cukup bagus,’’ tutur Mif, sapaan akrabnya.

Bagi dia, Parengan cukup memungkinkan dibentuk sebagai desa wisata tenun ikat. Hanya, selama ini belum ada yang mengorganisasi. Padahal, tiap minggu selalu ada wisatawan yang mampir ke showroom produk tenun ikat miliknya. Beberapa hanya mampir untuk membeli produk. Tapi beberapa ada yang membeli sambil melihat proses pembuatan tenun ikat.

‘’Setiap Sabtu – Minggu minimal ada satu bis yang mampir ke sini,’’ ujar Mif.

Dia menjelaskan, beberapa dosen dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya bekerjasama dengan Jepang. Selanjutnya datang ke Parengan untuk melakukan penelitian selama dua tahun. Namun, para peneliti itu tak bisa merealisasikan karena proses pembuatan tenun ikat tak sesederhana yang dibayangkan.

‘’Sampai sekarang tidak ada hasilnya. Itu sisi menariknya karena tenun ikat manual tak bisa dengan mudah ditiru,’’ tuturnya.

(bj/ind/yan/min/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia