Minggu, 15 Dec 2019
radarbojonegoro
icon featured
Bojonegoro

Belum Miliki Data Stunting Setiap Kecamatan

05 Agustus 2019, 11: 00: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

Ilustrasi

Ilustrasi (AINUR OCHIEM/JAWA POS RADAR BOJONEGORO)

Share this      

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro - Dinas Kesehatan (Dinkes) Bojonegoro belum mengantongi data pasti sebaran stunting di masing-masing kecamatan. Namun, instansi yang mendapat pagu anggaran tertinggi itu mengklaim stunting atau bayi dengan ketinggian rendah ini merata di semua kecamatan.

’’Tidak ada yang dominan, menyebar di semua kecamatan,’’ kata Pelaksana Tugas (Plt) Dinkes Bojonegoro Hernowo kemarin (4/8).

Dia menuturkan, sesuai data Dinkes Provinsi Jawa Timur (Jatim), pada 2018 data stunting di Bojonegoro sebanyak 6.140 balita. Dengan rincian balita sangat pendek 1.040 jiwa, kemudian balita pendek 5.100 jiwa.

Sebaliknya data terbaru, masih menunggu hasil penimbangan balita yang serentak dilakukan bulan ini. Hasil penimbangan itu, pihaknya baru bisa mengetahui data pasti tentang jumlah stunting di setiap kecamatan.

’’Memang ini persoalan serius, makanya ada gerakan khusus untuk menekan stunting,’’ imbuh dia.

Saat ini, kata Hernowo, pihaknya fokus pencegahan stunting, yaitu pendampingan ibu hamil. Sebab, sesuai hasil pendataan sementara, balita stunting bukan hanya dari keluarga miskin.

Sebaliknya, dari keluarga mampu secara ekonomi, namun belum menerapkan perilaku hidup sehat. Sehingga, bukan hanya perbaikan gizi kepada keluarga miskin untuk mencegahnya, tapi juga peningkatan SDM warga khususnya ibu hamil dan menyusui terhadap stunting.

’’Stunting bukan dari keluarga miskin, banyak keluarga mampu tapi juga stunting,’’ jelasnya.

Sementara itu, Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) Muhammadiyah Bojonegoro Sudalhar mengatakan, timbulnya masalah kesehatan diakibatkan tiga hal. Yaitu  tidak tahu, tidak mau, dan tidak mampu.

Sehingga, stunting perlu disikapi dengan tiga strategi. Di antaranya meningkatkan pengetahuan masyarakat dengan edukasi pentingnya tumbuh kembang bagi anak sebagai generasi penerus. Juga, penjelasan bahayanya stunting, dan tindakan tepat.

Serta, mendorong kesadaran masyarakat bahwa stunting adalah masalah bersama terkait kualitas generasi berikutnya dan layak mendapat perhatian yang besar. ’’Dan terakhir bantuan secara material maupun moral kepada penderita stunting yang kurang mampu. Baik secara ekonomi maupun kurang mampu dari aspek keterampilan penanganan anak dengan masalah stunting,’’ jelasnya.

(bj/msu/rij/yan/ai/min/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia