Minggu, 15 Dec 2019
radarbojonegoro
icon featured
Hukum & Kriminal

Sediakan Tempat Berjudi, Terancam Sepuluh Tahun Penjara

24 Juli 2019, 13: 00: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

Ilustrasi

Ilustrasi (AINUR OCHIEM/JAWA POS RADAR BOJONEGORO)

Share this      

PACIRAN, Radar Lamongan – Rudi Trianto menyesal warung kopi miliknya dibiarkannya menjadi lokasi perjudian. Pria asal Desa/Kecamatan Paciran, ini didakwa melanggar pasal 303 ayat satu KUHP. Ancaman hukumannya, maksimal sepuluh tahun penjara.

Rudi bersama lima terdakwa kasus perjudian lainnya, yakni Imam Wahyudin, Wijoyo, Khusnul Rochim, Zainal Muttaqien, dan Yono Widigdo, kemarin (23/7)  menjalani sidang dengan agenda pemeriksaan saksi dan terdakwa.

Di hadapan majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Lamongan, Rudi mengaku tidak bermaksud memanfaatkan warung kopinya sebagai lokasi judi. Sejak awal Mei, pengunjung di warungnya mulai menggelar permainan judi dadu. Dia tidak mampu mencegahnya karena mereka pelanggan setia warungnya.

‘’Ada yang masih keluarga dengan saya. Gak enak mau melarang,’’ kata Rudi.

‘’Apakah saudara dapat imbalan ?,’’ tanya hakim.

‘’Ya ongkosnya seikhlasnya Pak,’’ jawab Rudi.

Dia menambahkan, praktik perjudian di tempat usahanya tidak dilakukan setiap hari. Rudi mengingat empat kali perjudian digelar di warungnya. Para pelaku biasanya mulai berjudi menjelang tengah malam hingga dinihari. Sebagian penomboknya, nelayan yang memanfaatkan waktu senggangnya sebelum melaut.

Imam selaku bandar menimpali bahwa dirinya harus merogoh kocek Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu kepada Rudi untuk bisa bermain judi di warung kopi tersebut.

‘’Rudi yang menyediakan tempatnya dengan tarif Rp 50 ribu dan Rp 100 ribu. Belum sama ngopinya, juga masih harus bayar lagi,’’ timpalnya.

Jaksa Penuntut Umum (JPU), Yoyok Junaidi, memertanyakan kepada para terdakwa siapa yang menyediakan barang bukti (BB) berupa tiga mata dadu, selembar alas mata dadu, dan satu kaleng dadu. Mereka berenam kompak menjawab tidak tahu. Rudi sang pemilik warung juga menegaskan tidak pernah menyediakan.

Imam dan empat pelaku judi lainnya menjelaskan kepada majelis hakim bahwa sistem permainan judinya bersifat untung-untungan. Pemenangnya ditentukan ketepatan mata dadu yang dipilih oleh penomboknya.

‘’Kalau menang keuntungannya satu kali lipat dari nilai tombokannya. Ada yang Rp 10 ribu, Rp 20 ribu, dan Rp 50 ribu,’’ jelasnya.

Di akhir persidangan, majelis hakim Muhammad Sainal, M. Aunur Rofiq, dan Agusty Hadi Widarto menasihati para terdakwa supaya tidak melakukan kegiatan perjudian. Sidang dilanjutkan minggu depan dengan agenda pembacaan tuntutan dari JPU. (din/yan)

(bj/din/yan/min/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia