Sabtu, 24 Aug 2019
radarbojonegoro
icon-featured
Bojonegoro

Berdiri sebelum Kemerdekaan

18 Juli 2019, 10: 30: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

Ilustrasi

Ilustrasi (AINUR OCHIEM/JAWA POS RADAR BOJONEGORO)

Share this      

HADIRNYA pabrik kecap di Bojonegoro masih menjadi misteri. Namun, beberapa orang keturunan Tionghoa mengatakan, dulu memang banyak produsen kecap di Kota Ledre ini.

Namun, banyak produsen kecap yang gulung tikar. Kini pun hanya menyisakan dua merek kecap legendaris asli Bojonegoro. Yakni kecap Cap Semar sejak 1942 dan kecap Tjap Tawon Madu sejak 1946.

Handoko, salah satu pemerhati sejarah mengatakan, dulu itu banyak produsen kecap. Bentuknya hanya industri rumahan. Sehingga, tak bisa bertahan lama. Berbeda dengan dua kecap legendaris yang masih bertahan tersebut, bentuknya sudah seperti pabrik.

Tetapi, proses produksi memang masih tradisional hingga sekarang. “Saya tahunya dulu ada banyak produsen kecap bentuk home industry. Saya pun tidak tahu dulu ada merek kecap apa saja,” ujarnya kemarin (17/7).

Bahkan, Setiono Pranoto merupakan generasi ketiga pengelola kecap Cap Semar juga tak tahu terkait sejarah kecap masuk ke Bojonegoro. Hanya, dia pernah tahu, kalau kata kecap itu disadur dari kata hokkian, yaitu ke chiap/kicap/kitjap.

Pun kecap Cap Semar memiliki slogan kecap nomor 1, khas idiom populer di khazanah kuliner nusantara sejak dahulu kala, bahwa tak ada kecap nomor dua. “Dulu itu banyak pabrik kecap, seperti juga pabrik tembakau juga banyak. Tapi ya yang masih bertahan hingga sekarang bisa dihitung jari,” bebernya.

Jawa Pos Radar Bojonegoro berusaha mencari literatur terkait sejarah kecap masuk ke nusantara. Tapi, ternyata hingga kini tidak ada catatan pasti. Kemungkinan besar, kecap dibawa masuk ke Indonesia oleh para imigran dari Tiongkok. Karena begitu dekatnya dengan kecap, tiap daerah pasti punya kecap tradisional.

Contohnya saja kebupaten tetangga, Tuban punya merek kecap legendaris Cap Laron. Di Madiun juga ada kecap Cap Tawon. Di Semarang, ada merek kecap yang terkenal, yakni Cap Mirama. Sehingga, tak heran masing-masing orang pasti punya kecap andalan yang berbeda. 

Berdasar buku History of Soy Sauce ditulis William Shurtleff dan Akiko Aoyagi, sejarah kecap sejak abad ke-3 di Jazirah Tiongkok. Kemudian tersebar di seluruh dataran Asia. Jepang lantas menjadi salah satu negara produsen kecap terbesar.

Menurut Shurtleff dan Aoyagi, dokumentasi tertua soal kecap tercatat pada 1633 dalam bahasa Belanda. Saat itu Jepang mengusir semua partner dagang asing, dan hanya berdagang dengan Belanda. Kecap pun masuk nusantara pada 1737.

Saat itu serikat dagang Hindia Belanda membawa kecap ke Batavia (sekarang Jakarta), untuk kemudian dikemas dan dikirim ke Amsterdam. Namun, diperkirakan kecap sudah masuk nusantara jauh sebelum itu, dibawa oleh imigran dari Tiongkok.

Dalam buku Shurtleff dan Aoyagi, disebutkan kalau kata kecap ala nusantara muncul di dunia Barat pada 1680, ditulis seorang pengacara cum penulis bernama William Petyt.

“Dan kita sekarang punya sawce (saus) yang disebut catch-up dari Hindia Timur, dijual di Guinea dalam bentuk botolan”. Catch-up yang kemudian dikenal sebagai ketjap, lalu jadi kecap. Diperkirakan serapan dari kata hokkian ke chiap/ kicap/ kitjap. 

Sedangkan menurut Bondan Winarno di Kecap Manis: Indonesia’s National Condiment, kata kecap penyerapan dari karakter Hanzi, koechiap. Namun, tulis Bondan, kata itu juga punya arti lain: tomat. Karena itu pula, dunia barat mengenal ketchup sebagai saus tomat. Kecap kemudian jadi bukti pendatang dari Cina yang datang ke Jawa amat lihai beradaptasi.

Bondan menyebut bahwa para pendatang Cina bermukim di Tuban, Gresik, Lasem, Jepara, dan Banten, pada abad 11 menyadari bahwa orang-orang di Jawa suka rasa manis.

(bj/gas/rij/yan/ai/min/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia