Selasa, 10 Dec 2019
radarbojonegoro
icon featured
Features
Berhasil Membuat Bedak dari Limbah Kulit

Belum Berani Menjual, Karena Belum Mampu Mengurus Izin

Oleh: M. GAMAL AYATOLLAH

15 Juli 2019, 12: 30: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

MAHASISWA KREATIF: Aulia (kiri) dengan temannya saat memeragakan pembuatan bedak dari kulit telur.

MAHASISWA KREATIF: Aulia (kiri) dengan temannya saat memeragakan pembuatan bedak dari kulit telur. (M. GAMAL AYATOLLAH/JAWA POS RADAR LAMONGAN)

Share this      

KULIT telur yang sering dibuang menjadi limbah ternyata bisa dimanfaatkan untuk bahan membuat bedak kecantikan. Tiga mahasiswa asal Lamongan, Nur Maghfirotul Auliyah, 21; M. Yusril Izza, 21; dan Rica Kurnia Ramadani, 21, telah berhasil membuktikannya.

Ide membuat bedak dari cangkang telur tersebut muncul dari Nur Maghfirotul Auliyah ini. Cewek kelahiran Desa Tambakrigadung Kecamatan Tikung itu mengaku perhatiannya tertarik melihat banyak sampah kulit telur yang dibuang begitu saja. Terutama di Surabaya tempatnya kuliah di sebuah STIE. Banyak aktivitas bisnis warga yang menggunakan telur, terutama bisnis makanan. Dan kulitnya dibuang begitu saja.

‘’Ide Itu muncul ketika saya melihat banyak limbah telur di Kota Surabaya, tempat saya kuliah,’’ ujarnya.

Limbah kulit telur tersebut semakin terlihat mencolok pada pedagang martabak yang menjamur di Surabaya, yang sangat bergantung pada telur sebagai bahan dasar kuliner dagangannya. Mereka mengumpulkan kulit telur dalam sebuah tas plastik. Itu dilakukan, karena adanya aturan dari pemerintah daerah setempat untuk membuang cangkang telur langsung ke tempat pembuangan akhir (TPA) sampah. ‘’Bisa dibayangkan, betapa banyaknya cangkang telur yang dibuang begitu saja. Karena jumlah pedagang martabak di Surabaya sangat banyak. Belum lagi aktivitas masyarakat lainnya yang menggunakan telur,’’ terang Aulia, panggilan akrabnya.

Dia bersama dua temannya kemudian berusaha mencari tahu manfaat dan kandungan dari cangkang telur untuk bisa dirubah menjadi sesuatu yang bermanfaat.  ‘’ Ternyata didalam cangkak telur tersebut, terdapat kandungan kalsium karbonat (CaCO3),’’ ujarnya.

Penelitian kemudian dilanjutkan dengan mencari referensi tentang manfaat dari CaCO3. Ternyata zat itu baik untuk kesehatan tulang dan otot manusia. Lebih spesifik, dia mengkaitkan dengan kulit manusia. Bila tulang dan otot  sehat, tentu akan membuat kulit menjadi kencang dan lentur. Sehingga bahan itu baik untuk dipakai bahan dasar bahan kosmetik. ‘’Kami kemudian memutuskan akan membuat bedak dari kulit telur. Apalagi dari uji laboratorium sebuah produk kecantikan menunjukkan kandungan CaCO3-nya mencapai 94,47 Persen, ditambah kolagen 0,012 Persen, serta bahan mutiara,’’ ungkap Aulia.

Mereka kemudian melakukan penelitian dengan cara, membersihkan kulit telur dan mengeringkannya di bawah sinar matahari selama sehari. Selanjutnya direbus selama 15 menit dan dikeringkan kembali. Kemudian dilakukan penggilingan lima hingga enam kali hingga benar-benar halus dan dicampur kunyit serta tepung beras. Karena tepung beras selama ini biasa dipakai untuk masker perempuan di desa. Komposisinya, 1 kilogram (kg) kulit telur, 1/5 kg tepung beras dan ¼ kg bubuk kunyit. Hasilnya berupa 1.200 gram bedak. ‘’Kami berusaha memakai bahan-bahan alami. Termasuk untuk warna, kami memanfaatkan kunyit,’’ terang Aulia.

Bedak buatannya itu telah dicoba pada beberapa orang. Ternyata mampu berfungsi baik. Tidak ada keluhan gatal-gatal. Sebab bahan yang dipakai, semuanya bahan alami. Sehingga aman dari dari dampak kimia. 

Meski begitu, Aulia mengaku belum berani menjual produk bedaknya tersebut. Karena masih harus menjalani tahapan uji laboratorium untuk kelayakannya. ‘’Sebenarnya sudah di uji lab (laboratorium). Tapi baru untuk kandungan yang ada di dalam cangkang telur. Masih butuh uji lab terhadap tingkat kesehatan dan kebersihan hingga perizinannya,’’ ungkap dia.

Dia mengaku belum bisa melakukan tahapan uji tersebut. Sebab membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Bahkan, meski karyanya tersebut juga pernah meraih juara lomba karya ilmiah, mereka tetap belum berani menjualnya. ‘’Kami berharap suatu saat ini bisa memproses perizinannya dan bisa diproduksi secara masal, sehingga menjadi produk kosmetik buatan sendiri,’’ tukas Aulia.

(bj/mal/feb/yan/min/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia