Rabu, 29 Jan 2020
radarbojonegoro
icon-featured
Bojonegoro

Rekanan Lokal Harus Berbenah

12 Juli 2019, 10: 00: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

Ilustrasi

Ilustrasi (AINUR OCHIEM/JAWA POS RADAR BOJONEGORO)

Share this      

BOJONEGORO - Evaluasi semua pihak diperlukan seiring terdapatnya kontraktor luar daerah menangi sejumlah paket proyek miliaran di Bojonegoro. Kontraktor atau rekanan lokal juga diminta berbenah.

Perubahan regulasi tentang pengadaan barang dan jasa konstruksi, memaksa rekanan lokal harus meningkatkan spesifikasi perusahaannya. Begitu pun, kontraktor luar daerah yang memenangi lelang proyek jalan miliaran juga harus diawasi rekam jejak perusahaan. Juga, kualitas pengerjaan.

“Saatnya rekanan lokal untuk berbenah agar ke depan bisa bersaing dengan rekanan dari luar,” kata Dekan Teknik Universitas Bojonegoro (Unigoro) Hariono kemarin (11/7).

Menurut dia, rekanan kecil masih bisa mengerjakan proyek. Hanya, bisa mengerjakan di bawah paket pekerjaan dengan nominal Rp 10 miliar. Namun permasalahannya, paket proyek di Bojonegoro mulai tahun ini rerata di atas Rp 10 miliar. Bahkan, ada yang sampai Rp 28 miliar.

Tentu, menurut dia, rekanan lokal hanya menjadi penonton di rumahnya sendiri. Ke depan rekanan lokal harus berbenah meningkatkan spesifikasi perusahaannya. Sebab, jika tidak melakukan pengembangan, selamanya akan tertinggal dengan rekanan dari luar daerah. Apalagi, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Bojonegoro ke depan terus meningkat.

Menurut dia, terbitnya Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Permen PUPR) Nomor 07/PRT/M/2019,  tentang standar dan pedoman pengadaan jasa konstruksi melalui penyedia, tentu mendesak rekanan lokal yang spesifikasinya masih kecil, untuk dibesarkan. Karena, kata Hariono, jika tidak segera berbenah, ke depan akan selalu tertinggal dan kalah bersaing dengan rekanan luar. Sebab, persaingan lelang saat ini terbuka.

Dia menambahkan, temuan sejumlah proyek besar di Bojonegoro yang mayoritas dikerjakan dari luar, itu bukan menyalahi aturan. Sebaliknya, diperlukan evaluasi terhadap rekanan lokal yang tidak bisa mengerjakan proyek yang nominalnya di atas Rp 10 miliar.

“Jika tak segera berbenah, selama akan tertinggal,” ujarnya.

Dia menegaskan, panitia lelang juga harus mengecek kondisi rekanan luar sebelum menyerahkan seluruhnya pekerjaan. Sebab, dalam regulasi itu juga diatur tentang pengawasan perusahaan yang mengerjakan.

Jangan sampai ke depan ada rekanan besar dari luar, namun melihat pekerjaannya di beberapa daerah, mendapatkan rapor merah. Atau pernah di-blacklist. Karena administrasinya tidak lengkap. Justru nanti Bojonegoro yang dirugikan.

“Pengawasan untuk rekanan luar daerah juga harus diperketat,” tegasnya.

Berdasar data Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Bojonegoro, sejumlah kontraktor luar daerah memenangi lelang proyek jalan dengan anggaran besar. Seperti peningkatan Jalan Bojonegoro-Kunci senilai Rp 20 miliar dimenangkan PT Cipta Karya Multi Teknik dari Surabaya.

Peningkatan Jalan Kapas-Sampang senilai Rp 28,5 miliar dimenangkan PT Nahendra Putra dari Sidoarjo. Peningkatan Jalan Kedungadem-Kesongo senilai Rp 18 miliar dimenangkan PT Kusuma Jaya Abadi Construction dari Malang.

Juga, peningkatan Jalan Sroyo-Nglingo senilai Rp 18,6 miliar dimenangkan PT Bumiku dari Malang. Peningkatan Jalan Trenggulonan-Ngambon senilai Rp 17,6 miliar dimenangkan PT Bumiku dari Malang.

(bj/rij/msu/yan/ai/min/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia