Senin, 18 Nov 2019
radarbojonegoro
icon featured
Tuban
Ma Ash Shomadiyah Tuban

Santri Menembus Perguruan Tinggi Negeri, Radikalisme Teratasi

12 Juli 2019, 08: 00: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

Riza Sholahuddin Habibi (Gus Riza), pengasuh ponpes Ash Shomadiyah.

Riza Sholahuddin Habibi (Gus Riza), pengasuh ponpes Ash Shomadiyah. (Istimewa)

Share this      

TUBAN – Madrasah Aliyah (MA) Ash Shomadiyah Tuban konsisten melahirkan lulusan yang menembus perguruan tinggi negeri (PTN) favorit di tanah air. Pada seleksi masuk bersama perguruan tinggi negeri (SBMPTN) 2019, lima santri terbaiknya berhasil menembus jurusan dengan grade tinggi di Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Universitas Negeri Malang (UM), dan Universitas Brawijaya (UB) Malang.

Kepala MA Ash Shomadiyah Tuban Riza Sholahuddin Habibi mengatakan, madrasah yang dipimpinnya rutin mencetak santri-santri terbaik yang  mengisi kursi di PTN sejak 2013. Suksesnya santri madrasah menembus kursi kampus unggulan favorit turut berperan memberantas radikalisme yang banyak bersumber dari PTN. ‘’Santri harus masuk ke kampus negeri terbaik dan mengisi lembaga dakwah agar menutup sumber-sumber radikalisme,’’ tegas dia.

Pendidik yang akrab disapa Gus Riza ini menegaskan, sekolah berbasis pesantren harus berperan aktif mencetak generasi cinta tanah air. Dengan rutin mengirim santrinya menembus PTN, madrasah berbasis rakyat ini membuktikan kualitasnya. ‘’Sekolah tidak perlu mahal, asal berkualitas. Hanya membayar iuran SPP Rp 80 ribu per semester, santri-santri terbaik Bumi Wali bisa konsisten masuk kampus-kampus unggulan,’’ jelasnya.

SANTRI PTN FAVORIT: Salman Alfarisy, Psikologi UTM. , M. Yugik Setiawan , Ilmu Hukum UTM. , M. Cahyo Prasetyo, Geografi UM. , M. Andra Yusuf , Pendidikan dan Sastra Indonesia UB Malang.

SANTRI PTN FAVORIT: Salman Alfarisy, Psikologi UTM. , M. Yugik Setiawan , Ilmu Hukum UTM. , M. Cahyo Prasetyo, Geografi UM. , M. Andra Yusuf , Pendidikan dan Sastra Indonesia UB Malang. (Istimewa)

Gus Riza mengakui, selama ini lembaga dakwah kampus PTN sering menjadi sarang perekrutan paham-paham antinasionalisme. Minimnya kepedulian terhadap lembaga keagamaan kampus membuat unit kegiatan mahasiswa (UKM) sering diisi remaja yang berpaham radikal. ‘’Santri yang masuk PTN bisa berperan memupus radikalisme dengan masuk ke lembaga-lembaga dakwah kampus yang selama ini banyak dikuasai paham intoleran,’’ tandas dia.

Madrasah di Jalan KH Agus Salim ini sejak 2013 bekerja sama dengan Dr. H. Abdillah Ahsan SE., ME, yang merupakan alumni Persatuan Mahasiswa Muslim Indonesia (PMII). Salah satu akademisi senior tersebut selalu berperan membantu para santri MA Ash Shomadiyah Tuban untuk sukses mendapatkan kursi di kampus unggulan di Indonesia. ‘’Alhamdulillah, MA Ash Shomadiyah tak pernah gagal mengirimkan santri terbaiknya ke PTN unggulan,’’ kata dia.

MA Ash Shomadiyah merupakan pioner sekolah multikultural yang mengajarkan toleransi sejak dini. Saat latihan dasar kepemimpinan siswa (LDKS) seluruh siswa selalu diajak berkunjung ke tempat peribadatan agama lain. Seperti gereja, keleteng, atau rumah ibadah lain. Tujuannya memupuk rasa nasionalis-religius sejak dini. ‘’Dengan mengenal dan menghormati perbedaan sejak dini, insya Allah kerukunan umat beragama bisa terjaga sampai kapan pun,’’ kata Gus Riza.

(bj/yud/ds/min/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia