Kamis, 18 Jul 2019
radarbojonegoro
icon featured
Features
Cerita Isnaini K., Blogger Asal Lamongan

Sakit, Resign dari Perusahaan, Ingatkan Sedekah View

Oleh: AUDINA HUTAMA PUTRI

11 Juli 2019, 13: 00: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

SEMINGGU MINIMAL POSTING DUA TULISAN: Isnaini Khomarudin, salah satu blogger asal Lamongan yang mendapatkan uang jutaan rupiah dari blognya.

SEMINGGU MINIMAL POSTING DUA TULISAN: Isnaini Khomarudin, salah satu blogger asal Lamongan yang mendapatkan uang jutaan rupiah dari blognya. (AUDINA HUTAMA PUTRI/JAWA POS RADAR LAMONGAN)

Share this      

ISNAINI Khomarudin membuktikan menjadi blogger itu menjanjikan. Pria asal Desa Tanjung, Lamongan ini mampu mengumpulkan pundi-pundi uang hingga juataan rupiah dari aktivitasnya di dunia blogging.

Cukup mudah menemukan rumah Isnaini Khomarudin. Hanya dia sendiri yang memiliki gazebo di lahan yang tidak begitu luas pada kompleks perumahan tempatnya tinggal saat ini. Gazebo tersebut dinamainya Saung Literasi.

Pria berkacamata yang akrab disapa Rudi ini memang tidak bisa jauh dari kegiatan literasi. ‘’Supaya anak-anak bisa membaca dan menulis di sini. Awalnya tidak boleh sama pengembang mendirikan bangunan permanen sampai lima tahun. Tapi saya pengen buat saung literasi. Akhirnya dipan milik orang tua saya modifikasi sedemikian rupa,’’ jelasnya kepada Jawa Pos Radar Lamongan kemarin (9/7).

Kecintaannya terhadap dunia literasi membuat Rudi pernah menggeluti berbagai profesi yang berkaitan dengan tulis menulis. Semula, dia bekerja sebagai penerjemah pada sebuah perusahaan. Namun, pria 37 tahun ini harus resign karena sakit. Rudi lantas mencari cara bagaimana dia bisa bekerja tanpa harus hadir di kantor.

‘’Pada 2012, saya mulai nge-blog. Dua tahun kemudian alhamdulillah blog saya sudah monetize,’’ kenangnya.

Supaya bisa menjadi blogger profesional, Rudi harus rutin menulis dan mengunggah berbagai macam tulisannya di blog. Tak hanya itu, dia pun harus menjalin relasi dengan blogger-blogger lainnya untuk bisa mendapat job menulis dari agensi maupun perusahaan.

Namun, agensi dan perusahaan tidak asal-asalan memilih blogger untuk membuat konten yang diminta. Setiap blogger akan dilihat angka domain authority (ukuran kepercayaan situs) dan page authority (ukuran kepercayaan halaman).

‘’Tapi paling sering klien akan fokus melihat nilai DA (domain authority). Minimal 15 dari 100. Makanya, blogger pasti akan melakukan berbagai cara untuk mendongkrak nilai DA,’’ jelasnya.

Menurut Rudi, selain wajib posting tulisan seminggu minimal dua kali, blogger juga harus aktif mencari klien baik dari agensi maupun perusahaan yang membutuhkan jasa blogger. Tak hanya itu, aktivitas blog walking (BW) atau saling berkunjung ke berbagai blog dan meninggalkan komentar juga akan dipantau oleh klien. Dari cara tersebut, perlahan jumlah view di blog yang dimiliki akan bertambah seiring waktu.

‘’Istilahnya sedekah view. Itu bentuk saling support antarblogger. Karena blog yang dicari oleh klien minimal seratus view dalam jangka waktu yang ditentukan,’’ kata ayah dari dua anak ini.

Rudi mengenang, kali pertama blog miliknya demonetize, dia mendapat fee Rp 350 ribu. Saat itu, Rudi diminta membuat dan menggunggah tulisan bertema buku. Setelah mengisi form dari marketplace yang menggunakan karyanya, tak butuh waktu lama fee mulai masuk ke dalam rekeningnya. Kini, fee dari setiap tulisan yang diunggah di blognya mulai Rp 300 ribu hingga Rp 3 juta.

‘’Di setiap tulisan terkadang ada klien yang minta laporan rate per minggu berapa jumlah view-nya dan jumlah share ke sosial media. Terkadang ada juga klien yang kasih fee sedikit tapi selalu nuntut minta laporan. Tapi kalau nulis travelling justru paling enak. Fee-nya tinggi dan tidak perlu laporan rate,’’ tuturnya.

Setiap bulannya, Rudi mendapat pesanan lima hingga tujuh tulisan. Selain mendapat fee dari klien atas tulisannya, dia juga mendapat pemasukan dari sponsor post dan content placement yang muncul di halaman blognya. Tak jarang, Rudi juga mendapat berbagai alat elektronik.

‘’Alhamdulillah lumayan pendapatan dari nge-blog bisa mencukupi kebutuhan rumah tangga. Apalagi hadiah-hadiah dari sponsor yang dikumpulkan bisa dijual lagi,’’ tutur Siti Suharni, istrinya.

Meskipun blog miliknya telah menyumbang pendapatan, hingga kini Rudi masih enggan melakukan monetize dengan Google Adsense. Dia menuturkan, blogger harus membangun portofolio supaya blog-nya dapat terindeks Google. Tak sampai di situ, blogger juga harus memiliki akun Google Adsense dan wajib memenuhi jumlah tulisan yang ditargetkan.

Saat ini, Rudi tengah mengelola dua blog. Satu blog dikhususkan untuk pekerjaannya yang berisi berbagai macam jenis tulisan baik pesanan klien maupun karya pribadi. Serta blog lainnya tentang cara belajar Bahasa Jawa yang dikhususkan bagi netizen luar negeri. Di blog keduanya ini, Rudi tidak bermaksud untuk mengkomersilkan. ‘’Profesi blogger punya pengaruh sosial dan ekonomi yang signifikan,’’ ujarnya.

(bj/din/yan/min/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia