Kamis, 18 Jul 2019
radarbojonegoro
icon featured
Blora
Waduk Tempuran Merugikan Petani dan Atlet Day

Sebulan Lagi Diprediksi Kering Total

09 Juli 2019, 10: 55: 59 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

MENGERING: Waduk Tempuran bagian timur yang tidak ada lagi airnya. Sebab baru saja selesai perbaikan karena adanya kebocoran.

MENGERING: Waduk Tempuran bagian timur yang tidak ada lagi airnya. Sebab baru saja selesai perbaikan karena adanya kebocoran. (M. Mahfudz Muntaha/Jawa Pos Radar Blora)

Share this      

BLORA - Waduk Tempuran di Desa Tempuran, Kecamatan Blora, semakin mengering. Diprediksi sebulan lagi akan kering total. Sebab saat ini hanya menyisakan air di bagian barat waduk. Sedangkan di bagian timur sudah kering.

Operator Waduk Tempuran Giono mengatakan, air yang masih tersisa di Waduk Tempuran tinggal sedikit. Hanya menyisakan paling tidak 2 persen air baku. “Itu sekitar 200 meter kubik,” ujarnya kemarin (8/7).

Dia mengungkapkan, mulai mengeringnya Waduk Tempuran sudah sejak sebelum bulan puasa. Saat itu mulai tidak ada hujan. Selain itu tidak ada pengisian air hujan selama musim hujan lalu, karena ada perbaikan waduk di sisi timur. “Jadi tidak ada tampungan air,” ungkapnya.

Menurut dia, sisa air yang ada saat ini, diperkirakan hanya bisa bertahan paling tidak selama sebulan. “Setelah itu, jika tidak ada hujan, maka akan habis airnya,” kata dia. 

Diono menjelaskan, mengeringnya air Waduk Tempuran bakal merugikan petani di sekitarnya. Selama ini mereka mengandalkan air irigasi dari waduk tersebut. Bahkan sudah banyak petani yang tidak bisa mengairi sawahnya akibat debit air Waduk Tempuran mengering. “Sekarang tidak mampu mengairi sawah hingga luar Desa Tempuran,” ungkapnya.

Menurut dia, luas lahan pertanian yang mampu dialiri air Waduk Tempuran seluas 420 hektare (ha). Saat ini diperkirakan sudah tidak mampu menyuplai air irigasi. “Sekarang mengairi lahan 20 ha saja tidak terpenuhi,” bebernya.

Akibatnya, lanjut dia, banyak sawah di sekitar Desa Tempuran tanahnya retak-retak mengering. Sehingga tanaman padi tak bisa tumbuh. “Padi yang seharunya mulai tumbuh bulirnya, menjadi gagal tumbuh karena tidak ada air,” jelasnya.

Keringnya Waduk Tempuran juga dirasakan atlet dayung Blora. Mereka menjadi kesulitan mendapatkan area latihan. Karena selama ini Waduk Tempuran menjadi pusat latihan atlet dayung. “Airnya sangat minim. Bahkan waduk sisi timur sudah mengering. Latihan anak-anak terkendala,” ujar Pelatih Dayung Blora Sukiman.

Sedangkan di bagian barat waduk, ujar dia, memang ada tersisa air. Namun tidak bisa digunakan latihan secara maksimal. “Karena air waduk sangat dangkal,” tukasnya.

Sukiman menambahkan, mengeringnya air Waduk Tempuran berdampak pada performa atlet. Akibat tidak bisa latihan secara maksimal. Sebelumnya bisa latihan lima kali sepekan, per hari dua kali. “Yang bisa dilakukan saat ini hanya latihan fisik di tanggul waduk,” ujarnya.

(bj/fud/feb/bet/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia