Kamis, 18 Jul 2019
radarbojonegoro
icon featured
Features
Laras Pandowo, Kelompok Oklik Rerata Pelajar

Disidak Anji dan Disawer Rp 600 Ribu, Dipakai Beli Seragam

Oleh: BHAGAS DANI PURWOKO

09 Juli 2019, 15: 00: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

BUDAYA LOKAL: Personel Laras Pandowo berjoget dengan seorang pengunjung. Mereka rerata pelajar SMP.

BUDAYA LOKAL: Personel Laras Pandowo berjoget dengan seorang pengunjung. Mereka rerata pelajar SMP. (BHAGAS DANI PURWOKO/JAWA POS RADAR BOJONEGORO)

Share this      

LARAS Pandowo lahir di tengah banyaknya kelompok oklik Bojonegoro. Rerata personel masih SMP, tetapi skill dan cita rasa bermusiknya cukup bagus. Bahkan, mereka mandiri mengelola hasil ngamen.

Suara instrumen gamelan terdengar menggaung ketika car free day (CFD), Minggu (7/7). Ada tiga kelompok musik oklik bermain di seputaran Alun-Alun Bojonegoro. Tetapi, ada salah satu kelompok oklik mencuri perhatian. Memainkan musik di belakang tribun. Uniknya, berusaha menggaet pengunjung berjoget bersama.

Mereka masih anak-anak. Rerata tinggi badannya tak lebih dari 150 sentimeter (cm). Tapi, mereka lihai memainkan aneka alat musik. Jogetannya mengundang tawa. Liuk-liuk badan dan tangannya bikin bibir tersenyum.

Tertulis di banner nama kelompok okliknya, yaitu Laras Pandowo. Mereka bersembilan itu berseragam batik biru. Puluhan lagu mereka bawakan dengan apik. Beberapa pengunjung tak henti mengabadikan aksinya. Setiap personel bermain bergantian. Penabuh kenong juga bisa memainkan saron.

Arya Junianto, salah satu personel Laras Pandowo mengatakan, kelompok okliknya terbentuk Oktober 2018. Dan menggeluti musik oklik sejak 2014. Sudah kerap berganti nama kelompok lima kali. Karena itu, ia bersama teman-temannya menggunakan nama laras bermakna nada, pandowo bermakna lima.

“Kami ambil limanya saja, bukan lima anak. Karena total personel kami sebanyak 15 anak. Semuanya masih SMP. Tapi saya baru lulus tahun ini mau masuk SMA,” ucap pemain saron itu.

Ada enam alat musik yang dipakai. Saron, gendung, kuarto, kenong, gong, dan simbal. Arya, masih jadi tonggak utama saron. Setiap personel saling belajar semua alat musik yang ada. Namun, sejauh ini, belum semua temannya mampu memainkan saron.

“Baru ada satu dua anak saja bisa memainkan saron. Kalau alat perkusi rata-rata sudah bisa semua,” ujarnya.

Karena pelajar, Laras Pandowo tak ngamen tiap hari. Mereka hanya beraksi ketika malam Minggu dan Minggu pagi di CFD di alun-alun. Tak jauh dari rumahnya, di Kelurahan Ledok Wetan.

Ada salah satu pengalaman berkesan ketika ngamen. Yakni dikunjungi Anji, penyanyi papan atas. Bahkan, Anji menyawer ketika mereka memainkan musik. Arya dan teman-temannya benar-benar kaget ketika tahu bahwa Anji mampir di alun-alun, sekitar bulan lalu.

Saat itu, Laras Pandowo disuruh memainkan lagu karya Anji. Anji turun dari mobil dan memberikan uang saweran Rp 600 ribu. “Kami bersyukur banget bisa bertemu dengan Anji, uangnya kami buat membeli seragam batik,” jelasnya.

Selama ngamen, pendapatannya tak pernah jauh dari nominal Rp 300 ribu. Hasil ngamen itu dibagi dua. Setengah untuk kas dan sisanya untuk perawatan alat musik.

(bj/gas/rij/yan/min/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia