Selasa, 12 Nov 2019
radarbojonegoro
icon-featured
Bojonegoro
Kampus Harus Bersaing Mutu

Persaingan Ketat Menggaet Mahasiswa Baru

09 Juli 2019, 13: 00: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

Ilustrasi

Ilustrasi (AINUR OCHIEM/JAWA POS RADAR BOJONEGORO)

Share this      

BOJONEGORO - Irvan sedang cemas menunggu hasil pengumuman Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2019. Rencananya pengumuman SBMPTN bisa diakses hari ini (9/7).  Alumni SMAN 2 Bojonegoro ini mengincar jurusan teknik kimia di Universitas Negeri Surakarta (UNS) dan Universitas Negeri Semarang (Unnes).

Irvan optimistis bisa lolos di antara kedua pilihan itu. Kalau pun tidak lolos, ia kemungkinan mengincar jalur mandiri atau masuk ke perguruan tinggi swasta (PTS) luar kota. “Karena sejak awal saya bercita-cita jadi insinyur. Jadi saya mengejar jurusan teknik,” kata pemuda warga Kecamatan Kota itu.

Disinggung rencana kuliah di PTS di Bojonegoro, dia memastikan bukan jadi pilihannya. Karena ia menilai kecenderungan teman di sekitarnya mengejar perguruan tinggi negeri (PTN). Bahkan, beberapa temannya memilih jurusan kuliah berdasarkan rendahnya peminat, agar bisa lolos PTN.

“Jurusan apapun disikat, asal bisa masuk PTN. Kalau pun gagal cari PTS tapi tetap di luar kota,” ujar dia.

Hal serupa dikatakan Afif. Bahwa kuliah S-1 sudah seperti keharusan. Dia tak ingin melewatkan kesempatan bisa masuk ke PTN favorit. Afif mengincar Universitas Brawijaya (UB). Jurusan hukum dan sastra Inggris. Disinggung terkait PTS Bojonegoro, ia pun belum ada rencana untuk menjajal berkuliah di tanah kelahirannya. “Semoga bisa lolos SBMPTN dulu,” katanya.

Fenomena di atas menunjukkan PTS harus berbenah. Sebab, perebutan mahasiswa baru (maba) di kampus-kampus cukup terasa. Sebanyak 15 PTS di Bojonegoro bersaing menjaring mahasiswa baru. Karena beberapa PTS itu juga membuka jurusan yang sama.

Diperlukan unjuk kualitas lulusan yang sudah terbukti bisa berkarir sesuai jurusannya. Namun, sasaran PTS di Bojonegoro didominasi masyarakat dengan status ekonomi menengah ke bawah. Sedangkan, ekonomi menengah ke atas cenderung incar PTN.

Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Bojonegoro (Aspertib) Hasan Bisri mengakui, kampus-kampus di kota besar lebih memikat dibanding PTS di Bojonegoro. Tetapi, menurutnya masyarakat Bojonegoro kelas menengah ke bawah juga banyak memercayakan anaknya berkuliah di salah satu PTS Bojonegoro.

“Kampus di Bojonegoro memiliki pangsa pasarnya sendiri. Terbukti PTS baru juga terus tumbuh, jadi persaingan juga semakin ketat,” jelasnya.

Dia menambahkan, belum semua PTS bergabung di Aspertib. Baru sembilan PTS, sisanya PTS baru. Menurutnya, secara kelembagaan harus semakin dikuatkan dari sisi kualitas sarana prasarana, pendidik, lulusan, dan sebagainya.

Terbukti secara peringkat se-Jawa Timur, PTS di Bojonegoro tergolong terus meningkat. “Aspertib tentu sangat mendorong agar bersama-sama meningkatkan mutu pendidikan perguruan tinggi,” ujar pria juga Ketua Stikes Icsada Bojonegoro itu.

Pilihan jurusan juga mulai beragam. Banyak PTS juga mulai berproses membuka jurusan baru. Sehingga, ke depannya PTS Bojonegoro tak kalah bersaing dengan PTS dari kota-kota besar.

Setidaknya bisa menjawab segala tantangan di dunia profesi, kerja, dan keterampilan.

Endina memilih kampus di Bojonegoro, daripada harus kuliah luar kota. Sebab, orang tuanya tidak tega dia harus kuliah di luar kota. Karena itu, dia bersemangat belajar di kota kelahirannya.

“Jadi keputusan kuliah di Bojonegoro sedikit terpaksa. Tapi mau bagaimana lagi, saya kan anak terakhir. Jadi tidak diperbolehkan jauh-jauh dari rumah,” ucap dara asal Desa Sranak, Kecamatan Trucuk itu. (bgs/rij)

(bj/gas/rij/yan/min/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia