Kamis, 18 Jul 2019
radarbojonegoro
icon featured
Hukum & Kriminal

Guru Cabul Diberhentikan Mengajar

05 Juli 2019, 11: 55: 59 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

TERSANGKA PENCABULAN: SP, guru SD di Kecamatan Kedungpring yang dilaporkan dua korban melakukan pencabulan dikawal petugas Polres Lamongan kemarin (4/7).

TERSANGKA PENCABULAN: SP, guru SD di Kecamatan Kedungpring yang dilaporkan dua korban melakukan pencabulan dikawal petugas Polres Lamongan kemarin (4/7). (Anjar D. Pradipta/Jawa Pos Radar Lamongan)

Share this      

LAMONGAN – Dinas Pendidikan (Disdik) Lamongan menyayangkan adanya kasus asusila yang dilakukan seorang guru SD di Kecamatan Kedungpring. Kepala Disdik Lamongan, Adi Suwito, mengatakan, SP, 42, nama guru yang dilaporkan melakukan pencabulan, diberhentikan lebih dulu. 

Dia menyerahkan sepenuhnya kasus tersebut ditangani pihak berwajib. ‘’Karena guru tersebut statusnya PNS, jadi ada tahapan terlebih dahulu. Serta menunggu sidang berlangsung,’’ ujarnya saat dihubungi kemarin (4/7).

Menurut dia, bila nantinya ada keputusan hukum tetap, maka disdik bakal memberikan kebijakan lagi. Nantinya, disdik juga berkoordinasi dengan bagian hukum, inspektorak, dan BPKAD. 

Dari kejadian tersebut, Adi meminta semua kepala sekolah lebih dekat dengan siswanya. Sehingga, mengetahui keganjilan yang ada atau keluhan muridnya. Jangan sampai kejadian terus berlanjut hingga lama baru diketahui. 

‘’Saya kira orang tua juga turut serta melakukan pendekatan kepada anaknya pada saat di rumah agar mengetahui keluh kesah anaknya saat belajar di sekolah,’’ imbuhnya.

Seperti diberitakan, SP, 42, inisial guru asal Kecamatan Kedungpring dilaporkan karena diduga mencabuli siswa SD-nya, R, 11. Pelapor kasus itu Agus S, 48, wali murid R. Dia mendengarkan penjelasan bahwa anaknya dan sejumlah teman lainnya diperlakukan tidak senonoh. Perlakuan itu sebagian diterapkan kepada siswa yang tidak bisa mengerjakan tugas. 

 ‘’Setelah saya tanya, kejadian tersebut mulai bulan Oktober sampai Desember 2018. Hampir setiap hari,’’ klaimnya.

Menurut dia, para korban telah diancam pelaku. Mereka tidak boleh menceritakan perbuatan pelaku kepada orang lain. Korban juga diancam bakal diberi nilai jelek dan tak naik kelas. ‘’Setelah bercerita, anak saya yang paling parah sendiri,’’ imbuhnya 

Sementara itu, kemarin (4/7) Polres Lamongan menaikkan status SP dari pelaku menjadi tersangka. Polres juga berencana memeriksakan tersangka ke psikolog.

‘’Rencana saya dan anggota akan melakukan pemeriksaan psikologis tersangka ke Surabaya apakah mempunyai kelainan atau lainnya. Tunggu hasil pemeriksaan nantinya,’’ pinta Kasatreskrim Polres Lamongan, AKP Norman Wahyu Hidayat. 

Korban yang melaporkan kasus  ini bertambah. Kali ini, keluarga Za, 11, juga  asal  Kecamatan Kedungpring. ‘’Meskipun banyak yang menjadi korban, namun masih dua korban yang melaporkan ke Polres Lamongan,’’ imbuh Norman.

Korban aksi tersangka tidak hanya siswi, juga siswa. Tersangka melakukan aksi tak terpujinya di rumah, ruang perpustakaan, dan aula sekolah. 

Menurut Norman, tersangka telah membujuk dan merayu siswanya agar mau menuruti kemauannya. Tersangka menjanjikan nilai bagus. Bagi siswa yang tak mau menuruti kemauannya, maka diancam diberi nilai jelek.

Tersangka dijerat pasal 82 ayat 2 UU RI No 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI No 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak jo pasal 65 KUHP. Ancaman hukumannya, minimal 5 tahun penjara dan maksimal 15 tahun atau denda Rp 5 miliar.

Sementara itu, SP di hadpaan petugas mengatakan, dirinya melakukan perbuatan tak senonoh itu kepada muridnya sebagai hukuman tak bisa mengerjakan soal atau lainnya. 

‘’Saya memang melakukan terhadap dua anak tersebut. Untuk semuanya yang membuat surat pernyataan, tidak,’’ akunya. 

(bj/mal/yan/bet/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia