Senin, 17 Feb 2020
radarbojonegoro
icon featured
Bojonegoro
Sebanyak 488 Embung Sudah Kering

Hanya Tersisa 25 Embung, Ancaman Petani

05 Juli 2019, 11: 40: 41 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

TAK ADA AIR: Embung di Desa Pekuwon, Kecamatan Sumberrejo, ini sudah kering. Irigasi pertanian pun berhenti.

TAK ADA AIR: Embung di Desa Pekuwon, Kecamatan Sumberrejo, ini sudah kering. Irigasi pertanian pun berhenti. (Bhagas Dani Purwoko/Jawa Pos Radar Bojonegoro)

Share this      

BOJONEGORO - Krisis air berpotensi menghantui sebagian besar petani saat bertanam di musim kemarau ini. Sebanyak 513 embung se-Bojonegoro, hanya 25 embung saja yang masih ada airnya. Tentu, angka yang mengkhawatirkan jika selama kemarau bercocok tanam.

Dan 25 embung yang masih ada airnya itu hanya 12 dari 28 kecamatan se-Bojonegoro. Apalagi, prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), cuaca kemarau tahun ini berlangsung panjang. Tentu, kondisi ini membuat cemas petani.

Kepala Desa Papringan, Kecamatan Temayang Gunari menerangkan, bahwa di daerahnya ada dua embung juga dilanda kekeringan. Salah satu embung masih ada air sedikit, tapi sedang dinormalisasi. 

Dampak dari keringnya embung memang selalu dirasakan tiap musim kemarau. Sekitar 30 hektare lahan pertanian di desanya pun hanya bisa gigit jari. “Sejak Mei lalu sudah pasti air disedot para petani secara rebutan, karena memang selalu, kami pun sedang mengusahakan pengadaan program pamsimas (penyediaan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat), tapi belum tahu kapan akan dibangun,” pungkasnya.

Sementara itu 25 embung yang masih ada airnya, di antaranya di Kecamatan Purwosari, Gondang, Sumberrejo, Kedungadem, dan Baureno. Serta, Kecamatan Padangan, Dander, Kapas, Balen, Kepohbaru, Sugihwaras, dan Temayang.

“Karena kemarau panjang, 95 persen embung yang ada di Bojonegoro mengalami kekeringan,” kata Kepala Seksi (Kasi) Pemanfaatan Air Baku Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air (DPU SDA) Bojonegoro Dodi Sigit Wijaya.

Terkait keringnya embung tersebut, pihaknya menargetkan 35 titik dilakukan normalisasi. Menurutnya, pihak desa sebenarnya bisa mengantisipasi kekeringan dengan melakukan pemeliharaan secara optimal. 

Tetapi, kalau sudah kemarau panjang seperti sekarang ini rasanya sulit ditepis kekeringan tersebut. “Tanaman-tanaman di sekitar embung harus dipapras, karena beberapa tanaman itu terlalu banyak menyerap air atau tanaman yang mengakibatkan tanah longsor karena terlalu besar,” ujarnya.

Ia mengatakan, saat ini sudah delapan embung yang dinormalisasi. Dan proses normalisasi di empat titik embung. Di antaranya di Desa Mlidek, Kecamatan Kedungadem; Desa Samberan, Kecamatan Kanor; Desa Kumpulrejo, Kecamatan Kapas; dan Desa Papringan, Kecamatan Temayang. Normalisasi embung juga telah dianggarkan senilai Rp 1,8 miliar.

“Antrean normalisasi masih panjang, selalu ada permohonan proposal dari banyak desa. Jadi mohon bersabar,” ujarnya.

(bj/gas/rij/bet/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia