Minggu, 15 Dec 2019
radarbojonegoro
icon featured
Hukum & Kriminal

Dibantah, Status Cagar Budaya RS Migas

04 Juli 2019, 11: 55: 59 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

DIRATAKAN: Bangunan di RS Migas yang mulai diratakan untuk proses pembangunan tahun ini.

DIRATAKAN: Bangunan di RS Migas yang mulai diratakan untuk proses pembangunan tahun ini. (M.Mahfudz Muntaha/Jawa Pos Radar Blora)

Share this      

CEPU - Tuduhan atas penghilangan cagar budaya di Rumah Sakit (RS) Migas Cepu dibantah oleh Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Migas. Pasalnya, sampai proses pembangunan RS tersebut, tidak pernah ada pemberitahuan dari Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Blora atau pihak terkait atas penetapan RS di Jalan Diponegoro itu berstatus cagar budaya. 

Menurut Humas PPSDM Migas Nurchalim, atas dasar itu, proses pembangunannya terus dilanjutkan. Bahkan hingga kemarin (3/7) proses pembongkaran sudah dilakukan di beberapa titik bangunan. Menurut pihak PPSDM, bangunan itu bukan termasuk bagian dari cagar budaya, karena dibangun pada 1994. “Itu bangunan kita sendiri mas,” ujarnya.

Selain itu, lanjut Halim, sapaannya, pembangunan RS Migas juga sudah dilelang sesuai dengan prosedur. “Cagar budayanya masih. Yakni rumah koramil di kompleks RS masih utuh,” ungkapnya.

Dia mengungkapkan, meski ada yang mengatakan RS Migas berstatus cagar budaya, tapi tidak pernah ada daftarnya. Mana saja bangunan yang termasuk cagar budaya. Sedangkan untuk rumah panggung di sebelah RS menurutnya juga masih ada. 

Kasubbag Kepegawaian dan Umum PPSDM Migas Arisona menambahkan, tidak ada dokumen yang mengatakan RS Migas berstatus cagar budaya. Selain itu pihaknya juga tidak pernah diajak berkomunikasi atas penetapannya menjadi cagar budaya di Blora. “Jadi belum ada,” jelasnya.

Menurut dia, pihaknya justru bertanya-tanya, pihak mana yang telah mengusulkan bangunan RS Migas itu masuk cagar budaya. “Kalau pun ada benda cagar budaya, mungkin bagian tertentu saja. Tidak secara total. Hanya renovasi saja,” tandasnya.

Terkait hal itu, pihaknya akan berkoordinasi dengan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB). Apabila benar ada cagar budaya, dimungkinkan dibangun, supaya lebih bermanfaat dan terurus.

Sementara itu, tambah dia, pembangunan RS harus terus berjalan. Agar masyarakat juga segera mendapat pelayanan kesehatan. “Target kita Oktober atau November mendatang selesai,” tandasnya.

Terpisah, Kepala Dinporabudpar Slamet Pamuji mengatakan, terkait status RS Migas pihaknya akan melihat lagi, persis seperti apa. Sebab data dari dinporabudpar, sejak 2005 sampai 2010 RS Migas menjadi potensi cagar budaya, menunjukkan bangunannya sudah banyak berubah. “Terus untuk apa mempertahankan bangunan yang sudah banyak berubah,” jelasnya.

Namun, pihaknya tetap akan melakukan kajian lagi atas RS Migas.

Sementara itu pihak Forum Peduli Sejarah Budaya Blora (FPSBB) yang menilai terjadi penghilangan cagar budaya RS Migas, tak memberikan tanggapan terhadap bantahan  pihak PPSDM Migas. Saat dikonfirmasi melalui telepon, terus dialihkan.

(bj/fud/feb/bet/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia