alexametrics
Minggu, 16 May 2021
radarbojonegoro
icon-featured
Bojonegoro
Akibat Sering Lihat Konten Porno

Candu HP, Empat Anak Berbuat Asusila

04 Juli 2019, 11: 35: 59 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

Ilustrasi Kecanduan HP

Ilustrasi Kecanduan HP (Ainur Ochiem/Jawa Pos Radar Bojonegoro)

Share this      

BOJONEGORO - Anak-anak kecanduan handphone (HP) atau gawai di Bojonegoro ternyata sudah darurat. Fakta baru terungkap, bahwa ada empat anak hingga terjerembab tindakan kriminal akibat candu HP.

Empat anak itu nekat melakukan persetubuhan. Berdasar hasil pemeriksaan, ternyata empat anak (perkara secara terpisah) itu melakukan tindakan asusila akibat sering melihat konten porno lewat gawai. Sementara, satu anak melakukan tindakan pencabulan. Lima anak tersebut masih berstatus siswa.

Berdasar data dari Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) Bojonegoro, lima anak tersebut hingga berurusan dengan hukum akibat kecanduan HP. Sering utak-atik HP tanpa pengawasan orang tua. 

“Padahal, secara nafsu seharusnya mereka belum tahu. Akibat-akibat kecanduan gadget (HP) sering kali dampaknya negatif,” kata Staf P3A Bojonegoro Indriyanti Agustina Putri kemarin (3/7).

Dia mengatakan, tersangka anak yang melakukan persetubuhan rerata sering melihat konten pornografi lewat gawai. Parahnya hingga mempraktikkannya. “Mereka pacaran dan kelewat batas melakukan hubungan suami istri,” ujarnya.

Dia menjelaskan, bermula candu gawai, tersangka yang masih kategori anak-anak tidak bisa dipungkiri bisa berbuat persetubuhan. Usia keempat anak tersebut berkisar antara 13 hingga 15 tahun. 

Dia menerangkan, kadang-kadang anak tidak tahu dampak perbuatannya dan hanya ingin melakukan apa yang dia lihat di gawai. Merebaknya tindak asusila yang dilakukan anak di bawah umur mengacu pada penggunaan internet di luar pengawasan orang tua. 

Sementara itu, berdasarkan data Badan Pemasyarakatan (Bapas) Bojonegoro, pada 2019 ada empat kasus tindak asusila. Meliputi, dua kasus persetubuhan dilakukan anak SMA, satu kasus pencabulan dilakukan anak SMA dengan korban anak SMP, dan satu kasus terjerat pasal penelantaran anak. Dilakukan perempuan baru tamat SMP. 

Kasubsi Bimbingan Klien Anak Bapas Purbaradix Saunan mengatakan, faktor utama anak-anak berkeinginan melakukan tindak asusila karena pengaruh situs internet berkonten negatif. 

Banyaknya konten negatif dan ketermudahan akses internet bagi anak-anak sekarang menjadi momok untuk orang tua. “Orang tua bekerja, tinggal bersama neneknya saja. Dan tidak ada yang mengawasi penggunaan gadget,” ucapnya ditemui di kantornya.

Orang tua yang tidak membatasi anak mengakses internet baik itu melalui komputer maupun gawai, bisa menyebabkan anak melihat dan sengaja mencari konten negatif. “Bahkan, ada kasus anak SD di handphone banyak film-film berkonten pornografi,” terangnya.

Selain membatasi candu gadget, kata Purba, upaya lainnya menerapkan perilaku disiplin. Anak-anak hingga remaja saat ini sudah mulai longgar dengan adanya jam malam. 

Menurutnya, setiap tahun kasus persetubuhan maupun pencabulan anak selalu naik. “Tidak ada sejarah kasus asusila turun. Di Bojonegoro juga demikian. Ada kasus anak sudah melakukan sebanyak 41 kali persetubuhan, ada yang sampai 70 kali. Di pengadilan mengaku,” katanya.

Apalagi saat ini banyak warung kopi dengan pelanggan anak-anak bebas mengakses internet melalui wifi yang disediakan. Anak yang melakukan tindak asusila biasanya anak dengan minim perhatian dari orang tua. “Betul jika kita katakan sekarang internet merusak bangsa,” ujarnya.

Berdasarkan Undang-Undang (UU) Nomor 11 Tahun 2012 tentang sistem peradilan pidana anak (SPPA), anak dengan umur kurang dari 12 tahun tidak dapat berhadapan dengan hukum. Sementara ada penyelesaian khusus untuk anak di bawah umur. Sedangkan anak yang berkonflik dengan hukum adalah anak yang telah berumur 12 tahun, tetapi belum berumur 18 tahun.

(bj/rij/cs /bet/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news