Rabu, 13 Nov 2019
radarbojonegoro
icon featured
Tuban
Dikhawatirkan Berdampak pada Kualitas Fisikny

Banyak Proyek Ditawar Tak Wajar

26 Juni 2019, 14: 00: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

Ilustrasi

Ilustrasi (AINUR OCHIEM/JAWA POS RADAR BOJONEGORO)

Share this      

TUBAN – Proses lelang sejumlah proyek di Pemkab Tuban ditengarai banyak yang tak wajar. Sebab, banyak ditemukan pemenang tender dengan penawaran yang cukup ‘’berani’’ terlalu rendah dari nilai pagu.

Berdasarkan data yang dihimpun Jawa Pos Radar Tuban, sejumlah pemenang proyek penawarannya turun 30 persen dari pagu. Bahkan, tidak sedikit yang lebih rendah lagi. Turunnya penawaran yang terjun bebas tersebut dikhawatirkan berpengaruh terhadap kualitas proyek.

Proyek peningkatan jalan Punggulrejo-Kedungrejo, Kecamatan Rengel, misalnya. Proyek senilai Rp 5 miliar tersebut dimenangkan salah satu rekanan yang cukup berani. Dia mematok penurunan angka penawaran 30 persen lebih dari nilai pagu. Begitu juga dengan proyek pembangunan kantor Kecamatan Semanding. Informasi yang diterima wartawan koran ini, proyek dengan nilai pagu sekitar Rp 2,9 miliar itu ditawar turun hingga 28 persen. Termasuk sejumlah proyek lain yang ditengarai ditawar terlalu murah.

Kabag Pengadaan Barang Jasa dan Administrasi Pembangunan Setda Tuban Agung Supriyadi membenarkan, penawaran sejumlah proyek mencapai 30 persen dari nilai pagu. Termasuk dua proyek bernilai miliaran yang disebutkann di atas. ‘’Ya, ada yang sampai 30 persen, dan 28 persen,’’ katanya kemarin (25/6).

Pemenang proyek, kata dia, bukan tugas dan tanggung jawabnya. ''Itu  tanggung jawab PPK (pejabat pembuat komitmen) di masing-masing OPD,’’ ujarnya.

Koordinator Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) Jatim Dakelan menyampaikan, dengan adanya e-Procurement, kini lelang proyek bisa dilakukan secara terbuka. Sehingga, persaingan pemenang proyek bisa lebih fair. Namun demikian, diakui Dakelan, belum sepenuhnya proses lelang berjalan sebagaimana yang diharapkan. Sebab, masih ada sebagian pejabat yang ''bermain'' dalam proses lelang. ‘’Bagi kami tidak masalah (penawaran rendah, Red), tapi harus transparan dan benar-benar memenuhi kualifikasi yang dibutuhkan. Jangan hanya asal rendah saja,’’ katanya.

Artinya, lanjut Dakelan, tim pelelangan harus benar-benar jeli dalam menyeleksi pemenang lelang. Misalnya, apakah penawaran yang diajukan itu bener-benar realistis. Memenuhi spesifikasi dan kualifikasi yang dibutuhkan. Dan, tak kalah pentingnya adalah tim pelelangan juga harus mengetahui track record dari masing-masing kontraktor.

‘’Jangan-jangan, di tengah perjalanan nanti tidak sanggup menyelesaikan proyeknya, karena penawarannya yang terlalu rendah, sehingga tidak bisa memenuhi standar yang dibutuhkan,’’ ujar mantan aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) itu.

Ditegaskan Dakelan, satu hal yang paling dikhawatirkan dengan  penawaran yang terlalu rendah adalah kualitas bangunan yang tidak bagus. Karena itu, menurut dia, tim pelelangan harus benar-benar jeli. Apakah penawaran yang rendah itu hanya agar menang atau memang benar-benar realistis. ‘’Karena  dikhawatirkan dalam perjalannya mereka (pemanang lelang dengan penawaran rendah, Red) menurunkan kualitas fisiknya agar untungnya tetap sama. Inilah yang harus diantisipasi agar jangan sampai terjadi,’’ tegasnya.

Dakelan tidak mengungkapkan contoh kasus proyek gagal akibat penawaran yang terlalu rendah. Dia hanya mengisyaratkan banyaknya proyek baru yang mudah rusak dan patut dicurigai akibat penurunan kualitas. Dan, tentu saja tidak sesuai spesifikasi. ‘’Kita lihat saja, sekarang banyak proyek baru yang cepat rusak dan membutuhkan perawatan. Padahal, baru dibangun,'' kata dia.

(bj/tok/ds/yan/min/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia