Kamis, 18 Jul 2019
radarbojonegoro
icon featured
Bojonegoro

51 Perempuan Bersaing Kursi Kades

26 Juni 2019, 12: 15: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

SUARA WANITA: Dua perempuan di Kecamatan Sekar, ikut bersaing pilkades.

SUARA WANITA: Dua perempuan di Kecamatan Sekar, ikut bersaing pilkades. (MUHAMMAD SUAEB/JAWA POS RADAR BOJONEGORO)

Share this      

GELARAN pilkades serentak di 154 desa, ternyata ada sekitar 51 calon kepala desa (cakades) perempuan. Angka ini menunjukkan partisipasi perempuan ikut merebut jabatan pemerintahan yang strategis mulai tumbuh.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Bojonegoro Faishol Ahmadi memastikan calon perempuan saat ini jumlahnya 51 dari 397 cakades. Jumlah tersebut membuktikan partisipasi perempuan ikut mengambil peran membangun desa. “Cakades perempuan banyak,” katanya.

Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Bojonegoro (Unigoro) Rupiarsieh mengatakan, banyaknya cakades wanita dalam pilkades kali ini disebabkan adanya kesempatan dan juga berkaitan pesta demokrasi beberapa waktu sebelumnya.

“Mereka merasa telah melihat dan mampu memasuki ranah yang didominasi pria. Dan juga percaya akan kemampuannya melebihi para pesaing,” jelasnya.

Fenomena ini masih berkaitan dengan pemilihan kepala daerah (pilkada) hingga pemilihan legislatif (pileg). Terlebih, Bupati Bojonegoro juga seorang perempuan. Sehingga, mereka ingin memanfaatkan kesempatan, meski berhasil lolos ataupun tidak.

“Hal ini menjadi motivasi tersendiri bagi mereka. Ingin menunjukkan kemampuan dan kelebihan yang dimiliki,” jelasnya.

Nafidatul Himah, aktivis dari Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Bojonegoro mengungkapkan, saat ini kaum hawa sudah mulai melek politik. Terbukti banyak cakades perempuan berani bertarung pilkades.

Himah sangat berharap para calon perempuan bisa berkampanye dengan santun untuk menarik hati pemilih. Dan jika terpilih bisa menjadi kades amanah. Para perempuan nantinya juga harus peka dengan keterbukaan anggaran, program, dan keterlibatan masyarakat harus diutamakan.

Isu seperti kekerasan perempuan anak, angka kematian ibu bayi, dan sebagainya juga harus dikawal secara optimal. “Kapabilitas dan kapasitas perempuan yang terpilih semoga bisa memberikan dampak bagus bagi desa,” tegasnya. (msu/bgs/dny/rij)

(bj/msu/gas/dny/rij/yan/min/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia